
Risma tidak sempat mengatakan apapun pada Maya. Gadis itu malah meninggalkan Maya dengan cepat.
Saat itu, panggilan dari Yudha mengingatkan Risma, kalau ia juga harus segera meninggalkan lorong hotel ini.
Hanya butuh waktu tiga menit, untuk Risma sampai kebawah dan bertemu dengan pak Tirta juga Yudha.
"Kamu kok lama banget sih, Ris?" tanya pak Tirta tidak sabaran.
"Maaf pak, saya siap-siapnya lama," kata Risma pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Gak papa Ris. Bapak hanya bertanya saja pada kamu, tidak marah kok," kata pak Tirta membenarkan kalimatnya yang telah lalu, ketika ia melihat wajah Risma yang merasa bersalah.
"Ya sudah, sebaiknya, kita berangkat sekarang. Karena yang lain sudah pada berangkat semuanya," kata Yudha mengingatkan pak Tirta dan Risma.
Mereka pun tidak membuang waktu lagi, langsung berangkat menuju tempat pembukaan acara perlombaan.
Tidak ada pembicaraan yang terdengar selama mereka berada di dalam mobil. Mereka hanya terdiam tanpa kata dengan pemikiran mading-masing.
Risma sibuk melihat jalan yang mereka lalui. Sedangkan pak Tirta sibuk dengan jalan mobil. Dan Yudha, ia sibuk memperhatikan Risma dari kaca spion.
"Apa yang kamu pikirkan, Risma? Seperti apa wajah Wanda yang sangat berarti bagi kamu itu. Aku sangat penasaran dengan wajahnya," kata Yudha dalam hati, sambil terus memperhatikan Risma.
__ADS_1
Saat mereka sampai di lokasi pesta pembukaan. Suara pembawa acara sedang lantangnya memanggil nama yang tidak asing lagi bagi Risma.
"Baiklah tamu undangan dan semua peserta lomba. Sebelum acara kita buka, kami akan mempersembahkan sebuah alunan nada yang sangat menyentuh hati. Saya panggilkan tamu undangan kita dari sekolah SMA Permata, Awanda Wijaya."
Seorang laki-laki dengan langkah penuh kharisma, naik ke atas panggung sambil membawa sebuah biola. Tepuk tangan yang sangat meriah, mengiringi langkah laki-laki itu.
Risma hanya bisa menatap sedih kearah cowok yang bernama Awanda Wijaya tersebut. Matanya berkaca-kaca, ketika Awanda berdiri tegak di atas panggung.
Yudha menyadari perubahan yang Risma tunjukkan. Dengan cepat, Yudha memegang tangan Risma, lalu menggenggamnya erat.
"Yudha." Risma berucap lirih sambil memandang wajah cowok tampan yang terlihat lebih tinggi sebahu darinya.
"Jangan menangis di sini, Risma. Kamu tidak boleh terlihat lemah di hadapan semua orang. Kamu adalah gadis yang paling kuat, jangan tunjukkan air matamu di sini," kata Yudha sambil berbisik pelan di telinga Risma.
Sementara itu, Awanda yang yang sedang berada di atas panggung, melihat kearah Risma dan Yudha sekilas saja. Lalu ia memainkan biolanya dengan sangat indah.
Alunan nada itu, terdengar sangat menyenangkan. Nadanya yang lembut dan menghanyutkan. Sangat mampu membuat orang lain terhibur dengan alunan nada indah dari permainan biola Awanda.
Sementara itu, Risma yang tahu betul alunan nada indah milik Wanda. Tidak sanggup lagi untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Wanda, kenapa lupa padaku? Kenapa kamu tega sama aku? Aku benci kamu!" kata Risma dalam hati.
__ADS_1
"Aku ke toilet sebentar," kata Risma berbisik pada Yudha.
"Aku temani biar kamu gak tersesat."
"Gak usah, aku gak akan tersesat kok."
"Aku temani saja, biar kamu ada teman untuk ngobrol."
"Pak Tirta, saya dan Risma keluar sebentar. Bolehkan Pak?"
"Mau kemana kalian?"
"Ke kamar mandi pak. Risma kebelet soalnya. Saya gak tega kalau Risma jalan sendirian."
"Ya sudah, jangan lama-lama kalian perginya."
"Gak akan lama kok pak. Kami hanya sebentar saja."
"Baiklah."
Risma dan Yudha beranjak meninggalkan aula yang menjadi tempat pembukaan perlombaan itu.
__ADS_1
Risma tidak bisa menolak permintaan Yudha untuk menemaninya. Mau tidak mau, ia harus terima Yudha yang ingin menemaninya untuk keluar dari aula itu.
Bukannya pergi ke kamar mandi, mereka malah pergi ke taman yang ada di sekitar daerah itu.