Biola RismaWanda

Biola RismaWanda
25


__ADS_3

Risma memaksakan tersenyum tipis, untuk ia perlihatkan pada sahabat barunya ini. Ia tidak ingin di bilang gadis dingin, oleh teman yang baru ia kenal.


Risma selalu ingat apa yang Yudha pesankan padanya. Kata Yudha, "jangan jadi gadis dingin, Risma. Karena kamu akan sulit nantinya."


Karena pesan Yudha inilah, Risma memaksakan diri untuk berubah lebih hangat dengan setiap teman baru yang ia jumpai.


Risma dan Maya sama-sama sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Pada saat itu juga, terdengar ketukan di depan pintu kamar mereka.


Risma yang sedang duduk lebih dekat dengan pintu kamar. Mencoba untuk bangun dan melihat siapa yang sedang mengetuk pintu kamar mereka.


"Biar aku saja Risma. Mungkin pacarku yang mengetuk pintu kamar itu," kata Maya sambil bangun dengan cepat.


"Oh, ya sudah kalau gitu," ucap Risma kembali duduk.


Risma kembali sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Maya, ia dengan cepat berjalan menuju pintu kamar.


"Risma, bolehkah aku ajak pacarku masuk kedalam?" tanya Maya dari balik pintu kamar.


"Boleh, ajak saja jika kamu mau. Aku tidak merasa keberatan sama sekali."


"Terima kasih banyak, Risma."


Maya pun mengajak pacarnya masuk kedalam kamar mereka.


"Kak Awan, ayo masuk kedalam. Temanku sudah mengizinkan aku membawa kamu masuk," kata Maya pada acarnya.

__ADS_1


"Beneran gak papa, kan? Aku gak enak kalau bikin masalah nantinya."


"Gak papa kok. Kak Awan dengar sendiri kan? Kalau temanku itu, gak keberatan jika aku bawa pacarku masuk."


Maya dan pacarnya pun masuk kedalam kamar. Sedangkan Risma, ia sedang berada di kamar mandi.


Awan melihat seisi kamar Maya. Matanya dengan lincah menyapu setiap sudut kamat itu. Ia juga tertarik untuk memperhatikan setiap barang yang ada di kamar itu.


Mata Awan terhenti berkelana, saat ia melihat sebuah barang yang tidak asing lagi baginya. Barang itu adalah jepit rambut milik Risma.


Risma meletakkan jepit rambutnya di atas meja yang tak jauh dari ranjang saat ia baring tadi. Dan ia lupa memakaikannya lagi, karena ia terburu-buru menuju kamar mandi.


"Maya, apa ini milik teman sekamar kamu?" tanya Awan sambil memegang jepit rambut milik Risma.


"Risma?" tanya Awan dengan wajah sangat kaget.


"Iya kak, nama teman sekamar aku itu Risma. Ada apa sih? Kok kak Awan bisa kaget gitu."


"Gak, gak papa kok, May. Mungkin aku harus kembali ke kamarku sekarang. Karena ...."


Perkataan Awan harus terhenti. Karena Risma yang tiba-tiba saja membuka pintu kamar mandi.


Mata Awan dan mata Risma saling tatapan. Mereka berdua tidak bisa bicara sepatah katapun. Karena rasa kaget yang sama-sama mereka rasakan.


"Wanda." Risma memanggil nama Awan dengan nama Wanda.

__ADS_1


Dengan cepat, Risma berjalan mendekati Awan dan Maya.


"Wanda, kenapa kamu tidak menemui aku, Wan?" tanya Risma sambil menatap mata Awan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Kamu kenal dengan pacarku, Risma?" tanya Maya tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Aku ...."


"Aku gak kenal sama teman kamu, Maya. Kenapa dia bisa panggil aku dengan nama Wanda sih?" kata Awan dengan cepat memotong perkataan Risma.


"Maaf ya, nama aku itu Awan, bukan Wanda," kata Awan pada Risma.


"A, Awan?"


"Iya, nama aku itu Awan, bukan Wanda. Kamu salah orang deh kayaknya," kata Awan dengan nada tinggi dan terlihat jengkel.


"Sayang, bantu aku jelaskan dong sama teman sekamar kamu ini, kalau aku ini adalah Awan, bukan Wanda," Kata Awan pada Maya.


"Iya, nama pacarku Awan Risma, bukan Wanda. Lagian, siapa sih Wanda itu?" tanya Maya dengan sedikit rasa kesal.


"Wanda adalah sahabat baik aku, yang telah meninggal tiga tahun yang lalu," ucap Risma sambil menyapu air matanya yang jatuh perlahan.


"Maafkan aku, kamu sangat mirip dengan sahabat baikku. Aku salah, terlalu berlebihan. Orang yang telah meninggal, tidak akan bangun lagi bukan?"


"Aku permisi dulu," ucap Risma sambil berjalan cepat keluar dari kamar hotel, meninggalkan Awan dan Maya dengan pemikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2