
Semua yang ada di sana ikut merasakan kesedihan yang Yudha ciptakan. Termasuk pembawa acara yang sedari tadi ceria, kini berubah sedih.
Sedangkan pak Tirta dan Awanda. Mereka punya ekspresi dan tanggapan yang berbeda dari penjelasan Yudha.
Pak Tirta merasa sangat bingung dengan penjelasan Yudha. Karena ia tidak tahu, sahabat yang mana yang telah tiada. Yang pak Tirta tahu, mereka memang hanya bermain berdua saja.
Sedangkan Awanda, ia merasa marah dan kesal dengan apa yang Yudha katakan. Karena ia tahu, kalau Yudha pasti tahu masalah antara dia dan Risma.
Lagian, ia sudah cukup merasa terpukul, saat Risma bilang, kalau sahabatnya telah tiada. Padahal, kenyataannya, sahabat yang Risma maksud pastilah dirinya.
"Maafkan saya karena telah membuka luka lama di hati kalian berdua. Saya tidak bermaksud untuk membuat kalian bersedih," kata pembawa acara itu penuh sesal.
"Tidak masalah, kami yakin kalau teman kami pasti sedang melihat kebahagiaan yang kami raih saat ini," kata Yudha dengan senyum optimis di bibirnya.
Yudha dan Risma di persilahkan untuk turun, karena tidak ada pertanyaan lagi yang ingin ditanyakan padanya.
Dengan turunnya raja dan ratu, maka acara itu pun resmi ditutup. Pembawa acara pun menutup dan membubarkan semua hadirin dengan hormat.
Pak Tirta yang bingung, dengan cepat menghampiri kedua muridnya.
"Apa yang kamu katakan di atas panggung tadi Yudha? Siapa sahabat yang kamu maksud?"
__ADS_1
"Itu ... itu hanya pura-pura saja pak. Orangkita menamainya dengan nama yang iseng-iseng aja kok. Iyakan Ris?"
"Iy, iya pak. Apa yang Yudha katakan itu benar. Kita hanya sembarang menamakan. Makanya, kita tidak tahu mau jawab apa. Jadi, kita bohong aja deh."
"Risma! Aku ingin bicara," kata Awanda sambil memegang tangan Risma.
"Apaan sih? Lepaskan tanganku, aku tidak ingin bicara dengan kamu. Aku ingin pulang sekarang. Kamu gak lihat ini sudah malam."
"Tapi Ris, sebentar saja. Kamu bisa pulang bareng aku agar kita bisa bicara dalam mobil."
"Maaf anak muda. Kamu tidak bisa membawa murid saya sembarangan. Karena murid saya di sini adalah tangung jawab saya," kata pak Tirta dengan sangat tegas.
"Aku gak pernah merasa kalau kita ini berteman, Awanda. Kamu jangan sok akrab denganku seperti ini."
"Tapi Ris ...."
"Tidak ada kata tapi. Aku ingin segera pulang.
Ayo pak, kita pulang sekarang saja," kata Risma mengajak pak Tirta untuk pulang. Ia juga menarik tangan Yudha untuk membawa temannya pulang.
Awanda tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa melihat punggung Risma yang berjalan semakin menjauh.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah benci aku sekarang, Ris? Sampai-sampai, kamu bilang tidak kenal padaku di depan guru dan teman mu."
"Ada apa kak Awan? Siapa yang tidak kenal dengan kak Awan?" tanya Maya yang tiba-tiba datang.
"Tidak ada. Ayo kita pulang sekarang!"
....
Risma benar-benar memantapkan hatinya untuk memutuskan hubungannya dengan Awanda. Karena ia tidak ingin menyakiti hatinya lagi, hanya karena sebuah harapan yang pada akhirnya, hanya akan mengecewakan.
Saat mereka pulang, Risma tidak mengucapakan salam perpisahan sedikitpun pada Awanda.
Ia benar-benar mengabaikan keberadaan Awanda saat ini. Cowok yang awalnya ia nantikan selama hampir tiga tahun, tapi tidak butuh waktu lama untuk melupakan.
Jika hati yang tersakiti, cinta yang tertanam selama bertahun-tahun akan sirna dalam sekejap mata.
Awanda yang berusaha mencari kesempatan untuk meluruskan masalah yang tercipta antara dia dan Risma, kini harus menelan rasa kecewa akibat diabaikan.
Saat Awanda ingin mengucapkan salam perpisahan, kamar hotel yang menjadi kamar Risma beberapa hari ini, telah kosong tanpa penghuni. Risma sudah meninggalkan kamar itu sejak tadi pagi.
"Risma, ternyata, kamu benar-benar marah padaku. Aku minta maaf untuk semua waktumu yang telah terbuang hanya karena menantikan kehadiranku. Aku harap, kamu bisa memaafkan aku," kata Awanda sambil melihat pintu kamar yang telah tertutup rapat tanpa penghuni.
__ADS_1