Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
17 | Surat Gugatan Cerai


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Pepisahan bukanlah cara satu-satunya untuk menyelesaikan persoalan."


▪▪▪


Melewati hari-hari tanpa sang suami yang mendampingi membuat suasana hati Shandra tak tentu arah dan tujuan. Ingin menentang dan melawan titah sang ayah, tapi hati kecilnya meragu dan enggan untuk melakukan hal demikian. Yang bisa dia lakukan hanya diam dan berdoa, berharap Allah sudi mengabulkan pintanya. Doa itu harus dibarengi dengan usaha agar tercipta hasil yang sempurna. Namun, yang bisa Shandra lakukan hanya berdoa tanpa dibarengi usaha. Rasanya begitu percuma. 


"Papah sudah mengurus berkas-berkas perceraian kamu ke pengadilan agama, tinggal tunggu surat gugatan itu datang ke tangan mantan suami kamu." Penuturan sang ayah mampu membuat Shandra membelalakkan mata tak percaya. Terlebih lagi tiga kata di akhir kalimat sang ayah sangat mengusik dan menggangu gendang telinganya.


"Papah sudah terlalu jauh ikut campur dengan urusan rumah tangga Shandra. Semuanya bisa dibicarakan secara baik-baik. Perpisahan bukanlah cara satu-satunya untuk menyelesaikan persoalan," sahut Shandra tak suka dengan keputusan sepihak yang ayahnya lontarkan.


"Keputusan Papah sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat!" tukas Rahman tanpa mau menerima sanggahan ataupun pembelaan.


"Papah egois. Selalu memutuskan tanpa mau mendengar apa yang Shandra ingin utarakan. Papah yang menjodohkan Shandra dengan laki-laki pilihan Papah, dan sekarang Papah juga yang ingin mengakhirinya, begitu?"


Rahman tersentak kaget tak percaya. Putrinya yang selalu tunduk patuh tanpa membantah kini justru mengeluarkan taring. "Papah melakukan ini untuk kebaikan kamu," tuturnya.


Kebaikan? Rasanya Shandra sangat muak dengan satu kata yang keluar dari bibir ayahnya itu. Selama ini kehidupannya disetir oleh sang ayah, dan dia tak pernah membangkang sedikit pun. Termasuk merelakan cita-citanya sebagai guru bahasa Indonesia yang kini sudah dia hilangkan dari list-nya. Dan tentunya menikah serta menjadi istri dari laki-laki yang sampai saat ini belum berhasil mengobrak-abrik hatinya. 

__ADS_1


"Tanpa mengurangi rasa hormat Shandra pada Papah. Shandra hanya ingin bertanya satu hal. Sebenarnya Shandra ini Papah anggap apa? Robot atau justru mainan yang bisa seenaknya Papah ombang-ambing tak berdaya. Sudah cukup selama ini hidup Shandra Papah yang kendalikan. Menikah dengan orang yang tidak Shandra kenal, menjalani rumah tangga tanpa cinta, dan sekarang Shandra juga harus menerima perpisahan karena keegoisan dan sifat otoriter Papah."


Pecah sudah uneg-uneg yang selama ini dia pendam. Sebagai manusia normal dia pun merasakan berada di titik jenuh, dan tak terima dengan takdir hidup yang seperti tak pernah berpihak kepadanya. Bolehkah untuk saat ini dia sedikit membangkang dan tak terima akan perlakuan ayahnya?


"Jaga bicara kamu, Shandra! Tidak ada satu pun orang tua yang tega menyengsarakan anaknya. Apa yang Papah lakukan semata-mata hanya untuk menjaga dan melindungi kamu dari kejamnya dunia," sela Rahman begitu lugas.


"Iya tapi Papah seakan-akan lupa menjaga dan melindungi Shandra dari kejamnya aturan yang Papah buat!" sahut Shandra semakin berani mengutarakan keluh kesahnya.


"Shandra sudah dewasa dan juga memiliki kehidupan sendiri. Tugas Papah sudah selesai saat kata ijab kobul berlangsung. Papah yang menyerahkan Shandra dengan sukarela tanpa dosa ke tangan Mas Farhan.  Apa itu belum cukup bagi Papah mengurusi kehidupan Shandra?"


Helaan napas berat terdengar begitu saja keluar dari mulutnya. "Sebanyak apa pun jumlah usia kamu. Kamu tetap putri kecil Papah yang belum bisa Papah lepas dengan bebas." Setelah itu Rahman bergegas menjalankan kursi rodanya.


▪▪▪


Tak terasa sudah satu minggu berlalu dan Farhan belum kunjung bertemu dengan istri kakunya. Permintaan sang ibulah yang memberatkan langkah dia untuk pergi menemui sang istri di kediaman sang mertua.


"Kamu harus inget, bahwa sampai kapan pun bakti kamu tetap berada di tangan kedua orang tua kamu, sekalipun kamu sudah menikah dan memiliki keluarga. Surga seorang perempuan memang bisa berpindah pada suaminya, tapi tidak untuk seorang laki-laki. Ridho kamu ada pada Mamah dan Papah, dan jika Mamah tidak ridho Allah pun tidak akan meridhoinya."


Kebimbangan dan kegamangan kian merasuk ke jiwanya. Bohong jika dia tak merindukan keberadaan istrinya. Bohong jika dia tak merasa kehilangan. Tapi dia pun bingung antara harus mengikuti ego atau menuruti perkataan ibunya.

__ADS_1


Suara bel membuat pria berkaus hitam serta celana jeans itu melangkahkan kakinya ke sumber suara. Mendapati seorang kurir dengan sebuah benda di tangan, membuat Farhan mengernyit heran.


"Apa benar ini kediaman Bapak Farhan?" tanyanya yang langsung diangguki oleh Farhan. "Ya saya sendiri."


"Ada paket dan tolong tanda tangani di sini, Pak," katanya yang berhasil membuat lipatan di dahi Farhan bertambah berkali-kali lipat. Tapi lelaki itu tetap mengikuti titah sang kurir.


Tangannya bergetar hebat saat melihat logo amplop yang kini berada di dalam genggamannya. Rahang Farhan mengencang hebat dengan wajah merah padam menahan gejolak luar biasa dalam dada.


"Siapa yang datang, Han?" seloroh Fatimah yang baru saja mendatangi putranya yang masih setia berdiri tegang di ambang pintu. Farhan menoleh dengan netra tajam yang membuat Fatimah bingung tak keruan. "Kamu ini kenapa sih?"


"Harusnya Farhan yang nanya kaya gitu sama Mamah. Satu minggu lebih ngilang tanpa kabar dan sekarang tanpa permisi surat gugatan cerai dari pengadilan agama datang ke rumah. Apa Mamah bisa menjelaskannya?!"


Fatimah tersentak kaget bukan main. Dia menatap nanar kertas putih yang melambai-lambai di depan matanya. Dia hanya diam membeku dengan pandangan kosong, persendiannya lemas seperti es yang disiram air panas. Titik-titik embun pun sudah mulai membayangi kedua sudut netranya.


"Jawab Mah!" gertak Farhan yang sudah lepas kendali dan tak bisa mengontrol emosi.


"Mamah bisa jelaskan semuanya. Duduk dulu, tenangkan diri kamu," pintanya yang hanya Farhan anggap angin lalu. Tanpa kata pria itu berjalan cepat menuju garasi untuk mengendarai mobilnya. Rasa parno dan trauma akibat kecelakaan sama sekali tak menyurutkan tekadnya. Sudah cukup dia bersabar serta memberikan waktu untuk ibu serta istrinya yang begitu enggan menjelaskan duduk persoalan. Dia harus segera bertindak sebelum semuanya terlambat.


Teriakan histeris dari Fatimah sama sekali tak dihiraukan Farhan. Dia begitu tergesa-gesa mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kacau. Berkali-kali dia mengumpat karena jalanan yang padat merayap. Suara klakson pun saling bersahutan saat mobil tak kunjung melaju membelah jalanan.

__ADS_1


Semula perjalanan melaju tanpa kendali yang berarti, namun karena fokusnya yang terpecah belah Farhan tak menyadari bahwa lampu hijau telah berganti menjadi merah. Tanpa mampu untuk menghindar, hantaman kuat yang timbul akibat pertemuan tak terduga dari mobil di samping kanannya membuat dia membanting setir hingga bergerak tak tentu arah.


__ADS_2