Biola RismaWanda

Biola RismaWanda
29


__ADS_3

"Kenapa kita kesini?" tanya Risma saat mereka sudah sampai di taman.


"Di sini adalah tempat terbaik untuk melepaskan segala beban yang sedang kamu pikul."


"Apa maksud kamu?"


"Apakah dia yang bernama Wanda?"


"Iy ... iya. Dia adalah Wanda."


"Apakah ...."


"Sudahlah, aku tidak ingin membahas soal dia lagi. Dia sendiri tidak ingat aku, kenapa aku harus ingat dia," kata Risma memotong perkataan Yudha dengan cepat.


"Tapi kenapa kamu masih menangis saat mendengarkan alunan biola dari cowok itu, Risma?"


"Itu hanya karena kebetulan saja. Mataku kelilipan tadinya, sehingga tanpa sengaja, aku menjatuhkan air mata."


"Lalu, kenapa kamu tidak tahan berada di dalam sana?"


"Itu karena ... sudahlah, jangan pojokkan aku lagi Yudha. Aku tidak ingin membahas apapun lagi sekarang."


"Oh ya, sebaiknya kita segera kembali. Nanti pak Tirta bisa marah karena kita kelamaan berada di luar," kata Risma lagi.


Risma tidak menunggu Yudha untuk menjawab perkataannya. Ia langsung saja bangun dan beranjak dari kursi yang ia duduki. Risma meninggalkan Yudha dengan seribu kebingungan yang sedang melanda.


"*Aku tahu kalau saat ini, kamu hanya berusaha terlihat kuat, Risma. Aku tahu saat ini, kamu sedang sangat rapuh dan ter*luka. Aku janji padamu, Ris. Aku akan bantu kamu untuk bahagia lagi."

__ADS_1


"Risma, tunggu aku!" kata Yudha sambil berjalan cepat mengejar Risma yang menjauh.


....


Pembukaan perlombaan telah selesai. Risma saat ini sudah berada di kamar hotelnya, sendirian tanpa teman sekamar.


Ia masih memikirkan, apa yang sebenarnya terjadi pada Maya. Kenapa Maya malah meninggalkan kamar ini? Apakah yang membuat Maya malah meninggalkan kamar?


Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Risma. Satu persatu kemungkinan terus saja Risma bermain-main di benak gadis itu. Tapi pada akhirnya, ia masih tidak menemukan jawaban yang tepat atas kepergian Maya dari kamar mereka.


Sedangkan di tempat lain, Yudha terlihat sedang gelisah sambil melihat kesana-kemari. Yudha seperti sedang mencari seseorang.


Tak lama, muncullah seorang cowok yang berjalan keluar dari kamarnya. Mata Yudha tertuju pada cowok itu. Yudha pun tersenyum puas saat melihat Awanda yang baru saja muncul dari balik salah satu pintu kamar hotel yang berjejer rapi.


Tanpa pikir panjang lagi, Yudha menghampiri Awanda dengan cepat.


"Boleh, kamu siapa ya?" tanya Awanda sedikit bingung.


"Yudha," ucap Yudha sambil mengulurkan tangannya.


"Awanda," ucap Awanda sambil menyambut uluran tangan dari Yudha.


"Bisa kita bicara di tempat lain? Tempat yang lebih nyaman untuk bicara, selain di sini."


Awanda hanya mengangguk saja. Hatinya yang masih diselimuti rasa bingung, terpaksa menyetujui apa yang Yudha katakan.


Mereka berdua berjalan menuju salah satu cafe yang tak jauh dari hotel tempat mereka sama-sama menginap.

__ADS_1


Yudha memesan segelas jus naga yang paling ia sukai.


"Kamu mau pesan apa, Awanda?" tanya Yudha ramah.


"Teh panas saja. Aku alergi sama es."


Pelayan cafe itu pun menganggukkan kepalanya, tanda ia mengerti dengan apa yang Awanda katakan. Lalu, pelayan itu pergi meninggalkan Awanda dan Yudha berdua saja.


"Apa yang ingin kamu katakan padaku sebenarnya? Kenapa kamu terlihat seperti sangat mengenal aku?" tanya Awanda sangat penasaran.


"jujur saja, aku tidak kenal sama kamu, Awanda. Hanya saja, ada seseorang yang sangat mengharapkan kamu kembali padanya."


"Siapa dia?"


"Jangan pura-pura tidak tahu, Awanda. Kamu telah bertemu dengannya. Tapi kenapa kamu malah membuat ia sangat terluka. Sehingga dia mampu menunjukkan kesedihannya di depan umum."


"Apa yang kamu bicarakan. Langsung saja pada pokok pembicaraannya. Jangan berbelit-belit seperti ini. Aku tidak suka."


"Baiklah, aku akan terus terang saja sekarang. Aku adalah teman Risma. Kamu pasti tahu bukan? Siapa gadis yang bernama Risma ini?"


"Tidak, aku tidak kenal yang namanya Risma. Jadi jangan soal orang yang tidak aku kenal."


"Wanda, aku tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi saat ini. Tapi yang pasti, aku tidak suka, kalau kamu menyakiti hati Risma terus-terusan. Tidak cukup apa? Semua penderitaan yang Risma alami sejak kepergian kamu selama ini, hah!"


Yudha sangat kesal sekarang. Emosinya memuncak saat menjelaskan apa yang terjadi pada Risma sejak kehilangan sahabatnya.


Tanpa sadar, ia bicara keras dan mengundang perhatian tamu lain.

__ADS_1


__ADS_2