Biola RismaWanda

Biola RismaWanda
24


__ADS_3

Setelah mengantarkan Risma ke kamarnya. Guru itu pun pamit untuk mengurus peserta lomba yang lainnya. Sedangkan Risma, di tinggalkan di kamar itu.


Risma masih belum tahu seperti apa wajah teman sekamarnya. Karna teman sekamar dengannya, masih belum keluar juga dari kamar mandi, sejak ia datang pertama kali.


Risma meletakkan tasnya di samping kasur. Lalu, ia mencoba untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur hotel yang empuk.


Karna merasa sangat lelah. Ia memilih untuk memejamkan matanya untuk beberapa saat. Namun sayangnya, hal itu tidak bisa ia lakukan.


"Siapa kamu?" kata orang yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Sontak saja, Risma kaget lalu bagun dari baringnya. Ia melihat asal suara yang terdengar lantang meneriaki dirinya yang sedang berusaha terlelap.


"Kamu?" kata gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi itu.


Risma tidak bisa menjawab. Ia malah melonggo, tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Apa kamu akan tinggal di kamar ini juga?" tanya Risma tanpa tahu harus bicara apa.


"Hello ... harusnya aku yang bertanya pada kamu. Kenapa kamu ada di kamar ini? Secara, aku adalah penghuni pertama kamar ini, kan?" kata gadis itu tak terima dengan apa yang Risma katakan.


"Maaf, aku tidak bermaksud bertanya seperti itu pada kamu. Maksudku, kamu ...."


"Ah, sudahlah. Aku rasa, tidak perlu panjang lebar lagi. Aku tidak ingin mendengarkan penjelasan dari kamu. Toh, kita gak akan lama juga di sini."


"Oh ya, namaku Maya," kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Risma.

__ADS_1


"Maya?" tanya Risma dengan nada penasaran.


"Iya, namaku Maya. Anak SMA Dharmayu," kata gadis itu menjelaskan.


Risma semakin kaget ketika gadis yang bernama Maya itu mengatakan, kalau dirinya adalah anak SMA Dharmayu.


Dalam pikiran Risma saat ini hanya bisa memikirkan, gadis yang bernama Maya yang waktu itu sedang membicarakan dirinya di toilet sekolah SMA Dharmayu.


"Hello ... kok bengong sih?" tanya Maya sambil melambaikan tangannya ke wajah Risma.


"Eh, maaf. Namaku Risma. Dari sekolah ...."


"Aku sudah tahu kamu dari sekolah mana. Kamu tidak perlu mengatakannya lagi padaku," kata Maya memotong perkataan Risma dengan cepat.


Maya pun duduk di atas kasur, ia mengeluarkan isi tas yang awalnya sudah ia keluarkan sebagian.


Risma mematung di sana, di tempat ia berdiri karna kaget dengan suara panggilan dari Maya saat pertama kali keluar dari kamar mandi.


"Apa kamu tidak keberatan , jika kita berbagi kamar, Maya?" tanya Risma setelah sekian lama diam dan menjadi penonton.


"Kenapa aku harus keberatan berbagi kamar dengan kamu? Toh, kita di sini sama-sama peserta lomba, bukan?"


Risma tersenyum tipis saat mendengarkan apa yang Maya katakan. Karena perkataan Maya itu seratus persen benar adanya.


"Maya, apa aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?"

__ADS_1


"Boleh, tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan."


"Ada berapa Maya di sekolah SMA Dharmayu?"


Maya yang awalnya sibuk dengan ponsel yang ia mainkan sejak tadi. Tiba-tiba saja menghentikan permainannya.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


"Tidak ada, aku hanya ingin tahu saja."


"Aku hitung dulu ya," ucap Maya sambil memikirkan ada berapa Maya di sekolahnya.


Sedangkan Risma, ia siap menjadi penunggu setia Maya. Ia dengan sabar menunggu Maya selesai memikirkan, ada berapa Maya yang bersekolah di sekolah SMA Dharmayu saat ini.


Risma yang awalnya pendiam, kini menjadi orang yang sedikit kepo akibat nama Maya.


"Hamz, kalau aku tidak salah hitung, ada sepuluh Maya yang bersekolah di sekolahku."


"Oh, ada banyak Maya di sana ternyata," kata Risma sambil mengeluarkan ponselnya.


"Kenapa sih? Kamu malah bertanya hal itu. Apa ada yang salah dengan nama Maya?"


"Tidak, tidak ada yang salah dengan nama Maya. Lupakan saja ya."


"Hamz, kamu bikin orang penasaran saja," kata Maya sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Maaf, aku gak niat buat kamu penasaran kok."


"Gak papa. Lupakan saja, dan jangan terlalu memikirkan apa yang aku katakan."


__ADS_2