Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
Part 31 | Kuasa Sang Illahi


__ADS_3

"Hidup dan mati adalah takdir yang tidak dapat dihindari, karena pada hakikatnya semua manusia akan kembali. Kembali menghadap Sang Illahi Rabbi. "


▪▪▪


Sebuah ruangan kumuh berukuran kecil dengan debu bertebaran di mana-mana sungguh berhasil menyesakkan dada, kegelapan pun ikut serta menambah kesan seram dan mengerikan yang sangat mencekam dari tempat tak layak huni itu. Terlihat seorang perempuan dengan pakaian kusut dan kotor tengah terduduk di kursi kayu, dalam keadaan tangan dan kaki terikat, jangan lupakan pula mulutnya yang sengaja ditutup kain. Dengan perlahan namun pasti kedua matanya mengerjap beberapa kali. Netranya yang sipit semakin menyipit saat tak melihat orang lain selain dirinya. Keringat sudah mulai bercucuran membasahi dahinya, tak ada yang bisa dia lakukan selain menggerak-gerakkan tubuhnya yang terikat begitu kuat. Bibirnya yang berwarna merah alami pun terlihat sedikit memucat, dia hanya mampu menggigit bibir bagian dalamnya menahan gejolak dalam dada yang tak mampu dia deskripsikan. Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana dia kini?


Terdengar suara decitan pintu di depan sana, dengan penuh rasa ragu wanita itu mendongak dan meneliti seseorang di hadapannya. Tubuh tegap besar, rambut gondrong, dan jangan lupakan penutup wajah yang menyembunyikan identitas pria itu. Rasa takut kian menjadi dan menguasi saat orang itu berjalan menuju ke arahnya. Berusaha untuk berteriak dan melepaskan ikatan di kaki dan tangannya namun tak membuahkan hasil sama sekali. Dia hanya mampu melantunan dzikir dan doa agar Sang Maha Pencipta sudi untuk melindunginya. Kini hanya Allah yang bisa menolongnya, menyerahkan semuanya hanya pada Sang Illahi Rabbi.


"Sudah bangun rupanya," katanya dengan sorot mata tajam yang begitu membuat Shandra bergidik ngeri. Sepanjang hidupnya baru kali ini dia merasakan hal seperti ini.


Wanita itu tak bisa berbuat banyak selain diam dan menggerak-gerakkan kursi yang tengah menopang berat tubuhnya. Ingin rasanya berteriak sekencang yang dia bisa, tapi apa daya semua itu tak dapat dilakukannya. Shandra berusaha keras untuk menyingkirkan tangan kotor yang sudah berani memegang dagunya. Dia tidak suka dan tidak sudi dijamah oleh sembarang pria, terlebih lagi pria yang bukan mahram-nya. Napas Shandra memburu cepat saat kain yang sedari tadi membekap mulutnya sengaja dilepaskan secara kasar. Dia menatap murka pada seseorang yang berada di hadapannya.


"Lepaskan saya!" seru Shandra dengan nada suara tinggi, hal pertama baginya membentak dan berlaku seperti itu. Tawa meremehkan yang keluar dari pria tak berperasaan di depannya sungguh semakin membuat Shandra muak dan meradang.


"Sudah sangat lama aku menantikan hari ini! Akhirnya kamu berada di bawah kendaliku." Tawa laki-laki itu semakin kencang dan mengintimidasi Shandra.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Berhenti dan jangan mendekat!" teriak Shandra saat pria itu kembali ingin menjamah wajahnya. Dia tidak ikhlas diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Hanya ingin sedikit bermain-main," ungkapnya yang begitu santai mengeluarkan sebilah pisau yang berada di saku jaket yang dia gunakan. Napas Shandra tercekat di kerongkongan, saat pria itu memainkan alat tajam dan berbahaya tepat di depan kedua mata.


"Aaa... aa... apa yang ingin kamu lakukan?!" Kepala Shandra menggeleng beberapa kali. Dia takut, sungguh sangat takut. Ada nyawa lain yang harus dia jaga dari kekejaman pria itu.


"Aaaaa!" pekik Shandra dengan mata tertutup rapat saat laki-laki itu mengangkat pisaunya ke udara siap untuk dilesakkan pada dirinya.


Suara tawa yang begitu menggelegar membuat wanita itu kembali membuka kedua matanya dengan perlahan. "Jangan takut, Cantik aku hanya ingin bermain-main saja!" Dada Shandra naik turun dibuatnya, terlebih lagi pada saat laki-laki itu berjalan mengelilingi dirinya.


"Apa kamu mengenali aku, Nyonya Farhan?" Mulut Shandra tekatup rapat tak percaya saat melihat wajah laki-laki seusia ayahnya. Kepala Shandra terasa berkunang-kunang saat pria itu menunjukkan sebuah bingkai perempuan anggun yang sangat dia kenali.


"Sarah," cicit Shandra dengan pikiran yang sudah melayang entah ke mana. Apa maksudnya? Otaknya begitu kalut memikirkan semua ini. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Namun sebelum sang pahlawan datang kamu sudah aku lenyapkan! Sama seperti suami kamu yang sudah menghilangkan nyawa putri dan calon cucuku!" Netra Shandra sedikit terpejam mencerna perkataan orang tersebut. Sekarang dia paham dan mengerti mengapa dia berada di gudang kotor ini.


Sarah, wanita yang pernah hadir dalam hidup suaminya dan pria tua yang masih gagah sempurna itu ayah dari perempuan bernama Sarah. Shandra menggeleng pelan memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja menghilangkan nyawanya dan sang buah hati. Tidak, dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun melukai anaknya.


"Suami saya bukan pembunuh. Itu murni sebuah kecelakaan!" sela Shandra dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Dia tak terima suaminya dicap sebagai pembunuh hingga melenyapkan dua nyawa sekaligus.

__ADS_1


Tawa laki-laki itu kembali menguar memekakkan telinga. "Kecelakaan?!" Pria itu dengan angkuh menggelengkan kepalanya. "Nyawa harus dibayar dengan nyawa! Dan kini giliran aku yang akan mengantarkan kamu untuk menemui ajal lebih cepat! Bukankah sesuatu yang baik harus disegerakan?!" Shandra menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan keringat yang sudah semakin membanjiri kening dan wajahnya.


Pria itu semakin senang saat melihat mangsanya begitu ketakutan. Dia sudah sangat lama menunggu waktu ini, tangannya sudah gatal dan ingin segera menghabisi makhluk lemah di depannya. Dia sudah cukup sabar memberikan waktu mainannya untuk sedikit bersenang-senang dan melupakan kejadian yang begitu membuatnya meradang tak terima. Putri semata wayangnya meninggal bersama dengan sang cucu, istrinya kini dirawat di rumah sakit jiwa karena terpuruk atas kehilangan sang putri. Dan sekarang saatnya dia untuk membalaskan dendam akan penderitaan dua wanita yang teramat sangat dia cintai. Sejak satu bulan lalu dia sudah mengibarkan bendera perang pada laki-laki yang merupakan mantan kekasih putrinya, namun hal itu tak membuahkan hasil sama sekali, dan cara satu-satunya menghancurkan Farhan adalah dengan melenyapkan istrinya, perempuan hamil yang kini sudah berada tepat di hadapannya.


Panggilan tadi berasal dari Farhan, hal itu membuktikan bahwa lelaki muda yang menjadi pewaris tunggal dari kerajaan bisnis Firdaus itu sangatlah handal dan tak bisa diremehkan. Keberadaannya sangat berpengaruh dalam dunia perbisnisan hingga dengan cepat dan mudah laki-laki itu berhasil menemukan keberadaannya. Mungkin hitungan menit lagi Farhan akan segera muncul dan menggagalkan rencana yang sudah dia susun secara matang selama berbulan-bulan ke belakang. Tidak, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia harus segera menghilangkan nyawa wanita yang kini sudah bercucuran keringat dan air mata di depannya. Sekarang atau tidak sama sekali!


Suara dentuman keras begitu mengusik dua manusia di dalam ruangan gelap itu. Laki-laki bernama Subroto itu dengan cepat melayangkan pisau yang sedari tadi berada dalam genggaman tangannya.


Dan dengan cepat pula Shandra menutup kedua matanya. "Aaaaaa!" Pekikan nyaring begitu terdengar sangat menggelegar. Napas perempuan itu naik turun dengan tempo tidak teratur. Beberapa detik kemudian netranya kembali terbuka dan mendapati suaminya yang sudah berlumuran darah di bawah sana. Air mata mengalir deras begitu saja dari kedua sudut netranya, menatap sekeliling ruangan itu dengan pandangan kosong tak percaya. Saat ada seseorang yang membantu untuk melepaskan ikatan di kaki dan tangannya, dia langsung ambruk terduduk di samping tubuh suaminya.


"Mas," lirihnya yang sudah membawa kepala sang suami agar berada di atas pangkuannya. Dengan tangis dan isakan dia memeluk suaminya yang masih sedikit membuka mata.


"Bawa suami saya ke rumah sakit! Kenapa kalian hanya diam saja!" teriak Shandra pada beberapa anak buah Farhan yang sedari tadi hanya menonton dan mengamankan Subroto.


"Bim... bim... bim...bing... gue... Shan...," katanya tersenggal-senggal. Shandra menggeleng dengan air mata yang semakin mengalir deras. Dengan lemah Farhan menggenggam tangan sang istri tercinta. Kedua netranya sudah basah oleh air mata, tapi senyum penuh kelegaan karena berhasil menyelamatkan istri dan juga calon anaknya sangat terpatri indah di wajah pucat Farhan.


Laki-laki yang sudah lemah tak bertenaga itu, berusaha dengan keras agar bisa mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum kedua matanya benar-benar terpejam dengan rapat. Shandra yang tak tega melihat suaminya kesulitan dan dengan berat hati dia menuruti permintaan pria yang berstatus sebagai suaminya itu, dengan diiringi isakan dia melantunkan kalimat tauhid itu tepat di samping telinga suaminya. Dengan suara yang tersendat-sendat akhirnya Farhan mampu menyelesaikan sepenggal kalimat tanda keislamannya. Shandra semakin terisak saat kedua netra suaminya yang sudah benar-benar tertutup dengan begitu rapat. Allah telah mengambil malaikat penyelamatnya.

__ADS_1


▪To Be Continue▪


__ADS_2