
"Baiklah anak-anak, bapak punya sebuah kabar gembira buat kalian semua. Berhubung hari seni yang tidak akan lama lagi. Maka sekolah kita mendapatkan undagan, untuk mengirim perwakilan untuk bertanding dengan beberapa sekolah menengah yang lainnya."
"Karna itu, bapak minta pada kalian semua kesiapannya untuk dikirimkan kesekolah lain. Siapa yang telah mendapatkan kehormatan mewakilkan sekolah dalam beberapa pertandingan, harap jangan memberikan penolakan, jika sudah dipilih. Mengerti anak-anak!"
Pengumuman panjang lebar itu pun berakhir dengan pemilihan oleh guru seni yang terkenal sangat galak saat mengajar.
Pak Tirta ini adalah guru paling galak dan paling di takuti di sekolah Risma. Di mana, apa yang ia katakan, harus diterima oleh orang lain.
"Pak Tirta, bolehkah saya rekomendasikan seseorang untuk bermain musik nanti?" kata Yudha sambil mengangkat tangannya.
Semua mata tertuju pada Yudha yang bicara tiba-tiba tanpa permisi dahulu.
"Boleh Yudha, silahkan!" kata pak Tirta dengan ramah dan tidak menunjukkan perang sedikitpun pada Yudha.
Hal ini membuat semua siswa tak percaya dengan apa yang pak Tirta katakan. Biasanya, guru paling galak ini akan marah dan menghukum siswa yang berani bicara saat ia sedang bicara.
"Pak, saya rekomendasikan seorang siswa yang bernama Risma untuk memainkan alat musik di perlombaan nanti," kata Yudha dengan santai dan lantang.
__ADS_1
Semua siswa yang mendengarkan nama Risma di sebut oleh Yudha, beralih melihat di mana gadis yang bernama Risma itu berada.
Jika seseorang bisa merekomendasikan Risma, itu berarti, gadis yang bernama Risma ini sangat mahir dan tidak diragukan lagi kehebatannya. Apalagi, orang yang ia tuju itu adalah pak Tirta yang galak.
"Baiklah, di mana yang bernama Risma. Bapak ingin lihat wajahnya," ucap pak Tirta santai.
Risma yang mendengarkan namanya dipanggil, merasa sedikit gemetar. Namun ia harus menunjukkan dirinya pada pak Tirta dan semua orang. Jika tidak, ntah hukuman apa yang ia terima dari pak Tirta yang galak.
"Sa ... saya Ris ... Risma pak."
"Oh, Risma ternyata. Bisa maju kedepan dan tunggu bapak memilih yang lain," kata pak Tirta dengan ramah.
Risma juga tidak mungkin menolak. Karna hal yang mustahil ia lakukan jika pak Tirta yang memintanya adalah menolak permintaan pak Tirta secara sengaja ataupun tidak. Baik secara langsung, maupun tidak langsung.
Lima anak telah di pilih untuk ikut lomba. Tapi ini masih dalam tahap seleksi yang artinya bisa berubah.
Mereka diminta oleh pak Tirta, ikut keruangan musik. Di mana, kantor pak Tirta dan ruang musik ini adalah satu tempat yang sama.
__ADS_1
"Risma, alat musik apa yang bisa kamu mainkan?"
"Saya ... ma ... main biola pak," ucap Risma sangat gelagapan.
"Jangan takut Risma, saya tidak makan orang kok. Ayo mainkan biolanya!"
Risma awalnya tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Bisa-bisanya Yudha malah merekomendasikan dirinya untuk diikut sertakan dalam lomba.
Dan lagi, baru saja pak Tirta bilang kalau dirinya tidak makan orang. Selama ini, Risma tidak tahu kalau guru seni yang galak itu bisa sedikit diajak bercanda.
"Risma, ayo mulai mainkan biolanya," kata pak Tirta dengan lembut.
"Iy, iya pak," ucap Risma kaget dan segera melakukan apa yang pak Tirta perintahkan.
Risma memulai permainan biolanya seperti biasa ia mainkan. Risma menarik napas dalam-dalam sebelum ia menggesek biola ini. Ia juga menutup matanya rapat-rapat.
Alunan biola yang sangat menyentuh hati, terdengar sangat jelas memenuhi ruang musik. Bahkan, alunan nada biola Risma, juga terdengar keluar.
__ADS_1
Keempat anak yang sedari tadi sedang memegang alat musik mereka. Terpaksa menghentikan permainan mereka, karna mendengarkan biola yang begitu menyentuh hati.
Lima menit lamanya, Risma memainkan biola itu. Tidak banyak waktu yang ia gunakan untuk membuat seluruh sekolah merasakan kesedihan yang ia rasakan.