
"Kemarahan boleh saja menguasi jiwa dan ragamu, tapi jangan biarkan dia memperbudakmu hingga lepas kendali dan justru melukai hati seseorang yang teramat dicintai."
▪▪▪
Terlihat seorang wanita paruh baya dan juga perempuan yang tengah hamil besar tengah duduk dan menatap layar televisi di hadapannya. Sepasang mertua dan menantu itu sangat dekat dan akrab, sesekali mereka tertawa pada saat menonton tayangan yang berlangsung. Semenjak kehamilannya menginjak usia tri semester ketiga, dia jadi lebih suka berdiam diri di rumah sembari menonton televisi. Kegiatan yang dulunya sangat tidak perempuan itu sukai, tapi kini justru amat sangat disukai. Sepertinya sang jabang bayi akan menuruni sifat sang ayah yang begitu menggandrungi layar datar itu.
"Mah Shandra ingin memakan siomay yang berada di minimarket depan," katanya dengan wajah memohon pada sang ibu mertua. Dengan senyum lebar wanita paruh baya itu berucap, "Tentu, Sayang apalagi ini permintaan pertama kamu semenjak hamil."
Kehamilan Shandra memang tak pernah rewel dan menyusahkan, dia tak mengalami morning sicknes dan mengidam pun sepertinya baru kali ini perempuan itu rasakan. Tentu saja hal itu disambut suka cita oleh sang mamah mertua, beliau sudah sangat menanti-nantikannya.
"Kamu tunggu bentar di sini, biar Mamah beli dulu," tutur Fatimah dengan seulas senyum tipis, tapi wanita hamil itu terlihat menggeleng tak setuju. "Shandra ingin makan di sana, Mah," beritahunya.
"Ya udah ayo," ajak Fatimah lembut dan bangkit dari duduknya. Shandra sedikit menyunggingkan senyumnya dan menyambut hangat tangan sang ibu mertua, kedua wanita beda generasi itu berjalan dengan bergandengan tangan.
"Mau pake apa aja, Sayang," seloroh Fatimah saat mereka sudah sampai di tempat tujuan. "Tahu putih sama siomay saja, Mah," jawabnya setelah dia duduk di kursi yang berada di dekat penjual tersebut.
__ADS_1
"Mamah mau beli makanan ringan dulu ke dalam, kamu tunggu di sini sebentar," ucap Fatimah yang diangguki oleh menantunya. Shandra sedang asik menikmati sepiring siomay yang begitu menggiurkan dan membuatnya begitu ketagihan.
Namun di tengah kegiatan makan, Shandra dikejutkan dengan kedatangan seorang laki-laki paruh baya yang begitu lancang memegang tangannya. "Lepaskan saya!" tegas Shandra dengan mata menyala tajam. Dia paling tidak suka diperlakukan seperti itu, terlebih lagi oleh orang asing yang tak dikenalnya.
Laki-laki paruh baya dengan pakaian serba hitam itu tanpa aba-aba membius Shandra, dan membawa wanita hamil itu ke dalam mobil. Orang-orang yang melihat kejadian itu hanya mampu diam ketakutan, mereka tidak berani untuk ikut campur ataupun berniat menolong Shandra. Fatimah yang baru saja keluar dari mini market dikagetkan dengan kericuhan orang-orang yang tengah berkumpul mengelilingi penjual siomay. Perasaannya menjadi tak enak dan dengan segera wanita berusia senja itu melangkahkan kakinya ke sana.
"Ada apa ini?" tanyanya yang langsung menjadi pusat perhatian. Penjual siomay yang memang masih mengingat dengan jelas wajah Fatimah langsung berkata, "Putri Ibu dibawa oleh seorang laki-laki berbaju hitam."
Tubuh Fatimah langsung menegang dengan jantung berdebar hebat. "Ke mana dia membawa menantu saya?" selorohnya dengan suara bergetar dan wajah yang mulai memucat karena khawatir. Semua orang yang ada di sana hanya menggeleng pelan, hal itu membuat Fatimah semakin dirundung ketakutan yang semakin besar.
Dengan langkah lebar wanita paruh baya itu berlari ke apartemen anaknya, dia harus segera menghubungi sang putra agar menantunya segera ditemukan. Mulutnya tak henti-henti mengucap istigfar guna untuk menenangkan diri. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa orang itu begitu tega menculik wanita hamil seperti menantunya.
▪▪▪
Fatimah bergidik ngeri dengan kemarahan yang putranya tunjukan. Baru kali ini sang putra berbicara dengan nada tinggi dan memarahinya. Tapi dia memakluminya, karena memang dia salah dalam hal ini.
__ADS_1
"Itu keinginan pertama Shandra, Mamah tidak bisa menolaknya," sahut Fatimah dengan suara lemah.
"Tapi bisakan Mamah yang membelikannya dan tidak membiarkan istri Farhan keluar." Emosi dalam dirinya sudah tidak bisa dikendalikan lagi, tapi akalnya seakan meminta dia untuk berhenti menyalahkan ibunya.
"Maafkan Mamah, Han," katanya dengan isakan pelan. Dia pun merasa gagal dan lalai dalam menjaga sang menantu, dia menyadari hal itu. Farhan terlihat melunak saat mendengar isak tangis dari bibir sang ibu. Menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar, kegiatan itu dia lakukan secara berulang-ulang. "Maafkan Farhan karena sudah lepas kontrol, Mah," tuturnya dengan intonasi lembut.
Fatimah menghampiri putranya yang masih berdiri mondar-mandir di depan sana, dengan tanpa diaba-aba wanita itu memeluk tubuh tegap putranya. "Mamah yang seharusnya minta maaf sama kamu, karena enggak bisa menjaga Shandra dengan baik," ungkapnya dengan kepala yang dia sandarkan pada dada bidang sang putra.
Farhan hanya diam dan mencoba menenangkan tangis sang ibu dengan mengelus lembut punggungnya. Dia harus segera bertindak sebelum semuanya terlambat. Istri dan calon anaknya tengah dalam keadaan darurat, dan sangat membutuhkan bantuannya.
"Mamah tunggu di sini, doakan Farhan semoga bisa membawa Shandra dalam keadaan tidak kurang suatu apa pun," ucapnya seraya mencium punggung tangan sang ibu lembut dan mengecupnya cukup lama.
Fatimah semakin terisak dibuatnya, dia mencium kening sang putra dengan doa yang mengalun indah dari sela bibirnya. "Mamah akan mendoakan kamu, Nak. Bawalah pulang istri dan calon anak kamu kembali ke sini, dan semoga Allah mempermudah segala urusan kamu," ujar wanita itu yang kembali membawa tubuh sang putra ke dalam dekapannya. Perasaannya begitu berat untuk melepaskan Farhan, entah apa yang mengganjal hatinya.
"Mamah takut kamu kenapa-napa, Nak," lirihnya yang sangat enggan untuk melepaskan sang putra pergi. Farhan membalas hangat rengkuhan tangan ibunya. "Farhan akan baik-baik aja. Mamah jangan khawatir," kata laki-laki itu menenangkan sang ibu.
__ADS_1
Dengan berat hati Fatimah mengurai pelukannya, dia tidak boleh terlalu larut dengan kecemasan yang tak beralasan. Menantunya dalam bahaya dan harus segera diselamatkan. "Mamah gak mau tau kamu harus pulang dalam keadaan utuh seperti sekarang, dengan Shandra di samping kamu," pinta wanita itu dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Farhan hanya mengangguk dan mengangkat kedua sudut bibirnya sebagai jawaban.
▪To Be Continue▪