Biola RismaWanda

Biola RismaWanda
Delapanbelas


__ADS_3

Saat Risma selesai memainkan biolanya. Ruang musik dipenuhi oleh suara gemuruh tepuk tangan. Bukan hanya dari dalam ruangan, melainkan, dari luar ruang musik.


"Risma, kamu sungguh sangat berbakat. Tidak percaya dengan apa yang bapak dengar, kamu bisa menciptakan suasana haru bagi kita semua," ucap pak Tirta dengan sangat serius.


"Kamu lihat semua teman-teman kamu yang ada di luar, mereka juga ikut merasakan, kalau permainan kamu menyentuh hati," kata pak Tirta sambil menunjuk kearah luar.


Di sana, ada banyak siswi yang terlihat baru saja selesai menangis. Mata mereka masih sembab ketika Risma melihat kearah mereka.


Karna Risma tidak ada teman. Jadi tidak ada yang tahu, apa kelebihan dari Risma yang selalu diam saat belajar, maupun saat istirahat.


Setelah melihat dan mendengar apa yang Risma lakukan, seisi sekolah menjadi gempar dengan permainan biola Risma yang menyentuh hati.


"Risma, bapak rasa kamu tidak perlu latihan sama bapak lagi. Kamu mungkin bisa langsung masuk keruang khusus musik bersama Yudha," ucap pak Tirta setelah jam latihan selesai.


"Bersama Yudha pak?"


"Iya, bersama Yudha teman sekelas kamu itu."


"Yudha juga ikut?" kata Risma seolah-olah tak percaya dengan apa yang ia dengar dari pak Tirta.


"Iya Risma, Yudha juga ikut lomba nanti. Bapak lupa mengatakan, kalau kamu dan Yudha akan menjadi pasangan dalam lomba nanti. Kamu bermain biola, sedangkan Yudha akan memainkan piano."


Pantas saja Yudha merekomendasikan Risma untuk ikut serta. Ternyata, alasannya adalah ia juga ikut dalam lomba ini.

__ADS_1


"Yudha adalah anak berbakat dalam bermain piano. Kamu dan Yudha sangat cocok jika dipasangkan," ucap pak Tirta lagi.


"Dipasangkan pak!" ucap Risma sangat amat kaget.


"Hehehe, maksud bapak, dipasangkan untuk bermain musik Risma."


Risma terdiam, ia juga baru tahu satu hal. Kalau bapak galak ini, ternyata juga bisa bercanda.


Makanya, menilai seseorang, jangan dari luarnya saja. Cobalah untuk memahami orang tersebut secara lebih dekat lagi. Baru kita tahu, bagaimana orang tersebut.


.....


Hari berikutnya, Risma dipindahkan keruang musik khusus untuk latihan bersama pasangannya.


"Nah, Risma, hari ini kamu latihan di ruang musik khusus, bersama dengan Yudha," kata pak Tirta sambil mengantarkan Risma keruang musik.


Sedikit banyaknya, pak Tirta juga tahu bagaimana sifat Risma. Tentunya, Yudha yang memberitahukan pada pak Tirta. Siapa Risma, dan bagaimana sifatnya.


Yudha dan pak Tirta sangat dekat. Sejak awal ia datang kesekolah ini, pak Tirta adalah orang pertama yang ia kenal. Itu di karenakan, orang tua pak Tirta dengan orang tua Yudha adalah teman baik.


Pak Tirta membuka pintu ruangan musik, yang memperlihatkan seluruh isi dari ruangan tersebut, termasuk memperlihatkan Yudha yang sedang duduk di depan pianonya.


Yudha menghentikan aktifitasnya yang sedang mempelajari lirik lagu yang mungkin akan ia mainkan dengan pianonya.

__ADS_1


"Selamat siang pak," ucap Yudha sambil menghampiri pak Tirta dan Risma.


"Siang Yudha. Hari ini, kamu latihan bersama Risma ya," kata pak Tirta.


"Baik pak."


Yudha melihat Risma sebentar, namun ia kembali sibuk dengan pak Tirta lagi. Sedangkan Risma, ia hanya diam menjadi penonton dan pendengar setia saja.


"Ya sudah, kalian bisa latihan dulu. Bapak akan keluar, untuk mengurus anak yang lainnya."


"Baik pak," ucap Yudha dan Risma hampir bersamaan.


Sesaat, Yudha dan Risma saling pandang. Namun segera memalingkan pandangan mereka masing-masing.


"Ayo mulai," ucap Yudha sedikit dingin.


Risma tidak menjawab, ia hanya melakukan apa yang Yudha katakan.


"Ini adalah lirik yang harus kita mainkan. Kamu bisa lihat dulu," ucap Yudha sambil memberikan selembar kertas.


Risma mengambil kertas itu tanpa mengatakan apapun.


"Kamu ingin memainkan langsung, atau mau mendengarkan aku bermain dahulu?" kata Yudha.

__ADS_1


"Aku rasa, sebaiknya kamu mainkan dulu piano kamu, agar aku lebih mudah menyeimbangkan antara nada yang kamu mainkan, dengan yang akan aku mainkan," ucap Risma panjang lebar.


Pertama kali Yudha mendengarkan ucapan panjang lebar dan bernada lembut yang keluar dari mulut Risma yang dingin itu.


__ADS_2