
"Bisa aja kamu. Biola yang aku mainkan, tidak akan bagus jika piano kamu gak berbunyi," ucap Risma dengan ekspresi seperti biasanya.
"Ya ampun, kamu sangat berbakat yah," kata guru yang bertugas menyambut tamu saat mereda datang tadi.
"Terima kasih pak."
"Pak Tirta, murid bapak ini sangat luar biasa. Pantas saja, kalian itu tidak pernah mucul pada tahun-tahun yang lalu," ucap guru itu.
"Bapak bisa aja, kami tidak muncul pada tahun yang lalu, itu bukan karna kami sengaja tidak ingin ikut, melainkan, kami punya beberapa kendala," ucap pak Tirta sedikit tersanjung.
"Oh iya, saya rasa, kalian pasti akan lolos di babak ini. Kalian pasti akan bisa ikut di ajang provinsi nantinya," kata pak Yahya dengan bangganya.
"Amin, amin, semoga saja apa yang pak Yahya ucapkan itu adalah kenyataannya," kata pak Tirta penuh harap sambil tersenyum lebar.
Setelah hampir satu jam lebih, pertunjukan demi pertunjukan telah pun usai. Kini tiba saatnya, pengumuman pemenang yang akan ikut kepertandingan antar provinsi se Indonesia.
Suara pembawa acara menggema dengan jelas, mempersilahkan juri untuk mengumumkan beberapa pemenang yang lolos dan akan diikut sertakan di perlombaan selanjutnya.
Awalnya, mereka merasa sedikit putus asa, ketika semua lomba telah disebut oleh juri siapa pemenangnya. Karna di sana, tidak ada satu namapun yang lolos dari sekolah Risma.
Hingga tiba giliran perlombaan musik di umumkan. Ternyata, yang menang bukanlah Risma dan Yudha. Melainkan, sekolah menengah Tunas bangsa yang menjadi pemenangnya.
__ADS_1
Juri mengatakan beberapa alasan dari permainan biola mereka, yang menyebabkan mereka menang.
Semangat sekolah Risma tiba-tiba jatuh, seperti terhempas ketanah dengan hempasan yang sangat kuat. Apa yang mereka harapkan, ternyata tidak membuahkan hasil.
Mereka tidak menharapkan yang lainnya menang. Tapi mereka sangat berharap, Risma memenangkan perlombaan kali ini.
"Para siswa dan peserta lomba yang sangat saya sayangi. Kali ini, sekolah menentukan sebuah juara umum dari perlombaan kali ini," ucap kepala sekolah yang sedang berada di atas pangung sebagai perwakilan para juri
Tidak ada yang bersemangat untuk mendengarkan siapa yang telah menjadi juara umum kali ini. Sekolah Risma telah patah semangatnya, karna kekalahan yang Risma alami.
"Baiklah, dengan bangga saya selaku juri mengatakan juara umum dari perlombaan kita kali ini adalah ...."
Rasa tidak sabar telah menyelimuti semua peserta. Mereka sangat menantikan siapa yang menjadi juara umum kali ini.
Tidak bisa berkata apa-apa, teriakan histeris yang teman-teman Risma lakukan, membuat semuanya tersenyum bahagia.
Tidak disangka-sangka oleh mereka. Permainan biola Risma malah mendapatkan juara umum. Yang artinya, mereka adalah satu-satunya pemain yang akan ikut dalam lomba provinsi nantinya, tanpa takut tergeser sedikitpun.
Karna acara telah selesai, mereka pun bersiap-siap untuk pulang. Tapi sebelum itu, Risma ingin ketiolet untuk mencuci muka dan buang air kecil.
"Aku temani ya Ris, agar kamu gak nyasar nantinya," ucap Yudha.
__ADS_1
"Tidak perlu Yud, aku gak akan lama kok."
"Yakin kamu gak papa pergi sendirian?"
"Iya, gak usah cemas."
"Ya sudah, jangan lama-lama yah," kata Yudha pada akhirnya.
"Iya," kata Risma sambil berjalan meninggalkan Yudha dan yang lainnya.
Saat Risma sampai di depan toilet sekolah itu. Ia mendengarkan percakapan beberapa siswi sekolah itu. Mereka sedang membahas, apa yang terjadi di lomba barusan.
"Kok bisa sih, sekolah itu yang malahan mendapatkan juara umumnya," ucap salah satu gadis.
"Ya ampun Maya, kamu gak lihat yah, kalau gadis itu memainkan biolanya sangat amat bagus," kata temannya yang lain.
"Aku rasa, bagusan yang pengiring cowoknya dari pemain biola itu," kata Maya.
"Alah, bilang aja pemain cowoknya tampan kan? Makanya kamu bilang, dia mainnya bagus."
"Ih bukan, aku gak lihat pada tampannya atau ngaknya dia. Tapi, dia malah bagus dari pada gadis itu."
__ADS_1
"Aku tidak berpikir seperti itu sih May. Malahan, gadis itu yang paling bagus, sampai-sampai, aku tidak bisa menahan air mataku untuk jatuh."
"Iya, aku juga sama."