
"Aku rasa, gadis itu punya kesedihan di masa lalu. Sehingga ia terlihat begitu memdalami dan mampu membuat orang lain ikut merasakan apa yang ia rasakan."
"Ah, sudahlah. Jangan banyak berpikir soal gadis itu. Kalian gak lihat aja bagaimana jika pacarku yang memainkan biola itu, pasti akan sangat bagus dari pada gadis tadi," ucap Maya dengan nada sombong yang selalu melekat di dirinya.
"Pacar kamu yang bernama Awan itu ya, May?"
"Ya iyalah, siapa lagi?" kata Maya dengan nada yang masih saja tinggi.
"Aku dengar, pacar kamu itu sangat mahir bermain biola, dan ia juga sangat tampan bukan?"
"Jelaslah, kalian gak lihat gimana pacarku ketika bermain biola. Ia terlihat sangat mempesona dan tidak bisa kalian mengalihkan mata kalian darinya."
"Oh iya, aku dengan, gadis itu menamakan permainan biolanya dengan nama, biola Rismawanda. Apa kalian tidak merasa aneh dengan nada itu?" kata salah satu teman Maya yang tiba-tiba ingat apa yang juri ucapkan.
"Apanya yang aneh? Aku rasa tidak ada yang aneh dengan namanya," kata salah satu yang lain lagi.
Sementara itu, Risma masih berada di depan pintu toilet. Ia merasa engan untuk menerobos masuk kedalam toilet itu. Karna ia tidak ingin merusak pembicaraan para gadis yang sedang bergosip ria di dalam toilet sekolah.
Sedangkan di sisi lain, di parkiran sekolah. Yudha dan yang lainnya sedang menunggu kedatangan Risma yang sudah lama pergi ketoilet.
"Yud, kok lama banget ya, Risma nya. Apa yang terjadi sih?" kata pak Tirta sudah mulai lelah menunggu.
__ADS_1
"Gak tahu pak. Apa sebaiknya, saya susul aja, Risma nya ya pak?"
"Iya, sebaiknya kamu susul aja. Takutnya, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada Risma di sana."
Yudha mengangguk, lalu meninggalkan pak Tirta dan temannya yang lain untuk menyusul Risma ketoilet.
"Hai, apa yang kamu lakukan di depan toilet ini sendirian?" kata seorang cowok sambil menyentuh bahu Risma.
"Ah, aku hanya sedang menunggu giliran," ucap Risma sambil mengelus dadanya karna kaget.
"Maaf-maaf, aku gak sengaja untuk membuat kamu kaget. Maafkan aku ya," kata cowok itu merasa bersalah.
"Gak papa kok."
"Aku ingin ketoilet, hanya saja, di dalam masih ada orang," kata Risma dengan suara pelan.
Cowok itu tersenyum ketika melihat gadis lugu nan lembut yang berada di hadapannya saat ini.
"Jika kamu ingin masuk, tidak perlu menunggu mereka yang di dalam keluar. Inikan bukan toilet yang ada di tempat umum. Ini toilet sekolah, yang menyediakan banyak ruangan di dalamnya."
"Aku tidak ingin mengganggu orang yang ada di dalam. Makanya aku ingin menunggu mereka keluar duluan."
__ADS_1
"Kamu tidak akan ganggu mereka kok. Jika kamu ingin tunggu mereka keluar, maka kamu akan butuh waktu lama untuk menunggu. Para gadis di sekolah ini, mungkin jauh berbeda dari sekolah kamu. Di sini, mereka akan bergosip di toilet."
"Risma!"
Yudha memanggil Risma dengan keras ketika ia melihat Risma sedang bersama seorang cowok asing.
"Kamu gak papakan, Ris?" kata Yudha sambil melihat Risma dengan tatapan penasaran.
"Aku gak papa kok, Yud. Kamu kok ada di sini?" kata Risma penasaran.
"Aku nyusul kamu, kamu lama banget perginya."
"Kamu gak diganggu sama anak-anak sekolah inikan, Ris?" kata Yudha lagi sambil melihat cowok yang sedang berdiri di samping Risma.
"Ngak kok. Aku gak di ganggu sama siapa-siapa."
"Teman kamu ini sedang menunggu antrian. Padahal, toilet sekolah kami, tidak akan ada antrian yang harus di tunggu," kata cowok itu sambil tersenyum.
"Apa maksudnya, Ris?" kata Yudha malah bertanya pada Risma.
"Tidak ada, aku hanya sedang menunggu mereka yang di dalam keluar saja. Makanya aku lama berdiri di sini."
__ADS_1
"Aku sudah bilang, toilet ini tidak ada antrian. Jika yang di dalam gak keluar, maka teman kamu ini tidak akab masuk. Padahal, yang di dalam itu gak akan keluar jika bel belum berbunyi," kata laki-laki itu lagi.