Biola RismaWanda

Biola RismaWanda
33


__ADS_3

"Tidak, aku tidak bisa menoleh kebelakang. Aku yakin, hatiku tidak akan kuat untuk menahan air mata ini jika aku menoleh," kata Risma dalam hati sambil tetap berdiri tegak.


"Risma! Ayo cepat kembali! Pak Tirta sudah menunggu kita di aula," kata Yudha datang sebagai penyelamat Risma.


Yudha yang sedari tadi berada di sana. Ia sudah melihat dan mendengar apa yang terjadi dengan Risma di taman itu.


Yudha memanggil Risma, karna ia tahu kalau Risma tidak ingin menoleh kebelakang. Risma tidak ingin melihat Awanda lagi.


Risma yang merasa dirinya terselamatkan dengan panggilan itu, segera berjalan menghampiri Yudha yang sedang berdiri tegak tak jauh darinya.


Yudha dan Risma berjalan kembali ketempat acara perlombaan berlangsung. Tapi sebelum sampai di aula perlombaan, Yudha mengajak Risma untuk pergi ketempat lain.


"Mau kemana sih ini Yud?"


"Aku akan bawa kamu menikmati suasana yang berbeda dari yang pernah kamu rasakan."


"Suasana berbeda?"


"Iya, suasana berbeda yang akan mampu menenangkan hati."


"Lho, bukannya kamu bilang kalau pak Tirta ingin kita kembali?"


"Tidak, soal itu aku bohong sama kamu. Aku hanya tidak ingin kamu menoleh kearah mereka lagi."


"Dasar kamu, berani-beraninya kamu membohongi aku," kata Risma sambil mencubit manja pinggang Yudha.

__ADS_1


"Ahhhgg ... gak sakit," kata Yudha sambil kembali bercanda.


"Gak sakit kok gitu ekspresinya."


"Ya itu modus," kata Yudha sambil berlari.


"Eeeh ... dasar Yudha aneh."


"Biarin."


Akhirnya, mereka sampai juga ketempat yang Yudha maksud. Setelah menaiki anak tangga yang lumayan banyak, mereka sampai keatas atap gedung tersebut.


Pemandangan di atas atap gedung sangat indah. Mereka bisa melihat kendaraan yang sibuk berlalu lalang di jalan raya. Mereka bisa melihat gedung-gedung tinggi yang sangat mewah. Dan mereka juga bisa melihat semua pemandangan yang sangat indah di sekitar kota ini.


"Bagaimana Risma? Apa pemandangannya menarik?"


"Bagus deh, tidak sia-sia aku bawa kamu naik tangga tadi."


"Tapi Yudha, dari mana kamu bisa tahu kalau atap gedung ini bisa menyediakan pemandangan yang sangat indah seperti ini?"


"Itu ... itu karena ...."


"Karena apa? Jangan bilang kalau kamu pernah naik ke atap ini tanpa sepengetahuan aku ya."


Yudha terdiam sambil nyengir kuda. Ia memperlihatkan gigi putihnya yang berjajar rapi.

__ADS_1


"Jangan hanya bisa nyengir aja kamu Yud. Cepat katakan padaku, dari mana kamu tahu kalau atap ini punya pemandangan yang indah. Katakan dengan jujur, awas kalo kamu berani membohongi aku," kata Risma mengancam.


"Baiklah, baiklah, aku akan katakan kalau aku memang pernah naik sendirian ke atap gedung ini. Bukan hanya sekali, tapi sudah ratusan kali aku pernah naik ke atap ini."


"Ratusan kali? Bukankah kita baru pertama kali datang ke kota ini, Yudha."


"Jangan bingung seperti itu, Risma. Kamu lupa ya, kalau aku ini adalah anak pindahan dari sekolah lain, datang ke sekolah kalian."


"Oh iya ya, aku lupa kalau kamu datang dari kota ini," kata Risma sambil nyengir.


"Siapa yang bilang kalau aku datang dari kota ini. Aku tidak datang dari kota ini, Risma. Kenapa kamu melupakan dari mana asal usul aku sih," kata Yudha dengan nada frustasi.


"Ya ampun, kenapa aku bisa semenyedihkan seperti ini sih?" tanya Yudha lagi.


"Lah, terus kenapa kamu sering naik ke atap ini kalau kamu bukan dari kota ini. Bagaimana kamu tahu atap ini, jika kamu tidak datang dari kota ini."


"Itu karena aku sering ikut papa buat trasaksi ke gedung ini."


"Transaksi apaan? Jangan-jangan ...."


"Ih, udah deh. Hentikan pemikiran buruk kamu itu tentang aku ya. Transaksi yang aku maksud adalah, pembayaran antara penyewa dan pemilik gedung."


"Maksudnya?"


"Risma, yang aku maksud itu. Gedung ini milik papaku. Sudah, jangan banyak mikir lagi. Kita datang bukan untuk berdebat, melainkan untuk bersantai."

__ADS_1


Risma tidak menjawab. Sebenarnya, ia merasa kaget dengan apa yang Yudha katakan. Ternyata, gedung yang sangat besar ini, adalah milik Yudha.


Pantas saja tidak ada penjaga yang melarang ia untuk naik keatas. Karena penjaga itu sudah sangat mengenali Yudha sebagai anak pemilik gedung mewah yang selalu di sewa untuk berbagai acara penting.


__ADS_2