Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
Part 15 | Perpisahan


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Jika perpisahan adalah jalan terakhir untuk keduanya, tak apa mungkin memang takdir cinta sedang tak berpihak pada mereka."


▪▪▪


Semua orang yang mendengarkan penjelasan dari dokter terdiam dengan pikiran yang entah berkelana ke mana. Shandra begitu enggan untuk berdiri dari posisinya, jangankan untuk berdiri mendongak saja rasanya dia tidak sanggup. Fatimah sudah duduk bersandar di dada suaminya, menangisi sang putra yang tengah tak sadarkan diri dengan kenyataan yang membuat hatinya teriris sakit. Rahman duduk di kursi roda samping sang putri dengan rahang mengencang dan wajah merah padam. Dia merasa gagal menjadi seorang ayah yang salah memilihkan jodoh untuk putri semata wayang.


"Nak, bangunlah. Kita pergi sekarang," katanya seraya membelai lembut puncak kepala sang putri.


Shandra mengangkat kepalanya, menatap kedua manik mata teduh milik sang ayah penuh tanya. Mengapa ayahnya berkata demikian?


"Kita mulai hidup baru berdua. Papah enggak akan memaksa kamu untuk tetap bersama laki-laki itu," ucapnya seraya menatap tak suka ruangan yang menampung sang menantu.


Shandra menggeleng pelan dan memegang tangan ayahnya. "Shandra harus tetap bersama dengan Mas Farhan, Pah. Dia masih suami Shandra," tutur perempuan itu melemah saat di akhir katanya. Mau bagaimana pun suaminya, ridho dia berada di tangan sang suami. Dia tidak ingin dilaknat para malaikat karena pergi tanpa izin suaminya.


Rahman menggeleng keras. "Saat dia memutuskan untuk pergi dengan perempuan itu, dia sudah bukan suami kamu lagi."


"Shandra percaya Mas Farhan tidak seperti yang kita pikirkan. Kita belum mendengar penjelasannya, Pah," ungkap Shandra.

__ADS_1


Percaya? Rasanya satu kata itu sudah pupus dari ingatannya saat dia melihat Sarahlah, perempuan yang meninggal dalam keadaan hamil muda dalam kecelakaan bersama suaminya. Sekuat apa pun dia melawan kenyataan pahit itu, tapi pada dasarnya kenyataan itu mampu membuat luka di hatinya. Dia akui bahwa belum ada cinta untuk sang suami, tapi rasa kecewa atas tindakan suaminya membuat dia sakit hati.


Jika memang sudah tak ingin untuk melanjutkan rumah tangga bersama, tak apa dia akan menerimanya dengan lapang dada. Bukan justru berbuat hal gila di belakangnya, sungguh itu sangat melukai hatinya. Farhan, laki-laki pertama yang hadir dalam hidupnya, tapi dia juga menjadi laki-laki pertama yang menorehkan luka tida tara. Kesan pertama yang sungguh tak mengenakkan baginya.


"Papah sudah tidak ingin mendengar kebohongan yang dia rangkai," sangkal Rahman begitu diliputi emosi.


Permata hatinya, pelipur laranya disakiti oleh laki-laki tak tahu diri, dia tidak akan menerima hal itu. Susah payah dia mendidik dan membesarkan sang putri dengan limpahan kasih sayang, tapi yang kini putrinya dapatkan hanyalah rasa sakit.


"Tapi, Pah...."


"Tidak ada tapi-tapian! Pulang sekarang dan tinggalkan dia," putusnya tak terbantahkan.


"Pulanglah, maafkan anak Mamah yang sudah melukai dan menyakiti hatimu. Mamah ikhlas jika memang itu yang terbaik untuk kebahagiaan kamu, karena memang anak Mamahlah yang menghancurkan semuanya," ujar Fatimah saat sudah berada di dekat menantunya.


Shandra hanya diam menatap kedua mata mertuanya yang begitu menyiratkan rasa kecewa dan sakit hati yang begitu dalam.


"Jangan benci Mamah jika kalian sudah berpisah," cicitnya seraya memeluk erat tubuh sang menantu yang begitu dia sayangi.


Shandra membalas pelukan hangat dari Fatimah, dentingan air mata sudah mulai turun dari kedua sudut matanya. Perkataan sang mertua begitu membuat hatinya pilu. Fatimah melepaskan rengkuhannya dan menghapus cairan bening yang begitu lancang membanjiri wajah cantik sang menantu. "Terima kasih sudah menjadi menantu terbaik untuk Mamah dan maafkan putra Mamah."

__ADS_1


Shandra menggeleng lemah. "Mamah jangan bicara seperti itu," sahutnya tak suka.


Fatimah kembali membawa tubuh sang menantu ke dalam dekapannya. Tangannya tak henti mengelus punggung dan puncak kepala sang menantu penuh sayang. Bibirnya pun tak pernah lelah melantunkan kata maaf atas perbuatan sang putra yang begitu kurang ajar melukai hati perempuan seperti Shandra.


▪▪▪


Fatimah menunggui putra semata wayangnya dengan hati cemas dan berdebar. Sebesar apa pun kesalahan sang putra dia tetap anaknya yang harus dia jaga dan rawat dengan sepenuh hati. Meski ada rasa tak suka saat dia menatap wajah tak sadarkan diri sang putra.


Dia duduk di kursi samping brankar putranya, namun Farhan belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Dia hanya seorang diri di sana karena sang suami kini tengah berada di luar kota untuk mengurus bisnis mereka yang terbengkalai akibat ulah putranya.


"Kenapa kamu berani berbuat hal seperti ini, Nak? Mamah dan Papah tidak mengajarkan kamu hal seperti itu. Andaikan kamu memberitahu kami kalau kamu sudah memiliki gadis lain yang ingin dinikahi, kami pasti akan membatalkan perjodohan itu." Raut penyesalan dan rasa kecewa sangat mendominasi di wajah renta Fatimah.


Dia tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada sang putra, karena mungkin kejadian ini terjadi berawal dari dia dan sang suami. Jika perjodohan itu tidak terjadi mungkin hal seperti ini pun tidak akan pernah dialami. Dia harus banyak bertafakur dan berserah diri pada Sang Illahi. Tak seharusnya dia menyalahkan takdirnya kini.


Tak bertemu dengan menantunya, menimbulkan rasa rindu yang begitu mendalam, seperti ada yang  kosong dalam hatinya. Perempuan dengan paras cantik yang dihiasi dengan lesung pipit, bibir tipis, mata sipit, dan hidung bangir. Namun, kecantikan itu seakan lenyap karena sang menantu yang selalu menampakkan wajah datar tanpa ekspresi. Hanya sesekali dia melihat senyum tipis yang menantunya sunggingkan. Ya, hanya hitungan jari saja.


Namun, seketika senyum itu hilang tergantikan dengan wajah sembap penuh air mata yang disebabkan oleh putra kesayangannya. Dua kali dia melihat air mata itu, saat kepergian besannya dan saat sang putra melakukan hal yang menyakiti menantu kakunya beberapa jam lalu. Menantunya itu sangat pandai menutupi apa yang tengah dia rasakan di hadapan banyak orang, tapi jika dia sudah tidak kuat lagi untuk menutupi semuanya, dia pun sama seperti kebanyakan perempuan lainnya yang bisa mengeluarkan air mata saat hatinya disakiti.


▪To be continue▪

__ADS_1


__ADS_2