
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Kebahagiaan gue sederhana, sesederhana loe yang selalu ada di samping gue."
-Farhan-
▪▪▪
Dua bulan berselang kehidupan rumah tangga Farhan dan Shandra berjalan layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Walaupun kata cinta masih tak kunjung keluar dari sela bibir Shandra, tapi setidaknya Farhan bersyukur karena istrinya selalu membuat dia bahagia dengan hal-hal yang sederhana.
"Shan mana tas kerja gue, jangan lupa dasinya juga," pintanya dengan tangan yang sibuk mengobrak-abrik beberapa tumpukan file yang berserakan di atas tempat tidur.
Dengan cepat Shandra menuruti titah suaminya. "Ini," kata perempuan itu dengan seulas senyum tipis.
"Makasih," sahut Farhan dengan diiringi senyum indahnya. "Gue cinta loe, Shan." Kalimat itu tak pernah absen keluar dari kedua sela bibir Farhan, selepas bangun tidur, saat akan berangkat kantor, dan saat malam menjelang tidur. Kegiatan itu sudah berlangsung sekitar satu bulan belakangan.
Shandra hanya mengangguk dan tersenyum. "Saya tahu itu." Sahutan serupa yang selalu perempuan itu layangkan atas ucapan cinta dari suaminya. Farhan kembali memberikan senyumnya dan mengacak pelan kepala istri kakunya. "Gak ada jawaban lain," candanya yang berhasil membuat Shandra diam membisu.
"Becanda. Jangan terlalu dimasukkin hati dong," lanjut pria berpakaian formal itu.
"Nanti siang saya akan ke rumah Papah, sudah lama tidak melihat keadaannya," tutur Shandra meminta izin. Dia tidak ingin pembahasan yang suaminya layangkan menjadi semakin panjang.
"Mau gue anterin?" tawar Farhan yang dihadiahi gelengan kepala oleh istrinya. "Tidak usah, kamu harus bekerja. Saya bisa sendiri."
Farhan mengangguk mengerti. "Salamin ke Papah, maaf gue belum bisa ke sana," katanya. "Iya," sahut Shandra.
Semenjak kejadian di rumah sakit beberapa bulan lalu, Rahman memutuskan untuk tinggal di rumahnya dengan satu orang asisten rumah tangga, satu orang perawat, sopir dan satpam yang tinggal menetap menemani kesendiriannya. Shandra dan Farhan rutin setiap satu minggu sekali mengunjungi Rahman, dan sesekali juga menginap di sana. Tapi sudah sekitar dua minggu belakangan ini keduanya belum sempat berkunjung, karena kesibukan masing-masing.
"Sarapan dulu, Mas sudah saya siapkan," ucap Shandra mengingatkan suaminya yang tengah sibuk memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kerja.
"Iya, jangan lupa juga siapin kotak makanan buat nanti makan siang," sahutnya seperti biasa. Semenjak menikah perutnya hanya menerima makanan yang berasal dari tangan amatir sang istri, dia lebih suka masakan istrinya dibanding makanan di luar sana.
__ADS_1
Rumah tangga tanpa diliputi rasa cinta pun sangat indah dan membuat Farhan bahagia. Bagaimana jika keluarga kecilnya diliputi dengan cinta dan kasih sayang, pasti itu jauh lebih membahagiakan. Semoga saja cinta akan segera tumbuh di hati istrinya, doa dan harapan itu tak pernah henti Farhan lantunkan di setiap sujud terakhir salatnya.
▪▪▪
"Silakan masuk, Non." Sambutan hangat Shandra dapatkan dari asisten rumah tangga ayahnya.
"Papah di mana, Bi?" tanyanya seraya berjalan memasuki rumah penuh kenangan bersama dengan kedua orang tuanya.
"Lagi di taman belakang, Non," kata wanita paruh baya bernama Minah. "Terima kasih," balasnya seraya berjalan mencari keberadaan sang ayah.
Senyum Shandra merekah indah saat melihat keberadaan sang ayah yang tengah memberikan makan ikan-ikan di kolam yang berada di sekitaran taman. Langkahnya semakin lebar saat sang ayah menjalankan kursi rodanya untuk menghampiri dia. "Kamu ke mana aja, Sayang?" selorohnya sembari memeluk erat tubuh sang putri yang berjongkok di depannya.
"Maafkan Shandra, Pah," sahut Shandra setelah pelukannya terlepas. Bukannya menjelaskan dia justru menggaungkan permohonan maaf. Mengambil tangan sang ayah untuk disalami. "Kok tumben ke sini sendirian. Mantu Papah mana?" tanya Rahman.
"Mas Farhan sedang di kantor, Pah," jawabnya. Rahman terlihat mengerutkan keningnya tak percaya. "Kamu lagi ada masalah yah?" Sontak Shandra menggeleng. "Kenapa Papah bertanya seperti itu?"
Rahman menghela napas sejenak dan berkata, "Sesibuk apa pun Farhan biasanya dia selalu nemenin kamu. Tapi sekarang kok beda." Shandra tersenyum tipis dan menatap iris mata teduh sang ayah. "Mas Farhan sedang ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan, Pah. Tapi katanya nanti Mas Farhan akan menjemput Shandra, itu pun jika pekerjaannya sudah selesai."
Rahman hanya mengangguk saja. "Masuk yuk, kamu pasti belum makan siang," tuturnya yang dihadiahi sunggingan tipis sang putri.
"Apa kamu gak berencana untuk memberikan Papah dan mertua kamu cucu, Nak?" tanya Rahman setelah menyelesaikan ritual makannya.
Shandra hanya tersenyum tipis lantas berucap, "Doakan saja yang terbaik." Rahman semakin melebarkan senyumnya. "Papah akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kebahagian kamu dan Farhan."
Perbincangan santai di antara sepasang anak dan ayah itu semakin larut dan ngalor ngidul ke mana-mana. Dua minggu tidak berjumpa, cukup membuat rasa rindu Rahman menggunung tinggi. Tapi dia juga sudah tidak berhak lagi untuk meminta sang putri agar selalu menemani masa-masa tuanya. Karena saat ini kondisinya sudah berbeda, ada Farhan yang merupakan suami sah dari anaknya. Lelaki pilihan dia untuk mendampingi sang putri menapaki kehidupan di dunia yang fana ini.
"Assalamualaikum, Pah," suara Farhan yang baru saja memasuki ruang makan menghentikan obrolan santai di antara sepasang ayah dan anak itu.
"Wa'alaikumussalam," jawab keduanya serempak. "Kata Shandra kamu sibuk kerja, Han. Kok bisa ke sini?" tanya Rahman setelah menegak setengah air putih.
Farhan menyalami papah mertuanya sebelum dia memundurkan kursi dan duduk di samping sang istri. "Iya ini juga baru pulang meeting langsung ke sini, Pah," jawabnya.
__ADS_1
"Kamu pasti lapar, Shandra layani suami kamu Papah mau ke kamar sebentar," ucap Rahman yang diangguki oleh putrinya.
"Makan?" seloroh Shandra memastikan. Gelengan kepala Farhan berikan sebagai jawaban. "Gue udah makan bekal makan siang yang tadi pagi loe siapin," jelasnya.
"Ya sudah lebih baik sekarang kamu istirahat sejenak. Kamu pasti lelah," titahnya yang dengan telaten mengambil alih jas hitam yang suaminya berikan.
"Loe emang paling ngertiin gue," kata Farhan dengan sunggingan lebar. Shandra mengantarkan suaminya ke kamar lantas dia kembali ke ruang makan untuk membantu Minah merapikan meja makan.
"Tidak usah, Non ini sudah menjadi pekerjaan Bibi. Lebih baik Non istirahat saja," tolak Minah tak enak. Anak majikannya itu selalu saja membantu pekerjaan dia pada saat berkunjung ke rumah tuannya.
"Jangan menolak seperti itu, Bi," selanya yang sudah mulai memasukkan piring-piring kotor ke dalam bak pencucian. Minah hanya mendesah pasrah tanpa perlawanan. Percuma saja jika dia terus menolak, akhirnya dia akan kalah juga dan menerima bantuan dari anak majikannya.
▪▪▪
"Kenapa berhenti di sini, Mas?" tanya Shandra heran karena suaminya itu memarkirkan mobil di sebuah pasar malam. "Pengen aja gitu mampir ke sini kaya anak muda. Pacaran kita," katanya dengan kerlingan mata jail.
Shandra menunduk dalam mendengar perkataan suaminya yang begitu frontal. "Kita sudah menikah, tidak pantas pacaran di tempat umum seperti ini," ungkap Shandra menyatakan keberatannya.
"Nah maka dari itu kita, 'kan udah halal jadi bebas dong mau pacaran di mana aja. Muda-mudi yang belum halal aja pada gak tau malu ngumbar kemesraan, sedangkan kita yang udah halal masa iya kalah sama mereka," tuturnya santai seraya menggandeng tangan sang istri untuk menuju salah satu penjual gulali.
"Lepaskan, Mas," pinta Shandra yang begitu risih menjadi pusat perhatian karena ulah suaminya yang begitu lancang menggandeng tangannya.
Farhan menampilkan deretan gigi putih bersihnya lantas berkata, "Sorry tadi refleks aja. Jangan salahin gue, tapi salahin aja tangan gue yang suka nyosor-nyosor mulu." Shandra hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan suaminya.
"Kamu memalukan, Mas," ejek Shandra pada suaminya yang tanpa sungkan memakan gulali di depan penjualnya bersama dengan sejumlah anak-anak kecil.
Farhan hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Ngapain juga malu, orang gue beli gak nyolong. Iya gak, Mang?" Penjual gulali itu hanya mengangguk dan tersenyum canggung.
"Naik biang lala yuk," ajaknya yang tanpa permisi kembali menarik pergelangan tangan Shandra. "Saya tidak mau. Kamu saja sendirian," tolak Shandra dan dengan cepat melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Yaelah bentaran doang, Shan. Kali-kali nyenengin hati suami. Gak dosa kok," ujarnya sedikit memaksa.
__ADS_1
Shandra hanya mendesah pasrah. "Ya sudah terserah kamu saja." Farhan bersorak senang akhirnya dia bisa kembali menghabiskan waktu bersama dengan istri kakunya. Kesibukannya dalam mencari pundi-pundi rupiah menyulitkan dia untuk membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Tapi dia bersyukur karena malam ini masih diberi kesempatan untuk sejenak rehat dari penatnya rutinitas sehari-hari.
▪To be continue▪