Biola RismaWanda

Biola RismaWanda
34


__ADS_3

"Sudahlah, jangan pikirkan siapa pemilik gedung ini. Karena tidak ada hasilnya jika kamu pikirkan," kata Yudha saat melihat Risma terdiam sejak ia bilang, kalau gedung itu adalah milik papanya.


"Ternyata kamu adalah anak orang yang sangat kaya ya, Yud."


"Lumayan jugalah. Tapi sayangnya, aku hanya anak orang kaya saja. Tidak kaya seperti orang tuaku," kata Yudha sambil melihat ke depan.


"Apa bedanya kekayaan kamu dengan kekayaan orang tuamu, Yud? Toh kamu juga akan kaya jika orang tuamu kaya."


"Tidak Risma. Jika orang tuaku kaya, itu adalah kekayaan orang tuaku, bukan kekayaan aku. Karena yang berkerja keras orang tuaku, bukan aku. Sangat miris sekali jika aku merasa kaya dengan kekayaan yang orang tuaku miliki."


Risma terdiam, matanya memandang lurus ke depan. Benaknya mencoba mencerna apa yang sedang Yudha katakan.


Perlahan tapi pasti, Risma bisa memahami apa yang Yudha maksud. Risma merasakan, kalau Yudha sangat berbeda dengan anak-anak orang kaya yang ada di luar sana.


Mereka sangat bangga dan sombong dengan kekayaan yang orang tua mereka miliki.


Diam-diam, Risma menyimpan rasa kagum pada Yudha. Sedikit demi sedikit, ia mulai merasakan kenyamanan dan kehangatan yang telah lama hilang.

__ADS_1


.....


Setelah tiga hari tiga malam, perlombaan terus berlangsung. Kini, perlombaan telah berakhir. Malam ini adalah malam penutup sekaligus malam pengumuman pemenang lomba.


Risma sedang sibuk bersiap-siap dengan baju yang telah disediakan oleh panita perlombaan.


Katanya, malam ini adalah malam spesial bagi semua peserta lomba. Jadi, semua pakaian peserta lomba, panitia yang menyiapkan.


Risma melihat wajahnya di depan cermin yang berukuran sedang itu. Ia tersenyum puas saat melihat wajah cantiknya dari dalam cermin tersebut.


"Ayo Risma! Jangan jadi manusia bodoh lagi kedepannya. Kamu tidak berhak bersedih lagi. Apa lagi karena cowok sampah itu. Dia bukan teman, dia juga bukan musuh. Jadi kamu tidak perlu memikirkannya lagi mulai dari detik ini dan seterusnya," kata Risma sambil berbicara pada dirinya yang sedang terlihat di dalam cermin itu.


"Malam ini adalah malam yang spesial. Aku tidak akan merusak malam ini. Sekalipun, cowok sampah itu memainkan biolanya seperti apapun. Aku tidak akan memikirkannya lagi," kata Risma lagi sambil menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan.


Pintu kamar Risma diketuk oleh seseorang dari luar.


"Ris, udah siap belum sih? Bentar lagi acara akan dimulai lho," kata suara dibalik pintu kamar.

__ADS_1


"Bentar Yud, aku udah selesai kok," kata Risma sambil berjalan cepat untuk membuka pintu.


"Ayo berangkat sekarang!" ajak Yudha tanpa basa-basi lagi.


"Buru-buru amat sih. Orang waktunya masih ada tiga puluh menitan lagi," kata Risma sambil manyun akibat Yudha yang buru-buru.


"Yah, kita itu gak langsung sampai lho, Buk Risma. Kita ini masih harus lewat jalan raya yang mungkin akan macet nantinya," kata Yudha sambil mencubit pelan hidung Risma.


"Ih, sakit tahu. Kamu apa-apaan sih, main cubi-cubi aja. Nanti dandanan aku yang cantik ini bisa rusak karena kamu cubit. Lagian nih ya, masa cantik begini kamu bilang ibuk sih. Gak punya matanya?"


"Siapa bilang gak punya mata, gak lihat nih, nih mata aku," kata Yudha sambil menunjukkan matanya dengan jari telunjuk.


Mereka berdua terus bercanda sambil tertawa bahagia. Tanpa mereka sadari, di seberang sana, ada sepasang mata yang sejak tadi telah memperhatikan mereka berdua.


Mata yang memancarkan kesedihan saat melihat kedekatan Yudha dan Risma. Apalagi saat melihat Risma sangat bahagia bersama Yudha.


"Kenapa aku merasa sakit ketika melihat kamu bahagia bersama cowok lain, Ris? Harusnya aku juga bahagia, ketika melihat kamu bahagia," kata Awanda dari kejauhan.

__ADS_1


Ya, sepasang mata yang memperhatikan Risma dan Yudha adalah Awanda. Ia awalnya ingin menemui Risma untuk mengatakan, kalau malam ini ia ingin Risma berangkat bersamanya.


Tapi ia mengurung niatnya karena melihat Yudha sampai duluan di kamar Risma. Ia tidak mungkin menghampiri Risma saat Yudha ada di sana. Apalagi saat melihat Risma dan Yudha begitu dekat sekarang.


__ADS_2