
"Semangat anak-anak. Bapak yakin kalian pasti berhasil," ucap pak Tirta saat Yudha dan Risma berjalan beriringan untuk naik keatas panggung.
Risma hanya tersenyum saat melihat gurunya begitu semangat untuk memberikan dukungan buat mereka berdua.
"Risma, kita pasti berhasil," kata Yudha tak lupa memberikan semangat pada Risma.
"Iya, kamu juga harus semangat. Bismilallah."
Mereka berdua naik keatas panggung. Lalu bersiap-siap dengan alat musik yang akan mereka mainkan.
Yudha mendahului permainan pianonya. Saat mendengarkan bunyi piano, Risma langsung menutup matanya dan memulai permainan biolanya.
Semua jadi hening saat Risma memainkan biolanya. Gemuruh suara penonton yang awalnya sangat berisik, kini berubah hening dan sepi dari suara manusia.
Biola Risma memang benar-benar memukau semua orang yang mendengarkannya. Tak jarang, ada yang menangis akibat terlalu menghayati setiap nada yang tercipta.
Di salah satu kursi peserta, duduk seorang cowok yang melihat lurus ke depan. Matanya berkaca-kaca, saat mendengarkan alunan nada biola yang tidak asing lagi baginya.
Seketika, ia seperti sedang berada di masa lalu. Masa di mana ada dua anak remaja yang selalu bersama. Duduk di bawah pohon ara adalah hobi mereka berdua.
Wanda mengingat akan masa lalunya bersama Risma. Di mana ia mengajari Risma bermain biola dengan penuh perasaan.
__ADS_1
Flash back.
"Risma, kok nadanya jadi sedih seperti ini sih, saat kamu yang mainkan biolanya," kata Wanda sambil memegang biolanya.
"Aku suka dengan nada sedih yang menyentuh hati, Wanda. Karena saat aku memainkan biola ini, aku bisa menuangkan segala yang ada di dalam hati ini."
"Ya tapi gak sesedih ini juga dong. Masa iya, semua nada yang kamu mainkan, sedih semua."
"Lah, kita ini adalah teman. Jika kamu memainkan nada ceria, biar aku yang memainkan nada sedih. Jadinya, kita akan saling melengkapi."
"Benar juga ya apa yang kamu katakan. Tidak mungkin kita sama-sama bermain nada yang sama. Nantinya, aku bisa kalau sama kamu. Karena kamu semakin lama semakin jago saja dalam bermain biola. Padahal kan, aku adalah guru kamu."
"Guru itu jika anak muridnya sedikit pintar, hatinya sudah mulai gelisah ya? Mungkin ia takut, muridnya jadi kacang lupa kulit kali ya."
Wanda penghapus air matanya yang jatuh secara perlahan. Ia tidak bisa membendung air mata yang siap untuk meluncur dari mata melintasi pipinya.
Sedangkan di sana, di atas panggung itu. Risma masih memainkan biolanya dengan sangat mahir. Tapi di sudut matanya, mengalir cairan bening yang tidak bisa ia tahan.
Saat permainan berakhir, tepuk tangan yang sangat meriah pun menghiasi langkah kaki mereka yang turun perlahan dari panggung.
Semua berbisik dan membicarakan permainan biola Risma yang ternyata sangat mampu membuat orang lain merasakan kesedihan.
__ADS_1
Tepuk tangan masih saja terdengar, sampai mereka berdua kembali ketempat duduk mereka pun, para penonton masih bertepuk tangan untuk permainan biola yang memukau itu.
"Wuah, gak salahkan kalian berdua berpasangan. Kalian benar-benar sangat hebat," kata pak Tirta memuji kedua muridnya.
"Yang hebat itu Risma pak. Lihat saja, semua orang mengagumi permainan biolanya. Sedangkan saya, tidak ada yang mengagumi permainan piano saya pak," kata Yudha dengan wajah yang pura-pura sedih.
"Gak ah, kamu salah itu. Jika kamu tidak mengiringi permainan biola aku, aku juga gak akan bisa seenak itu memainkan biolanya."
Saat mereka asik berbicara tentang permainan musik mereka, sambil mendengarkan pertunjukan dari peserta yang lain. Seorang cowok datang menghampiri mereka.
"Permisi, maaf saya ganggu sebentar. Bisa bicara dengan Risma sebentar, gak?" tanya cowok itu.
"Bisa," ucap Risma sambil mendongak untuk melihat siapa yang sedang bicara padanya.
"Wanda!"
"Siapa dia, Ris? Apa kamu punya kenalan selama di sini?" tanya pak Tirta penasaran.
"Gak kok pak, saya gak kenal siapa-siapa di sini. Saya gak punya kenalan atau pun teman."
"Risma, aku ingin bicara sebentar saja dengan kamu."
__ADS_1
"Risma, bicaralah dengannya walau semenit. Berikan kesempatan padanya untuk bicara," kata Yudha pada Risma.