
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Allah memang mengambil satu kebahagian dalam hidupnya, tapi Dia pun memberikan kebahagiaan lain yang serupa dengan apa yang telah direnggut-Nya."
▪▪▪
Lima tahun kemudian
Perjodohan satu kata berjuta cerita. Kehadirannya seringkali mendapatkan penolakan dan pertentangan, bahkan tak jarang menimbulkan pertikaian di antara keluarga besar. Hidup bersama dalam satu atap dengan pasangan yang belum diketahui sifat dan karakternya, adalah tantangan tersendiri dalam menjalani biduk rumah tangga yang diawali dengan sebuah perjodohan. Tak jarang berakhir di pengadilan dengan alasan yang beragam, tidak adanya cinta seringkali menjadi alasan yang utama, perbedaan karakter dan kepribadian pun tak ayal ikut serta menjadi pengikutnya.
Namun hal itu tidak berlaku bagi Farhan dan Shandra yang sudah mengecap manisnya biduk rumah tangga bersama. Perbedaan yang dulu begitu mencolok dan terlihat tidak cocok, sekarang justru menjadi pelengkap yang mewarnai rumah tangga keduanya. Suka dan duka mereka jalani bersama, permasalahan yang datang silih berganti sempat membuat keduanya ingin berhenti dan mengakhiri. Tapi hal itu tidak terjadi sebab mereka menjalaninya dengan sepenuh hati. Baik Farhan maupun Shandra keduanya sudah mengucap janji di hadapan Sang Illahi, bukan lagi janji sehidup semati melainkan sehidup sesurga untuk mencapai keridhoan-Nya.
Bismillahirohmanirohim, satu kata mujarab yang keluar dari sela bibir Shandra saat memutuskan untuk menerima pinangan dari laki-laki yang belum benar-benar dia kenali. Dengan kerendahan hati dia menyerahkan semuanya pada Sang Illahi Yang Maha Mengatahui. Dia selalu percaya bahwa Allah tidak akan pernah salah dalam memilihkan pasangan untuk setiap hambanya, termasuk dengan jodoh dirinya. Masa lalu buruk yang sudah sangat melekat kuat dalam diri sang calon suami sama sekali tak membuat dia gentar dan menentang permintaan kedua orang tuanya. Saat ijab qobul terdengar Shandra sudah menyiapkan dirinya, mengabdikan sisa hidupnya untuk bersama dengan laki-laki yang kini sudah berstatus sebagai suami sahnya. Laki-laki yang akan bertangung jawab atas dirinya, dan laki-laki yang akan selalu menjadi imam dalam salatnya.
Shandra menatap nanar sebuah nisan bertuliskan nama seseorang di depan sana. Rasa kehilangan dan sakitnya masih selalu dia rasakan kala netranya menjumpai rangkaian huruf yang tersusun apik itu. Bertahun-tahun hidup dalam keterpurukan seringkali membuat dia ingin mengakhiri hidupnya agar mampu bertemu dengan sang pangeran hati. Pria dewasa dengan paras tampan dan memiliki segudang pesona yang mampu memikat semua kaum wanita termasuk dirinya. Terlalu banyak kisah manis yang tercipta hingga kepahitan itu datang menyapa dan berhasil melenyapkan semuanya begitu saja. Oh, Allah mengapa takdir hidup begitu kejam padanya? Tidak bisakah dia kembali merasakan apa itu cinta dan kasih sayang dari seseorang yang merelakan hidupnya hanya untuk dia seorang. Farhan Hamid Firmansyah, pria yang berhasil memprorak-porandakan hatinya. Pria yang mengajarkan dia arti cinta dan luka dalam waktu yang bersisian. Arti sebuah pengorbanan dan kehilangan yang selalu berhasil membuat dadanya sesak bukan kepalang.
__ADS_1
"Mamah!" Shandra menghapus cairan bening yang sudah lancang keluar dari kedua sudut matanya saat suara kecil sang putra menguar pada indra pendengarnya. Perempuan itu dengan cepat memberikan senyum terbaik yang dia miliki pada sang buah hati.
"Kenapa Mamah selalu menangis setiap kali kita berkunjung ke sini?" tanya bocah laki-laki yang kini berada tepat di sampingnya. "Hanya mengingat seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita." Kalimat itu yang selalu menjadi jawabannya kala sang putra bertanya hal demikian. Seperti mantra mujarab yang terpatri apik di setiap sudut memorinya.
"Mamah selalu mengatakan kalau kita akan bertemu Papah tapi pada kenyatannya kita selalu berakhir di sini?" seru bocah kecil berusia lima tahun itu dengan nada kecewanya.
Shandra tersenyum tipis ke arah sang putra, mengelus puncak kepalanya dengan lembut penuh kasih sayang. Dia tidak mampu untuk mengatakan bahwa gundukan tanah yang ditumbuhi rerumputan itu adalah orang yang selalu anaknya tanyakan. Bibirnya kelu, air mata selalu tak bisa dibendung kala mengingat imamnya yang kini sudah berada di sisi Yang Maha Kuasa. Semenjak putranya bersekolah di taman kanak-kanak, bocah kecil itu selalu gencar menanyakan perihal keberadaan sang ayah yang tak pernah ada di sisinya, dan selalu berakhir di sini, di tempat ini, tanpa kata dan penjelasan dari sang ibunda tercinta.
"Papah selalu ada di dekat kita, bersama kita, dan menjaga kita." Kalimat perempuan itu tercekat kala menyebutkan kata 'Menjaga' hatinya perih teriris kala bayangan kelam masa lalu kembali menghantui.
"Kamu ingin melihat wajah tampan Papah, Sayang?" tanya Shandra lembut, dengan antusias penuh semangat putranya mengangguk mantap. Shandra tersenyum samar, tangannya bergerak mencari sesuatu yang dia simpan di dalam tas kecilnya.
"Coba apa yang kamu lihat sekarang?" tutur Shandra seraya menunjukkan sebuah cermin yang menghadap tepat pada wajah tampan putranya. Kening anak itu terlihat berlipat-lipat tak mengerti dan satu kata berhasil keluar dari bibir mungilnya. "Aku."
Wanita yang kini berstatus tanpa suami itu kembali mengukir senyum tipis. "Wajah kamu serupa dengan wajah Papah, tampan dan menawan," katanya dengan nada suara sedikit bergetar. Sang putra hanya diam dengan pandangan mata yang sulit diartikan. Tangan besar Shandra membawa tubuh putranya agar lebih mendekat ke arah nisan yang bertuliskan nama suami tercintanya.
__ADS_1
Bocah laki-laki itu melihat lebih jelas nisan tersebut, mencoba membaca untaian huruf per huruf yang tertulis di sana. "Farhan," cicitnya dengan kepala terangkat ke atas menatap wajah teduh sang ibu. Shandra mendaratkan kecupan singkat di kedua pipi gembil putranya. "Bukankah namanya bagus, Sayang?"
Anak laki-laki itu mengggeleng dengan sorot mata penuh tanya. Kenapa nama tengah dia serupa dengan nisan di hadapannya? Rafif Farhan Syahputra, itulah nama yang bocah kecil itu sandang.
"Aku mau ketemu Papah, Mah," ungkapnya yang kini sudah terisak dengan kedua tangan mungil yang bertengger apik di leher Shandra. Dengan senang hati wanita itu membalas pelukan hangat putranya, memberikan elusan lembut pada punggung sang putra.
"Tanpa kamu sadari, kamu sudah sering bertemu bahkan melihat Papah kamu, Nak. Wajah kamu selalu mengingatkan Mamah dengan Papah kamu." Ingin rasanya Shandra mengatakan kalimat itu pada sang putra semata wayang. Namun suaranya selalu tercekat di kerongkongan.
Dengan terpaksa Shandra melepaskan rengkuhan putranya, memberikan sedikit kecupan singkat di dahi sang putra. "Ayo kita pulang, hari sudah semakin sore." Tanpa banyak kata lagi Rafif menuruti ajakan sang mamah.
"Sekarang anak kita sudah tumbuh dewasa, Mas. Tunggu aku dan Rafif di sana, doakan kami agar bisa kembali bersama-sama di surga-Nya," gumam Shandra pelan, sangat pelan agar putranya tidak mendengar. Dia sedikit mengacak pelan rambut putranya. "Suatu hari nanti kamu akan tahu siapa orang hebat yang selama ini selalu kamu cari, Nak."
Shandra kembali menoleh ke belakang, menatap intens peristirahatan terakhir suaminya lantas berkata, "Aku pulang dulu, Mas." Langkahnya terasa berat saat dia semakin berjalan jauh meninggalkan suaminya yang tak dapat lagi dia rengkuh.
-TAMAT-
__ADS_1