
Lanjutan dari bab sebelumya!
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Jangan terlalu mengedepankan emosi dan harga diri, karena jika dua hal itu terjadi di luar kendali bisa jadi memperparah situasi dan kondisi."
▪▪▪
Farhan mengerjapkan matanya pelan saat rasa pusing di kepala mulai dia rasakan. Matanya terbelalak saat dia terbangun di atas ranjang tak dikenal, belum lagi saat dia melihat dentingan jarum jam yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dia harus pulang sekarang, istrinya pasti tengah menunggu karena dia tak memberikan kabar sama sekali.
Suara pintu terbuka bersamaan dengan kemunculan wanita yang membuat Farhan kembali naik pitam. "Sudah bangun rupanya. Sepertinya kamu sangat nyaman tidur di sana," katanya dengan nada suara yang membuat siapa saja muak mendengarnya.
"Minggir! Gue mau pulang!" Dengan sengaja Farhan menyenggol sedikit kasar bahu wanita yang berada di ambang pintu.
Farhan berjalan sedikit terhuyung karena kepalanya masih sedikit pusing, efek obat bius yang tadi disuntikkan pada tubuhnya seperti kelebihan dosis. Tapi dia tak mau berlama-lama lagi terperangkap di kandang harimau. Dengan cepat kakinya melangkah ke luar dan masuk ke dalam mobil. Sejenak dia hanya terdiam merasakan pening yang hilang timbul di kepalanya. Namun, suara pintu mobil yang terbuka dan ditutup kembali membuat Farhan melirik ke arah samping kemudi.
"Ngapain loe masuk mobil gue?" seru Farhan dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.
"Ya ikut kamulah, katanya mau ajak aku jalan dan ngasih kejutan," sahutnya santai seraya memasang sabuk pengaman.
Farhan mengerang menahan kegeraman pada makhluk tak tahu diri di sampingnya. "Loe gila! Turun!" Dengan tanpa dosanya Sarah tak mengacuhkan Farhan dan justru sedikit memejamkan matanya nyaman.
Farhan mengumpat kasar, dengan tanpa pikir panjang lagi dia mulai mengendarai mobilnya, dan berencana akan meninggalkan wanita ular itu di pinggir jalan. Suara handphone berdering nyaring, nama sang istri tertera di sana. Dia mencoba meraih ponsel yang berada di dasboard, tapi gerakkan tangannya kalah cepat dengan Sarah.
__ADS_1
"Oh, istri kamu ternyata. Sepertinya kalau aku sedikit bermain-main dengan dia seru," ucapnya dengan seringai nakal yang membuat Farhan panik bukan kepalang.
Dia tahu betul bahwa Sarah tidak pernah bermain-main dengan ucapannya, dia harus segera merebut ponselnya sebelum Sarah kembali membuat ulah, dan semakin memperunyam masalahnya.
"Balikin hp gue!" tegas Farhan dengan satu tangan menyetir dan satu tangan lainnya mencoba menggapai gawai yang berada dalam genggaman tangan Sarah.
"Mau ini?" cetusnya seraya mengangkat tinggi-tinggi ponsel tersebut. Farhan refleks mengalihkan pandangannya kepada Sarah. Fokus Farhan terpecah belah antara mengemudi dan mengambil alih benda pintar itu.
"Loe jangan main-main sama gue, Sarah!" desis Farhan penuh dengan nada ancaman. Sarah berdecih. "Coba aja ambil kalau bisa," sahutnya meremehkan.
Farhan yang merasa harga dirinya direndahkan, dengan tanpa pikir panjang langsung mencondongkan sedikit tubuhnya ke samping, menatap manik mata Sarah dengan tajam, satu tangannya digunakan untuk menyetir, dan satunya lagi digunakan untuk mengambil ponsel.
Dia tersenyum miring saat melihat wajah gugup Sarah, dan dengan begitu mudahnya dia mengambil gawainya. Namun, senyumnya seketika berubah tegang karena melihat sebuah mobil di depan sana yang melaju begitu kencang. Dengan gerakkan cepat tangannya membanting setir mobil hingga menabrak pembatas jalan, yang menyebabkan bagian depan mobilnya ringsek tak beraturan. Kepulan asap pun terlihat keluar dari mobil tersebut, Farhan sudah tidak sadarkan diri dengan kepala tertunduk pada kemudi. Darah segar mengucur di bagian dahinya. Sedangkan Sarah pun tak jauh berbeda dari Farhan, justru kondisi wanita itu lebih parah.
Shandra hanya diam tanpa berkomentar. Suaminya itu selalu mengedepankan emosi dan tak bisa berpikir panjang jika menyangkut reputasi dan harga diri, walau itu hanya sebatas di dunia maya. Padahal jika suaminya itu bisa sedikit saja meredam emosi dan mampu berpikir dengan jernih, dengan mudah foto itu bisa kembali dihapus, dan tidak perlu membuat rencana konyol yang akhirnya membuat permasalahan semakin runyam.
Tapi jujur saja otaknya masih belum bisa mempercayai dengan sepenuh hati. Masih ada satu pertanyaan yang bersarang di dalam pikirannya. Siapa ayah dari bayi yang Sarah kandung?
"Shan," panggilnya karena tak kunjung mendapatkan respons. Shandra hanya melirik sekilas ke arahnya, lantas kembali menunduk dalam.
Helaan napas berat begitu terdengar keluar dari bibir tipis Shandra. "Siapa ayah dari anak yang Sarah kandung?" Pertanyaan itu dia layangkan pada suaminya, tanpa sedikit pun menatap wajah sang suami yang berada di hadapannya.
Farhan sudah menduga bahwa itulah yang akan dipertanyakan oleh istri kakunya. Mengembuskan napas pelan sebelum berkata, "Gue gak tau. Tapi sumpah demi Allah itu bukan anak gue. Gue emang playboy tapi gue masih tau batasan dan gak mungkin melakukan hal kotor kaya itu. Gue udah insyaf, serius deh." Shandra mendongak dan menatap kedua bola mata suaminya. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa suaminya itu berkata jujur dan tidak berbohong, hal itu membuat hatinya sedikit lega.
__ADS_1
"Gue gak pernah bohong, Shan. Percaya sama gue," katanya penuh keyakinan. Shandra mendengus dan menatap sengit suaminya. Apa tadi katanya, tidak pernah bohong? Apa perlu Shandra ingatkan bahwa Farhan pernah satu kali membohonginya. Dan juga jangan lupakan pada saat Farhan dengan tanpa dosa mengibuli Fatimah, yang notabene-nya adalah ibu kandung dari lelaki itu.
"Ya saya percaya. Tapi lain kali jangan bersikap seperti itu lagi. Setiap masalah bisa dibicarakan secara baik-baik. Bersikaplah dewasa dan kendalikan emosi kamu," putusnya masih dalam mode wajah datar andalan.
"Gue gak bakal emosi kalau dia gak mancing gue duluan, Shandra," sela Farhan tak terima.
"Ya terserah kamu sajalah," sahutnya malas berdebat. Suka-suka suaminya saja, yang penting dia sudah mengingatkan.
"Katanya harus bersikap dewasa, tapi nyatanya loe juga sama kaya gue. Gak bisa pikir panjang dan gampang menyimpulkan," gumam Farhan yang membuat Shandra mendelik tajam.
"Maksud kamu apa?"
Farhan mendengus kasar. "Loe kabur ninggalin gue berhari-hari, terus tiba-tiba aja gue dapet surat gugatan cerai. Apa itu yang dinamakan dewasa?"
Shandra melipat kedua tangannya di depan dada, menatap lekat wajah menyebalkan suaminya. "Kamu yang memulai semuanya. Saya hanya mengikuti alur yang kamu ciptakan," balasnya tak kalah sengit. Enak saja Farhan menyalahkan dirinya.
Farhan menaik-turunkan alisnya dengan senyum misterius yang membuat Shandra muak sekaligus kesal. "Bilang aja loe cemburu karena tahu gue lagi sama si bekas pacar," ucapnya dengan nada suara menjijikkan.
Shandra bangkit dari duduknya dengan napas memburu seperti sudah melakukan lari maraton. Padahal sejak tadi dirinya hanya duduk saja tanpa melakukan aktivitas apa pun. "Saya pulang," katanya yang langsung berjalan cepat ke luar ruangan.
Farhan tersenyum senang melihat punggung istrinya yang sudah menghilang dari pandangan. "Cepat atau lambat gue bakal pastiin kalau gue bisa buat loe jatuh cinta," gumamnya dengan tingkat kepercayaan diri tinggi. Siapa yang akan menolak pesona dari pria tampan nan mapan seperti dirinya.
Menyadari ucapan yang sudah ngalor-ngidul dengan cepat dia menggeleng. "Gak. Gak mungkin gue tertarik sama cewek modelan robot kaya Shandra. Gak mungkin!"
__ADS_1
▪To be continue▪