Biola RismaWanda

Biola RismaWanda
30


__ADS_3

"Pelankan suaramu, kita tidak berada di rumah kita saat ini. Kamu tidak malu apa? jadi bahan tontonan orang lain," kata Awanda sambil melihat kiri kanan.


"Aku tidak malu lagi saat ini, karena aku tidak punya rasa malu. Demi Risma, apapun akan aku lakukan. Aku bukan lelaki pengecut seperti kamu. Kamu yang tidak ingat dengan janji. Kamu tidak pantas jadi laki-laki."


"Cukup! Jaga bicaramu padaku. Jangan sampai aku hilang kesabaran," kata Awanda mulai terbawa emosi.


Yang hadir di cafe itu, semua melihat kearah mereka berdua. Ada juga yang bicara berbisik-bisik.


Seorang pelayan datang ke meja mereka berdua.


"Maaf adik-adik, ini cafe, tolong kalian tidak bertengkar di sini. Karena keributan kalian, membuat tamu kami yang lainnya tidak nyaman," kata pelayan cafe itu.


"Maaf mbak, kami tidak bertengkar kok. Kami berdua hanya akting saja. Karena kami ada lomba sebentar lagi," kata Yudha berbohong pada pelayan itu.


"Oh, sebaiknya, kalian tidak berakting di sini. Karena pengunjung kami yang lainnya, sedikit terganggu dengan akting kalian."


"Oh, maaf mbak. Kami tidak akan akting di sini lagi," kata Yudha sambil senyum manis yang dibuat-buat.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu."


Pelayan itu pergi meninggalkan Yudha dan Awanda yang sama-sama terdiam. Mereka melihat sekeliling mereka. Tidak ada yang melihat kearah mereka lagi. Mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka.


"Kamu tidak tahu apa yang aku hadapi saat ini Yudha. Kamu tidak tahu, seperti apa hidupku sekarang."


"Apa maksud mu?"


Awanda menceritakan apa yang telah terjadi sehingga ia harus pergi meninggalkan Risma. Wanda mengatakan, apa alasan kepergiannya.


"Semua ini aku lakukan demi kebaikan Risma. Ia tidak boleh menderita hanya karena aku. Aku tidak mungkin bisa terima, kalau orang yang aku sayangi menderita akibat aku," kata Wanda sambil tertunduk lemas.


"Apa alasan orang tua kamu tidak suka pada Risma?"


"Mama dan papa tidak suka, karena Risma adalah keturunan dari musuh bisnisnya keluarga kami. Sebab itu, mama dan papa memisahkan kami sejak kami masih remaja."


"Kenapa orang tuamu sangat kejam, Wanda? Apa salah Risma, jika ia terlahir dari keluarga yang bermusuhan dengan keluarga kamu? Bukankah jika menyatukan kalian, bisa menyatukan bisnis kedua belah keluarga?"

__ADS_1


"Tidak, mama dan papa tidak inginkan hal itu. Antara keluarga Risma dan keluargaku, tidak akan pernah bersatu. Kami bagaikan langit dan bumi, air dan api. Tidak akan pernah bersatu, Yudha."


"Kamu salah Wanda. Jika kamu ingin memperjuangkan apa yang kamu inginkan, kamu dan Risma pasti bersatu."


"Kamu tidak merasakan berada diposisi aku. Jika kamu merasakan duduk diposisi aku saat ini, kamu juga tidak akan bisa bicara seperti saat ini."


"Aku memang tidak duduk diposisi kamu, Wanda. Tapi jika aku berada diposisi kamu, aku tidak akan menjadi laki-laki lemah, seperti kamu saat ini," kata Yudha sambil bangun dari duduknya dan bersiap-siap untuk pergi.


"Sesuatu itu perlu perjuangan, bukan hanya menunggu hasil dan menyerah dengan takdir saja. Seseorang perlu berjuang dan berusaha untuk menang. Bukan hanya duduk diam dan berpangku tangan," kata Yudha lagi sambil berbisik pelan pada Wanda, lalu ia pergi meninggalkan Awanda sendirian.


Awanda tidak bisa berkata apa-apa setelah kepergian Yudha. Ia hanya bisa melihat punggung Yudha yang berjalan semakin menjauh meninggalkannya.


Perkataan Yudha terus saja melekat di benak Awanda. Seperti sebuah rekaman yang terus diputar berulang-ulang.


......


Malam ini, perlombaan sudah dimulai. Dengan seratus sepuluh peserta yang datang dari berbagai kabupaten, berjuang untuk menjadi pemenang di satu titik provinsi ini.

__ADS_1


Yudha dan Risma juga akan menampilkan bakat bermain musik yang akan mereka tampilkan di atas panggung sebentar lagi.


Lima menit setelah pertunjukan dari peserta yang lain. Nama Yudha dan Risma terdengar lantang dipanggil oleh pembawa acara untuk naik keatas panggung.


__ADS_2