Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
Part 24 | Sebuah Ajakan


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Bukannya tak ingin memperbaiki hubungan, hanya saja hati ini belum siap untuk menghadapi kenyataan."


-Shandra-


▪▪▪


Tanpa pikir panjang lagi Farhan memutuskan untuk segera mencari keberadaan istrinya. Langkah dia terhenti tepat di depan pintu kamar mandi perempuan. Dia bingung tapi sekaligus cemas, namun tak mungkin juga jika dia harus menerobos masuk ke ruang pribadi lawan jenisnya. Bisa dibasmi tanpa ampun jika ketahuan.


"Ngapain Mas berdiri di sini? Toilet laki-laki ada di sebelah kiri, Mas," ucap seorang cleaning service yang tengah berdiri dengan sebuah ember dan alat pel lantai.


Farhan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, lantas memberikan cengiran tanpa dosa. "Istri saya di dalam, Mbak tapi gak mungkin juga dong kalau saya masuk ke sana," beritahunya sebisa mungkin merendam rasa malu dan tengsin.


Pegawai restoran itu mencoba untuk menahan tawanya agar tak pecah di hadapan di Farhan. Tapi Farhan sudah menangkap sinyal kalau perempuan muda di depannya sebentar lagi akan menyemburkan tawa penuh ejekan. "Kalau mau ketawa ya ketawa aja. Gak usah pake acara ditahan-tahan segala."


Sang pegawai yang bertugas untuk membersihkan kamar mandi itu meringis, merasa tak enak hati pada pengujung restoran tempat dimana dia bekerja. "Maaf, Mas saya gak bermaksud begitu---"


Dengan cepat Farhan memotong ucapannya. "Masuk ke dalam dan cari istri saya," titah Farhan seraya memperlihatkan bingkai foto yang kemarin sempat dia ambil tanpa izin dari gawai istrinya.


Perempuan itu mengangguk dan segera memasuki ruangan dengan ukuran yang cukup lumayan luas tersebut. Membuka bilik demi bilik kamar mandi tapi sama sekali tak mendapati wanita yang berada dalam foto yang ditunjukkan oleh Farhan.

__ADS_1


"Ada tidak?" todong Farhan tak sabaran. Gelengan kepala yang diberikan pegawai restoran itu tanpa sadar membuat helaan napas berat keluar dari sela bibir Farhan.


Farhan langsung melengos begitu saja setelah mengucapkan terima kasih. Kedua tungkai Farhan semakin cepat saat melihat keberadaan istrinya yang ternyata sudah duduk manis di tempat semula.


"Loe ke mana aja, Shan? Gue cariin juga daritadi," sembur Farhan saat dia baru saja mendaratkan bokongnya di kursi kosong yang berseberangan dengan sang istri.


"Ke kamar mandi," jawab Shandra apa adanya. Kedua mata Farhan memicing tak percaya. "Jangan boongin gue, Shan. Orang jelas-jelas barusan gue ke toilet buat cari loe, tapi loe-nya gak ada."


Shandra mengembuskan napas pelan sebelum menjawab, "Selepas saya dari kamar mandi, saya berbincang-bincang sejenak dengan ibu dan anak itu," Shandra menunjukan jempol kanannya ke arah tempat di mana ada seorang ibu muda dan juga anak kecil yang usianya berkisar tiga tahunan, "saya tidak ingin menggangu kamu yang tengah asik berbicara dengan Mas Satya. Jadi saya memutuskan untuk melipir sejenak ke sana," terangnya.


Farhan mendengus saat mendengar Shandra memanggil nama Satya dengan embel-embel kata 'Mas' di depannya. Dia saja memerlukan cukup banyak waktu agar sang istri memanggilnya dengan sebutan demikian, tapi lihatlah Satya yang bukan siapa-siapa justru dengan mudah mendapatkan panggilan itu.


Farhan menghela napas singkat sebelum berucap, "Udahlah lupain aja. Gak penting juga." Shandra mengangguk polos dan justru menambah kadar kedongkolan Farhan meningkat berkali-kali lipat.


"Ya sudah mari kita pulang, hari juga sudah mulai sore," katanya yang diangguki oleh Farhan.


▪▪▪


Sesampainya di rumah baik Farhan maupun Shandra, keduanya secara bergiliran membersihkan tubuh yang sudah sangat lengket. Shandra dengan sangat antusias membongkar buku-buku yang tadi dibelinya di toko. Dia duduk bersila dengan punggung menyandar di kepala ranjang, dan juga sebuah bantal yang sengaja dia jadikan alas untuk bacanya.


"Salat Magrib dulu, Shan," peringat Farhan yang sudah tampil rapi dengan baju koko, peci dan juga sarung. Allah sudah memanggilnya untuk segera bergegas ke masjid.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara Shandra segera mengikuti titah suaminya. "Gue ke masjid dulu, assalamualaikum." Shandra mengangguk sebelum menutup pintu kamar mandi dan membalas ucapan salam dari suaminya.


Shandra menggelar sejadah dan juga memakai perlengkapan salatnya. Suara takbir menggema indah dari sela bibir tipisnya hingga lantunan salam terdengar,  menandakan bahwa salatnya telah usai. Kepala serta kedua tangannya menengadah ke atas, berdoa dengan begitu khidmat. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, dia mengambil Mushaf yang berada di deretan rak buku paling atas samping tempatnya berada. Membacanya dengan tartil dan penuh hati-hati, menunggu waktu Isya datang dia habiskan untuk tadarus Al-qur'an.


Suara ketukan pintu dengan dibarengi kemunculan suaminya menyambut indra penglihatan Shandra. Dia bangkit dan menyalami sang suami yang sudah duduk di tepi ranjang dengan kaki selonjoran. "Mau saya buatkan teh atau kopi, Mas?" tawarnya.


Farhan mengeleng pelan dan meminta Shandra untuk duduk di sampingnya. Shandra menurut tanpa sempat untuk membuka mukena yang digunakannya, karena Farhan yang meminta dia untuk tetap memakainya.


"Shan gue mau rumah tangga kita berjalan sebagaimana mestinya pasangan di luaran sana. Gue rasa sekarang saatnya buat kita saling membuka hati dan memperbaiki semuanya," tutur Farhan dengan netra yang menyorot ke arah istrinya.


Shandra diam dan menunduk dalam dengan debaran aneh yang tiba-tiba saja dia rasakan. "Akan saya coba," ujar Shandra penuh keraguan. Hati dan mentalnya belumlah siap untuk membuka lembaran baru. Dia takut rumah tangganya tidak akan berjalan normal karena terlalu banyak perbedaan.


"Gue gak akan maksa loe buat cinta sama gue, tapi gue minta sama loe buat buka hati loe," ungkap Farhan lembut.


"Terima kasih," sahut Shandra di luar perkiraan Farhan. Lelaki itu hanya mampu tersenyum miris, meratapi nasibnya yang sudah terlanjur jatuh pada pesona sang istri kaku.


"Ya udah mending sekarang loe istirahat duluan. Gue harus nyiapin berkas-berkas kantor yang besok harus gue bawa meeting," katanya yang mendapat anggukan kepala singkat dari Shandra. Farhan berencana untuk kembali ke kantor besok pagi, dan tadi sepulang dia mengajak sang istri jalan-jalan ayahnya  langsung menunjuk dia untuk mewakili sebuah pertemuan bisnis.


"Maafkan saya, Mas. Saya belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran kamu. Hati saya masih meragu," gumamnya saat melihat pintu kamar yang sudah tertutup kembali. 


▪To Be Continue▪

__ADS_1


__ADS_2