Biola RismaWanda

Biola RismaWanda
7


__ADS_3

Beberapa hari belakangan ini, Syima terus saja bersikap aneh. Ia bertingkah layaknya bukan dirinya yang sesungguhnya.


Kedua sepupunya merasa bingung akibat perubahan sikap Syima. Syima tidak pernah bertingkah aneh sebelumnya.


Syima juga berubah dingin pada setiap temannya. Terutama Yudha, ia lebih tidak pernah terlihat bersama Yudha lagi sekarang.


"Kak Wira, apakah kaka udag tahu penyebab kak Syima berubah aneh?" kata Risma.


"Belum Ris, kaka juga bingung sekarang. Syima tidak mau cerita apapun pada kaka. Jadinya, ini sangat sulit untuk kaka pahami."


"Setahu aku, biasanya kak Syima pasti cerita apapun pada kaka bukan?"


"Iya, Syima memang selalu curhat pada kaka jika ada masalah. Tapi kali ini, ia tidak mau bicara apapun," kata Wira sambil menghentikan kegiatan menulisnya.


"Dia seperti kamu Risma, tapi bedanya. Aku tahu apa penyebab kamu terluka dan terpuruk. Sedangkan Syima, aku tidak tahu penyebabnya," ucap Wira dalam hati sambil melihat wajah datar adik sepupunya.


"Hai Risma, gak kekantin kamu?" kata Yudha yang tiba-tiba saja datang.


"Gak," ucap Risma singkat.


"Apa yang kamu mau, biar aku belikan dan akan aku bawa kepadamu."


"Tidak perlu, aku bisa kekantin sendiri jika lapar."


Yudha tidak tahu harus bilang apa, ia selalu tidak punya jawaban saat berada di samping Risma.

__ADS_1


Hatinya juga tidaj bersahabat jika ia berada di dekat Risma. Hatinya akan bertingkah hal yang tidak sesuai dengan keinginannya.


Wira melihat Yudha penuh arti. Sementara Yudha, ia melihat wajah Risma dengan penuh perasaan.


Sebagai sesama laki-laki, Wira paham dengan tatapan yang Yudha lontarkan buat Risma. Tatapan penuh harap yang tidak pernah terkabulkan.


"Kamu Yudha anak baru itukan?" kata Wira tiba-tiba.


"Iya kak, saya Yudha," ucap Yudha penuh hati-hati dan takut.


"Bisakah aku bicara padamu nanti?"


"Bisa kak, bisa."


"Baik kak," ucap Yudha sambil tersenyum manis.


Wira pun membalas senyum manis yang Yudha lontarkan.


Ketika bel istirahat berbunyi, semua siswa berlarian keluar dari kelas masing-masing.


Yudha berjalan cepat dengan rasa penasarannya untuk menuju taman belakang sekolah.


Saat Yudha sampai, ia belum melihat orang yang ingin ia temui. Yudha memilih duduk di salah satu kusi taman yang masih kosong, karna semua baru istirahat.


Lima menit menunggu, Wira pun menampakkan batang hidungnya. Wira berjalan menghampiri Yudha.

__ADS_1


"Maaf ya Yud, udah bikin kamu nunggu lama," kata Wira sambil duduk di sampung Yudha.


"Gak papa kak, aku juga baru datang kok."


"Aku tidak punya banyak waktu, aku langsung saja pada pokok pembicaraan kita. Alasan aku ingin bertemu dengan kamu di sini, hanya untuk membahas soal adikku Risma."


Yudha kaget saat Wira menyebutkan nama Risma. Ia tidak tahu, apakah yang akan Wira lakukan jika tahu, ia selalu mencari kesempatan untuk mencuri hati es gadis itu.


"Ada, ada apa de ... dengan Risma kak?" kata Yudha gelagapan.


"Jangan gugup Yudha, aku tidak akan melarang kamu untuk dekat dengan Risma. Hanya saja, aku ingin tahu, apa kamu benar-benar ingin dekat dengan adikku atau hanya ingin mempermainkannya. Karna aku tahu, dia adalah gadis yang berbeda dari yang lain."


"Jangan ragukan apa yang aku kejar selama ini kak Wira. Aku bukan tipe laki-laki yang suka mengejar gadis, hanya karna ia berbeda dengan yang lain," ucap Yudha mantap.


"Jika kamu benar-benar ingin mendapatkan hati Risma dengan niat sungguh-sungguh mencintainya. Maka aku akan membantu kamu untuk berjuang. Walaupun itu sangat sulit, sesulit mencari jarum dalam pasir."


"Maksud kaka?"


"Jika kamu ingin mendapatkan hati Risma. Aku sebagai saudara sepupunya, akan dengan senang hati membantu kamu berjuang."


"Kelihatannya, hati Risma sangat sulit untuk di taklukan ya kak? Sampai-sampai, kak Wira ingin membantu aku."


Wira diam saja, ia tidak berniat untuk menjawab apa yang Yudha katakan.


"Kak Wira, apakah yang sebenarnya terjadi dengan Risma. Bolehkah aku tahu, bagaimana kehidupan Risma?" kata Yudha pada akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2