
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Rasa kehilangan itu pasti ada dan akan membekas di rongga dada. Tak akan ada yang mampu menghapusnya selain keikhlasan yang bermuara di dalam jiwa."
▪▪▪
Sambutan hangat Shandra dapatkan saat dia baru saja sampai di kediaman Siska. Pelukan penuh kerinduan juga dia dapatkan dari sang sahabat. Rasanya dia tidak ingin moment seperti sekarang terlewatkan begitu saja. Akan bisa dipastikan bahwa seharian ini waktunya akan kedua gadis itu habiskan bersama.
"Sekarang Teh Shandra bawa pengawal euy." Godaan itu Shandra dapatkan dari Shakira yang merupakan adik dari sahabatnya.
"Body guard merangkap sopir," imbuh Farhan yang membuat seisi penghuni rumah tertawa riang, kecuali Shandra yang hanya menampilkan sedikit sunggingan.
"Kalian lanjutkan edisi kangen-kangenannya Tante mau ke belakang dulu. Ayo Shakira," ujar Ratih yang dibalas anggukan oleh ketiga muda-mudi itu.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Shandra pada sang sahabat yang tengah duduk di sebelahnya.
"Alhamdulillah, kamu?" sahut Siska dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat sempurna.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Shandra seadanya, dia tak mau memberitahu kondisinya yang sempat drop beberapa hari lalu.
Ratih datang dengan satu nampan yang penuh dengan beberapa makanan khas pedesaan. Dan Shakira mengekor di belakang dengan beberapa gelas minuman. "Ngobrolnya pending dulu, mending makan dulu ini. Maaf alakadarnya," ucap Ratih saat semua yang dia bawa sudah tersimpan rapi di atas meja.
"Terima kasih, Tante ini sudah lebih dari cukup," ujar Shandra dengan senyuman ramah penuh hormat. Dia sudah menganggap Ratih sepertinya ibunya sendiri. Ah, rasanya bayang-bayang sang ibu selalu saja mengiringi.
"Makasih, Tan. Maaf jadi merepotkan," kata Farhan membuka suaranya.
"Jangan sungkan kalau di sini mah. Anggap aja rumah sendiri," sahut Ratih. Dia menatap tak percaya dengan sosok laki-laki di hadapannya. Tak pernah terbayang dalam benaknya bahwa Shandra, sahabat dari putri sulungnya akan berjodoh dengan Farhan yang merupakan tetangganya dulu.
__ADS_1
Farhan hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan. "Iya, Tan."
"Gimana nih udah ada kabar baik belum?" tanya Ratih menggoda Farhan dan Shandra.
"Kami baik-baik saja, Tante," sahut Shandra yang mengira Ratih menanyakan kabar dirinya dan sang suami.
Ratih dan Siska saling bertukar pandang lantas tersenyum penuh arti menatap Shandra dan Farhan bergantian. "Kamu masih sama, Shan gak ada perubahan. Ternyata pernikahan enggak berefek apa-apa," ujar Siska dengan tawa renyah di akhir katanya.
"Mengapa jadi membahas perihal pernikahan? Tidak ada hubungannya sama sekali," ucap Shandra lalu meminum sirup berwarna hijau itu.
Farhan yang mengerti arah pembicaraan Ratih dan Siska hanya mampu diam dan mencoba menahan diri untuk tidak menyemburkan tawanya. Terlebih lagi melihat ekspresi wajah sang istri yang terlihat begitu lempeng tak mengerti.
"Teh Shandra mah polosnya kebangetan. Maksud Ibu sama Teh Siska itu...." Shakira melanjutkan kata-katanya dengan berbisik tepat di samping telinga Shandra.
Shandra diam beberapa saat untuk mencerna kata demi kata yang dibisikan Shakira. Wajah datar tanpa ekspresinya itu semakin bertambah datar. "Pikiran kamu terlalu jauh, Shakira. Lebih baik belajar sana," usir Shandra.
"Maafin Shakira yah, Shan," ucap Ratih tak enak. Shakira dan Shandra memang sering bersenda gurau setiap kali bertemu. Namun, candaan putri bungsunya sudah sedikit keterlaluan hingga membuat Shandra memasang ekspresi wajah seperti tadi.
Shandra hanya mengangguk maklum. "Tidak apa, Tan. Mungkin sayanya saja yang terlalu ambil perasan."
"Ini apa, Tan enak juga ternyata," kata Farhan memecah keheningan dan menghempas jauh-jauh kecanggungan yang kini tengah melanda.
"Itu teh namanya awug, bahan dasarnya dari tepung beras dan juga gula merah," beritahu Ratih.
Farhan hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Ratih. Dia sangat menikmati makanan yang tersaji di depan matanya.
"Gimana kabar orang tua kamu, Shan?" tanya Ratih.
__ADS_1
Shandra menunduk dengan perasaan yang sudah campur aduk. Rasanya sangat sulit untuk mengungkapkan kebenaran yang menimpanya. Farhan, yang menyadari perubahan dalam diri sang istri hanya mampu diam dan menatap kasihan. Kesakitan itu masih sangat terlihat jelas dari kedua sorot mata istrinya.
"Kok malah diem?" ujar Ratih bingung saat tak kunjung mendengar jawaban dari lawan bicaranya.
Shandra mendongak dan menatap Ratih yang juga tengah menatapnya dengan penuh keheranan. Dia mengembuskan napasnya berat serta melirik sekilas sang suami yang terlihat sedikit memberikan anggukan dan senyuman kecil. "Mohon maaf sebelumnya, Tante, Siska saya tidak memberitahu kalian...."
"Lho kok malah minta maaf sih?" potong Siska begitu tak sabar mendengar kelanjutan cerita sahabatnya.
"Mamah dan Papah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Mamah kehilangan nyawa serta Papah mengalami kelumpuhan total," terang Shandra dengan suara sedikit bergetar. Sebisa mungkin dia menahan tangisnya agar tidak tumpah di depan Ratih dan Siska.
Betapa terkejutnya sepasang anak dan ibu itu, kenyataan tersebut sangat sulit keduanya percaya. Siska yang memang duduk bersebelahan dengan Shandra memeluk erat tubuh sahabatnya yang terlihat lebih kurusan. Tanpa banyak bicara dan tak menuturkan ucapan bela sungkawa Siska mengelus pelan punggung sang sahabat. Dia juga pernah merasakan hal yang serupa seperti sahabatnya, yang dibutuhkan Shandra saat ini adalah dukungan bukan malah ucapan duka.
"Kenapa kamu gak ngasih kabar ke sini, Shan?" Pertanyaan itu Ratih lontarkan saat pelukan antara Shandra dan Siska terlepas.
"Kondisi Shandra drop, Tante. Fokus keluarga besar saat itu hanya tertuju pada kesembuhan Papah Rahman dan juga Shandra," terang Farhan.
Ratih mengangguk maklum. "Ikhlas, 'kan semuanya, Nak. Ini sudah menjadi takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala," tuturnya memberi pemahaman.
Hakikatnya tujuan akhir dari hidup manusia adalah kematian. Dunia hanyalah sebatas tempat singgah semata. Karena jauh di depan sana Allah telah mempersiapkan tempat yang begitu indah dan mengagumkan, akhirat.
"Terus gimana keadaan Om Rahman sekarang?" tanya Siska begitu penasaran.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik dari sebelumya," jawab Shandra dengan sedikit sunggingan. Dia harus kuat dan tegar, ini adalah wujud cinta Allah untuknya. Ujian untuk mengukur keimanan dan ketaqwaannya.
Ratih melihat bangga sosok Shandra yang tak menampakan kesedihan dan kesakitannya di depan banyak orang. Walau tak bisa dipungkiri rasa kehilangan dan kekosongan itu begitu kuat menggerotinya.
▪To be continue▪
__ADS_1