Biola RismaWanda

Biola RismaWanda
27


__ADS_3

"Risma, lihat aku."


Risma melakukan apa yang Yudha katakan. Ia melihat Yudha yang berdiri dihadapannya saat ini.


"Risma, aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Hmz, bisakah kamu berbagi cerita masa lalu dan apa yang terjadi barusan denganku?"


Risma menatap wajah cerah Yudha yang selalu dihiasi senyum tipis setiap hari. Lalu, Risma menarik napasnya panjang-panjang.


Risma menceritakan apa yang terjadi di masa lalu secara singkat, namun padat. Ia juga menceritakan apa yang telah terjadi barusan. Kenapa ia bisa menangis, hingga ia memeluk Yudha dengan erat.


Kini, Yudha tahu apa alasan dibalik keterpurukan Risma selama bertahun-tahun setelah kepergian Wanda sahabatnya.


Ternyata, Wanda bukan hanya seorang sahabat bagi Risma. Melainkan cinta pertama yang telah sama-sama mengukir janji, untuk mengubah persahabatan menjadi cinta sejati yang sama-sama memiliki.


Yudha berusaha untuk tersenyum dan memberi semangat buat Risma. Padahal saat ini, hatinya juga sedang tidak baik setelah mendengarkan cerita pilu dari Risma.


"Ris, apa yang membuat kamu yakin, kalau Awan itu adalah Wanda?" tanya Yudha begitu penasaran dengan apa yang telah terjadi.


"Yudha, aku sangat kenal siapa Wanda. Ia punya bekas luka di pergelangan tangan kirinya. Itu semua, karena aku yang menyebabkan tangannya terluka."

__ADS_1


"Bagaimana kalau ada orang yang terluka di tempat yang sama?" tanya Yudha asal-asalan.


"Tidak mungkin! Mana ada kebetulan di dunia ini. Aku mungkin bisa terima dengan alasan kamu yang bilang, kalau wajah Wanda dan Awan itu sama. Tapi tidak dengan bekas luka yang ada di pergelangan tangannya."


Risma terlihat kesal dengan apa yang Yudha katakan. Baginya, Yudha bukan malah membantu dia. Tapi Yudha malahan membuat hatinya semakin resah dan sedih.


"Maafkan aku Risma. Aku janji, aku akan bantu kamu buat buktikan, kalau Awan dan Wanda adalah orang yang sama. Hanya berbeda nama saja."


Panggilan telfon dari pak Tirta, membuat Risma dan Yudha harus segera mengakhiri obrolan mereka berdua.


Pak Tirta meminta agar mereka berdua untuk segera bersiap-siap. Karena sebentar lagi, acara pembukaan perlombaan, akan segera dimulai.


Risma menganggukkan kepalanya. Menjawab apa yang Yudha katakan dengan anggukan saja. Itu adalah hobi Risma selama ini.


Yudha dan Risma berpisah di depan kamar Risma. Yudha melanjutkan langkahnya, sedangkan Risma masuk kedalam untuk bersiap-siap.


Saat Risma masuk, tidak ada Maya lagi di sana. Bukan hanya itu, barang-barang Maya yang awalnya berserakan, kini tidak terlihat satu pun lagi.


Risma menjadi bingung dengan apa yang ia lihat di kamar saat ini. Apakah yang telah terjadi, saat ia tidak ada tadi?

__ADS_1


Risma dibuat pusing dengan beberapa pertanyaan yang bermunculan di benaknya. Ia menduga-duga apa yang terjadi setelah ia tinggalkan.


Namun, apa yang ia pikirkan itu, harus segera berakhir saat ponselnya berbunyi. Dan ia segera bersiap-siap. Karena telfon yang masuk barusan, adalah panggilan dari Yudha. Yang mengingatkan ia, kalau dirinya harus segera bersiap-siap. Karena waktu pembukaan, dipercepat.


Tidak membutuhkan waktu lama, Risma telah siap untuk menghadiri acara pembukaan. Dengan baju batik dan rok hitam panjangnya. Ia terlihat sangat cantik saat ini. Ditambah dengan bedak tipis dan sedikit pemerah bibir pink yang sangat cocok dengan wajahnya. Ia terlihat sangat cantik saat ini.


Risma juga tidak pernah lupa hias rambut yang Yudha berikan. Jepit rambut lucu, yang selalu ia pakai saat menghadiri acara apapun.


Risma berjalan keluar dengan langkah cepat. Karena saat ini, Yudha sudah beberapa kali memanggilnya lewat telfon atau pun chat darin WA.


Saat ia terburu-buru, Risma tidak sengaja menabrak seorang gadis. Yang tak lain adalah, Maya.


"Maya!"


"Risma"


"Kamu kemana aja sih, Maya? Kenapa semua barang-barang mu tidak ada di kamar?"


"Maaf Risma, aku sedang buru-buru. Sebentar lagi, acara pembukaan akan segera dimulai. Sebaiknya, kamu juga ke sana."

__ADS_1


__ADS_2