Biola RismaWanda

Biola RismaWanda
6


__ADS_3

Yudha benar-benar dibuat bingung sekaligus merasa sangat penasaran dengan dunia baru yang ia lihat ini.


Syima mengerti apa yang sedang teman barunya pikirkan. Namanya juga teman baru, ia pasti masih harus mengerti dan memahami banyak hal.


"Kamu kenapa Yud?" kata Syima membuyarkan lamunan Yudha.


"Tidak ada apa-apa," ucap Yudha berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.


"Oh, baiklah, aku pergi dulu. Aku harap, kita bisa menjadi teman baik yah," ucap Syima sambil membalikkan badannya meninggalkan Yudha.


"Iya, aku juga berharap seperti itu," kata Yudha sambil tersenyum mengiringi kepergian Syima.


Dalam hatinya, Yudha sangat berharap kalau ia bisa berteman dekat dengan gadis cantik


yang tanpa sengaja membuat hatinya bergetar saat pertama kali bertemu di kota ini.


Sebisa mungkin, ia akan mencari kesempatan untuk melihat wajah Risma yang selalu duduk di sampingnya setiap hari.


Walaupun gadis yang ada di samping Yudha ini lebih mirip dengan es balok yang tidak pernah memberikan kehangatan sedikitpun.


Keingin tahuannya tentang kehidupan Risma semakin menjadi-jadi. Sejak ia melihat gadis itu, ia merasa sedikit perhatian akan apa yang Risma lakukan.


"Ada apa kamu ajak aku bertemu di taman belakang sekolah ini Yudha?" kata Syima saat ia sampai di taman.


"Aku ingin bicara sedikit sama kamu Syima. Aku tahu, kita ini baru kenal, tapi bisakah aku bertanya sesuatu padamu," kata Yudha dengan sangat antusias.

__ADS_1


Syima merasakan sebuah getaran dalam dadanya. Ia merasakan, dadanya berdetak dua kali lebih cepat dari yang biasanya.


Wajah Syima sedikit memerah dan ada rasa penasaran yang memuncak setinggi gunung. Namun ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan kalau ia sedang deg-degan.


"Apa, apa yang ingin kamu katakan padaku?" kata Syima dengan debaran yang tidak menentu.


"Maafkan aku Syima, kalau aku agak sedikit lancang. Bisakah aku tahu tentang ...."


"Tentang apa?" ucap Syima memotong dengan rasa tidak sabar lagi.


"Syima, aku ingin tahu tentang kehidupan Risma. Apa yang salah dengan adik sepupu kamu itu, kenapa ia bisa sampai seperti itu dinginnya pada semua orang?" kata Yudha sambil melihat kosong kedepan.


Seakan baru saja jatuh dari pohon yang tinggi. Syima terbelalak saat mendengarkan perkataan Yudha.


Syima tidak menyangka, kalau pertanyaan yang ingin Yudha tanyakan adalah tentang kehidupan Risma adik sepupunya.


"Syima, kamu kenapa melamun?" kata Yudha sambil menepuk pundak Syima pelan.


Tubuh Syima terperanjat akibat tepukan itu. Syima kaget dan tersadar seketika, kalau ia sedang berhadapan dengan orang yang ingin tahu tentang kehidupan Risma.


"Apa yang kamu pikirkan sih? Kenapa sampai segitu kagetnya kamu Syim?" kata Yudha sambil menahan senyum.


"Tidak, tidak ada yang aku pikirkan kok. Tadi kamu bertanya apa padaku, coba ulangi sekali lagi."


Syima berusaha terlihat baik saja, padahal saat ini, hatinya sedang di rundung rasa kecewa sangat sangat berat.

__ADS_1


"Aku ingin tahu, kenapa Risma selalu dingin pada setiap orang. Tak terkecuali, pada kalian berdua," kata Yudha mengulangi perkataannya.


"Nanti saja aku jelaskan, aku harus ketoilet dulu sekarang," kata Syima sambil bangun dari duduknya, lalu berjalan cepat meninggalkan Yudha.


"Ada apa dengan gadis itu, kenapa bertingkah aneh saat ini. Apakah kehidupan Risma sangat membuat ia tertekan? Aku harus mencari tahu bagaimanapun caranya," ucap Yudha pada dirinya sendiri.


Syima menangis saat ia sudah berada di dalam tiolet sekolah. Ia menumpahkan semua rasa kecewa yang berusaha ia tahan.


Ia berharap, Yudha tadinya akan menyatakan perasaan cinta padanya. Tapi yang ia dapat, hanyalah rasa kecewa akibat Yudha telah menghampakan harapannya.


Saat perjalanan pulang dari sekolah, Syima hanya diam tanpa sepatah katapun. Membuat Wira merasa sangat aneh dan penasaran.


Syima sekarang mirip dengan Risma, hanya berjalan tanpa bicara. Tidak pernah mendahulukan obrolan, dan hanya bersikap dingin.


"Syima, apa yang salah dengan kamu hari ini?" kata Yudha.


"Gak ada kak."


"Kalo gak ada, kenapa kamu diam aja. Kamu selama ini gak pernah seperti ini lho Syima."


"Aku hanya tidak enak badan saja kak Wira, gak perlu cemas padaku," kata Syima sambil berjalan dua kali lebih cepat.


Syima pun meninggalkan Wira dan Risma. Ia berjalan sangat cepat kedepan. Membuat keduanya, semakin merasa aneh dengan sikap Syima hari ini.


"Ada apa sih kak? Apa yang salah sama kak Syima hari ini?" kata Risma ikut merasa aneh.

__ADS_1


"Kaka juga gak tahu Ris, Syima aneh banget deh."


Mereka berdua saling pandang, kemudian melajukan langkah kaki mereka kembali.


__ADS_2