Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
14 | Kenyataan Yang Menyakitkan


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Setiap ujian yang datang menghadang tak lebih hanya untuk mengukur tingkat keimanan dan ketaqwaan kita sebagai seorang hamba."


▪▪▪


Hari semakin larut bahkan sudah mulai berselimut kabut. Rintik hujan sedikit demi sedikit mulai mengguyur bumi. Namun, tanda kedatangan sang suami sama sekali belum terlihat. Perempuan dengan balutan ghamis rumahan itu tak bisa duduk dengan tenang, terlebih lagi jam sudah menunjukan pukul dua dini hari. Rasa kantuk pun sedari tadi sudah menyerangnya, tapi dia berusaha melawan rasa kantuk itu.


Dengan ragu dia mencoba untuk menghubungi suaminya, rasa cemas tengah menggeroti jiwa dan raganya. Panggilan tersambung tapi tak diangkat sama sekali, membuat Shandra mengembuskan napas penuh kekecewaan. Dia akhirnya menyerah dan memilih untuk merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Matanya mulai terpejam karena memang rasa kantuk sudah sedari tadi menyerang. Wajah datarnya terlihat begitu damai dan tenang saat tertidur, tapi itu hanya sekitar satu jam lebih saja, karena suara deringan ponselnya berbunyi di tengah keheningan malam. Sedikit demi sedikit netranya yang terpejam mulai terbuka, keningnya mengernyit saat nomor tak dikenal yang tertera di sana. Dengan ragu jempolnya mengangkat sambungan telepon tersebut.


"Selamat malam. Apakah benar dengan Ibu Shandra?" sapa orang di seberang sana. Kening Shandra semakin mengkerut saat mendapati suara asing.


"Selamat malam. Ya dengan saya sendiri," sahut Shandra.


"Saya dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa suami Ibu mengalami kecelakaan. Bisakah Ibu datang segera ke rumah sakit...," ucapnya yang membuat tubuh Shandra menegang bukan main.


"Baik, saya akan segera ke sana," balas Shandra. Setelah sambungan terputus dengan cepat perempuan itu mengambil kunci mobil dan menjalankannya menuju tempat tujuan.


Bibirnya tak pernah lelah mengalunkan dzikir dan doa terbaik untuk sang suami yang masih dia pertanyakan keadaanya. Apakah ini yang sedari tadi membuat perasaan dia dilanda kecemasan luar biasa? Rasanya persendian dia lemas untuk kembali menginjakkan kakinya di gedung yang didominasi cat putih itu. Bayangan beberapa bulan lalu menari-nari mengitari otaknya. Rasa takut sangat jelas wanita berusia dua puluh lima tahun itu rasakan. Namun, dia begitu pandai menutupi perasaannya dengan wajah datar seperti biasa.


"Maaf ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya seorang resepsionis saat Shandra baru saja sampai di rumah sakit. Sekitar kurang lebih pukul empat subuh dia sampai di rumah sakit.

__ADS_1


"Apakah ada pasien atas nama Farhan Hamid Firmansyah?" tanyanya. Dalam hati dia berdoa semoga saja orang yang tadi menghubungi dia hanyalah orang iseng.


Setelah mengecek data pasien, resepsionis tersebut mengangguk pelan. "Ada, Bu. Pasien baru baru saja dilarikan ke ruang UGD."


Deg! Jantung Shandra serasa merosot ke bawah begitu saja. Apa yang dia takutkan menjadi kenyataan, dengan langkah gontai dia mengayunkan kakinya menuju ruangan tempat di mana suaminya berada. Sesampainya di sana dia terpaku melihat dua orang laki-laki yang berdiri tak jauh dari pintu ruangan.


"Apa yang terjadi dengan suami saya?" tanya Shandra begitu sampai tepat di hadapan dua orang tadi. Dua orang itu sedikit terkejut dan bingung, namun setelah mendengar Shandra menyebut kata 'Suami saya' bisa mereka pastikan bahwa perempuan muda berbaju kurung itu adalah istri dari korban yang mereka tolong.


"Kami mendapati mobil suami Ibu yang sudah menabrak tiang pembatas jalan. Untuk lebih jelasnya pihak kepolisian masih menyelidiki kasus ini, Bu," jawab salah satu di antara keduanya.


Shandra langsung terduduk di kursi panjang yang berada di belakangnya. Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mengapa Allah begitu gencar memberi dia banyak ujian dan cobaan? Baru saja dia sembuh dari luka kehilangan sang ibu dan kini suaminya pun mengalami hal yang serupa seperti yang terjadi pada kedua orang tuanya.


"Berhubung Ibu sudah datang, kami pamit undur diri. Permisi, Bu," katanya.


▪▪▪


"Shandra apa yang terjadi, Sayang?" suara ibu mertuanya membuat perempuan itu menoleh ke sumber suara. Selepas melaksanakan salat dia menghubungi mertua dan ayahnya agar segera menuju ke rumah sakit.


Shandra hanya menggeleng lemah. "Saya tidak tahu, Mah. Tapi dari kesaksian pihak rumah sakit dan juga saksi mata mengatakan bahwa mobil yang Mas Farhan kendarai menabrak pembatas jalan," katanya melemah di akhir kalimat.


Wanita yang sudah memasuki usia senja itu merosot dan terduduk di samping menantunya. Sebagai seorang ibu hatinya sakit mendengar kenyataan pahit yang menimpa putra semata wayangnya.

__ADS_1


"Sekarang gimana keadaan Farhan?" tanya ayah mertuanya pada sang menantu. Lirikan mata Shandra tertuju pada lampu yang berada di atas pintu, lampu tersebut masih menyala dan menandakan bahwa sedang dilakukan tindakan di dalam sana. "Masih ditangani, Pah."


Rahman menggerakan kedua tangannya di atas roda kursi yang dia duduki, menghampiri putrinya dan memeluk erat tubuh sang putri. Dia bisa merasakan betapa rasa takut mendominasi perasaan putrinya kini. "Semuanya akan baik-baik saja, Nak," ucapnya pelan.


Shandra hanya diam dan semakin mengeratkan pelukannya. Sekuat apa pun dia menghadang dan menampik apa yang kini tengah dia rasakan, tapi tetap saja hatinya tidak bisa dibohongi bahwa dia merasakan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebih.


Setelah rengkuhan itu terlepas, Rahman menatap wajah sendu datar putrinya. Hatinya sungguh teriris melihat gurat kesedihan yang hanya bisa dia lihat, putrinya begitu pandai menutupi apa yang tengah dia rasakan. "Kamu harus kuat, Sayang," pintanya seraya mengelus lembut puncak kepala sang putri.


Suara pintu yang dibuka terdengar, dengan sigap mereka menghampiri dokter yang masih berada di ambang pintu tersebut. Fatimah langsung memberondong sang dokter dengan berbagai macam pertanyaan, sedangkan Shandra hanya bisa diam dan mendengar penjelasan yang dokter katakan.


"Pasien mengalami cedera kepala ringan yang menyebabkan gangguan sementara pada fungsi otaknya. Akibat benturan yang cukup kuat pasien juga mengalami pendarahan hebat. Tapi Alhamdulillah atas kuasa-Nya kami bisa menyelamatkan pasien," paparnya memberitahu.


Kaki Fatimah melemas seketika mendengar penjelasan dokter yang menangani putranya. Air mata pun tak bisa dia bendung lagi, luruh dan jatuh begitu saja membanjiri wajahnya. Firdaus begitu cekatan menopang tubuh lemah istrinya. Sedangkan Shandra hanya mampu diam dan menunduk dalam.


Cedera kepala (trauma kepala) adalah kondisi dimana struktur kepala mengalami benturan dari luar dan berpotensi menimbulkan gangguan pada fungsi otak. Berdasarkan tingkat keparahannya, cedera kepala dibagi menjadi tiga, yaitu cedera kepala ringan, sedang, dan berat. Cedera kepala ringan dapat menyebabkan gangguan sementara pada fungsi otak. Begitu pula dengan penderita cedera kepala sedang yang mengalami kondisi yang serupa namun dalam waktu yang lebih lama. Dan bagi penderita cedera kepala berat, potensi komplikasi jangka panjang hingga kematian dapat terjadi jika tidak ditangani dengan tepat.


"Tapi mohon maaf, Pak, Bu kami tidak bisa menyelamatkan wanita yang bersama dengan pasien. Korban mengalami benturan hebat di bagian dada, kemudian tulang rusuknya patah dan menusuk paru-paru. Hal itu membuat korban sesak napas,


sesak napas ini terjadi akibat paru-paru terisi oleh darah yang mengakibatkan kematian. Terlebih lagi kondisi korban tengah mengandung," lanjutnya yang berhasil membuat mereka menegang tak percaya.


Wanita? Mengandung? Dua kata itu membuat Shandra runtuh di atas dinginnya lantai. Satu tetes air cairan bening yang sedari tadi dia tahan mulai turun dari kedua sudut mata indahnya. Mengapa kenyataan ini membuat dadanya begitu sesak?

__ADS_1


▪To be continue▪


__ADS_2