
"Kak Syima," kata Risma dengan air mata yang ingin tumpah.
Syima memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri sejak ia menamatkan sekolahnya di SMA Harapan Bunda.
Ia memilih untuk kuliah selama empat tahun di luar negeri. Dan ia juga memilih untuk menetap di luar negeri hingga ia menamatkan kuliahnya di sana.
"Kak Syima pulang kak?" tanya Risma dengan air mata sambil menghampiri Syima.
"Aku pasti pulang untuk melihat kamu memakai gaun pernikahan, Risma," kata Syima sambil memeluk Syima.
"Bukankah, kakak tidak bisa pulang sebelum kakak selesai kuliah?"
"Demi hari bahagia kamu, aku akan melakukan segala cara untuk bisa hadir dan menyaksikan kamu bahagia," kata Syima dengan mantap.
"Ternyata, adikku yang satu ini sudah sangat dewasa ya," kata Wira sambil menghampiri Syima dan Risma.
"Kak Wira," kata Syima sambil memeluk kakak sepupunya.
"Kamu curang Syim, kamu pulang saat pernikahan Risma. Tapi kamu tidak pulang saat pernikahan kakak," kata Wira sambil terus memeluk Syima dengan erat.
"Pernikahan kakak dua tahun yang lalu. Aku minta maaf tidak bisa pulang. Karena saat itu, aku masih tidak tahu caranya untuk minta izin pada pihak penanggung jawab."
__ADS_1
Mereka semua menikmati pertemuan yang sudah lama tidak terjadi. Kehadiran Syiam di hari bahagia mereka, menambah kebahagian bagi mereka semua.
Tidak hanya itu, Syima juga sudah melupakan rasa cintanya pada Yudha. Ia kembali bersama seseorang yang sangat spesial di hatinya. Mereka juga berencana untuk menikah setelah kelulusan Syima tahun depan.
Risma tidak pernah merasakan kebahagian seperti ini. Apalagi saat melihat, kedua kakak sepupunya juga sudah bahagia.
Wira sudah menikah dua tahun yang lalu. Ia menikah dengan Julia dan telah pun mendapatkan satu putri yang sangat cantik. Yang saat ini baru berusia satu tahun.
Sedangkan Syima juga sudah bahagia dengan kehidupannya yang sebentar lagi akan mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Kak Wira, malaikat yang kamu miliki sangat lucu ya," kata Syima sambil menggendong anak Wira.
"Aku minta maaf ya kak Wira. Aku lebih mementingkan egoku dari pada persaudaran kita."
"Kakak rasa tidak seperti itu Syima. Kamu tidak mementingkan ego mu dari persaudaraan kita. Buktinya saja, kita bisa melihat Risma tersenyum bahagia saat ini."
"Kak Wira benar. Kita telah berhasil membuat Risma bahagia dengan kehadiran Yudha. Kita telah berhasil kak," kata Syima sambil tersenyum penuh bahagia ketika melihat Yudha dan Risma sangat bahagia di atas pelaminan.
Waktu telah mengubah hidup manusia dari bahagia menjadi sedih, dan begitu pula sebaliknya.
Roda kehidupan terus saja berputar, menggantikan yang atas menjadi bawah, dan yang di bawah menjadi keatas.
__ADS_1
Begitulah hidup, sedih tidak selamanya akan bersedih. Bahagia juga tidak akan selamanya bahagia. Semua yang terjadi di dunia ini, hanyalah bersifat sementara saja. Tidak ada yang kekal abadi.
Risma yang dahulunya hidup dalam penantian yang panjang dalam kesedihan. Akhirnya bisa lepas dari belenggu yang menjeratnya. Dan ia bisa merasakan kebahagiaan dari orang lain.
Sedangkan Awanda, ia kini merasakan hidup dalam keputusaan dan rasa bersalah. Juga rasa penyesalan yang teramat menyiksa hidupnya saat ini.
Ia merasakan kebodohannya telah membuat orang yang paling ia sayang pergi menjauh. Dan tidak mungkin untuk ia raih kembali. Karena orang ia sayang, telah bahagia bersama orang lain.
Jalan hidup manusia, tidak ada yang tahu bagaimana kedepannya. Ingatlah, tidak akan ada kesempatan untuk yang kedua kali buat kita. Jikapun ada, ia tidak akan sama lagi.
Makanya, jika apa yang kita miliki saat ini, jaga dan sayangilah. Jangan biarkan ia lepas, apalagi jatuh ke tangan orang lain.
Sekian.
""""""""""'"""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""
Terima kasih banyak atas dukungannya. Sampai jumpa di karya aku yang lainnya. Semoga kalian puas dan bahagia dengan ending yang aku tuliskan.
Salam hangat dari aku, salam sayang dan cinta buat pembaca setia semuanya.
See you ....
__ADS_1