
"Ya sudah, Risma. Kita akan cari toilet umum saja kalau begitu. Kamu tidak perlu menunggu di depan toilet ini lagi."
"Tapikan ...."
"Ris, ini sekolah orang lain. Kita harus pulang sekarang. Biarkan mereka nongkrong di toilet selama apa mereka mahu."
"Ya susah kalo gitu."
Risma mendengarkan apa yang Yudha katakan. Ia menyerah dan berusaha menahan rasa ingin buang airnya.
Sebelum mereka pergi, tangan Risma ditahan oleh cowok yang sedang berada di sana bersamanya sejak tadi.
"Tunggu! Boleh kita kenalan terlebih dahulu?" kata cowok itu.
"Maaf, lain kali saja. Aku dan temanku harus pergi sekarang. Karna guru kami sedang menunggu, dan, temanku ini ingin ketoilet," ucap Yudha menjawab apa yang laki-laki itu katakan.
......
Kemarin adalah hari yang melelahkan bagi Risma dan yang lainnya. Khususnya bagi yang ikut lomba.
Mereka sampai di rumah masing-masing, setelah hari menjelang malam. Dan tidak punya banyak waktu untuk bersantai. Karna mereka harus masuk sekolah di pagi harinnya.
"Ris, gimana perjalanan kalian kemarin?" kata Wira, saat mereka sama-sama berangkat kesekolah.
"Biasa aja kak. Gak ada yang istimewa dan gak ada kendala juga," ucap Risma sedikit hangat sekarang.
"Wuah, bagus deh kalo gitu. Tapi akan lebih bagus lagi, jika ada hak yang istimewa saat perjalanan kalian kemarin," kata Wira sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
Risma hanya terdiam, namun pikirannya melayang saat mereka dalam perjalanan pulang kemarin.
Di mana ia tertidur tanpa sengaja di atas bahu Yudha. Dan Yudha juga ikut tertidur sambil memeluk tubuhnya. Terasa sangat hangat dekapan Yudha yang tanpa sengaja itu.
Kenyamanan yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Namun, saat bersama Yudha, ia kembali merasakan sebuah kehangatan yang sudah lama hilang.
"Ris!" kata Wira sambil menepuk pundak adiknya.
Seketika, tubuh munggil itu terperanjat kaget karna tepukan dari kakak sepupunya.
"Lho, kamu kok kaget gitu sih, Ris? Kamu melamun ya ...." kata Wira menggoda.
"Ng ... ngak kok, kak Wira apaan sih. Udah buat aku kaget, malah bilang aku melamun lagi."
"Nyatanya, kamu emang sedang melamun kok, Risma."
"Ngak," ucap Risma, namun wajahnya terlihat merona merah.
"Ngak, aku gak bohong."
Wira sangat menikmati mengganggu Risma sejak awal berangkat sekolah, hingga sampai di depan gerbang sekolah. Wira masih setia dengan berbagai godaan yang membuat Risma merasa sedikit kesal.
Untung saja, Risma yang saat ini adalah Risma yang sedikit berbeda dari yang kemarin-kemarin. Jika tidak, mungkin Wira tidak akan pernah punya kesempatan untuk tertawa bersama adik sepupunya yang satu ini.
"Oh ya Ris, kapan rencananya kalian akan pergi keluar provinsi untuk berlomba?"
"Dalam waktu dekat ini katanya kak Wira. Mungkin juga, terhitung beberapa hari lagi," kata Risma sambil terus berjalan.
__ADS_1
"Oh, bagus deh kalo gitu."
"Bagus? Apanya yang bagus?"
Risma menghentikan langkah kakinya saat mendengarkan Wira mengatakan kata bagus.
"Tidak ada, kaka hanya merasa bahagia, karna kamu akhirnya bisa ikut lomba mewakili sekolah kita, keluar provinsi lagi."
"Oh," kata Risma sambil nenganggukan kepalanya.
Ia mencoba menerima apa yang kakak sepupunya katakan. Walaupun, ia merasa sedikit aneh dengan apa yang Wira katakan itu.
.....
Benar saja apa yang Risma katakan, lombanya di adakan dalam minggu yang sama setelah seleksi pemilihan pemenang.
Risma dan Yudha harus berangkat tiga hari dari hari pemberitahuan pemenang waktu itu.
Tidak ada persiapan yang sangat berarti, yang mereka lakukan. Mereka hanya berlatih denagn waktu yang begitu singkat. Mencoba meresapi lirik yang baru saja mereka terima dua hari sebelum berangkat.
Mereka tidak bisa membawa penonton. Mereka hanya bisa berangkat bertiga saja. Karna luar kota, lumayan membutuhkan biaya yang besar jika harus membawa banyak penonton.
Sesampainya di kota, di mana tempat pertandingan akan di adakan. Risma san yang lainnya harus menginap di hotel. Karna perlombaan akan di adakan pada malam hari
Untungnya, semua perlengkapan dan fasilitas peserta dan guru pembimbing lomba, sudah disiapkan oleh pihak penyelenggara lomba tersebut.
Jadinya, mereka tidak perlu susah-susah buat mikir, di mana akan tempat yang cocok buat tinggal.
__ADS_1
Risma di antar oleh salah satu guru, yang bertugas sebagai pembimbing di dalam hotel itu, di sebuah kamar.
Awalnya, Risma pikir ia akan tinggal sendirian di kamar hotel yang luas. Tapi ternyata, ia punya seorang teman sekamar yang sudah sampai duluan di kamar itu.