Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
Part 7 | Mertua Idaman


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Apakah rasa cinta itu sudah tumbuh di hatinya?"


-Shandra-


▪▪▪


Suasana yang memang dingin dan kaku itu semakin mencekam kala Farhan dengan terang-terangan menyuarakan apa yang mengganjal di hatinya. Di mana rasa hormat dan bakti Shandra kepada suaminya hingga dia mengambil langkah sejauh ini.


"Saya kira kamu akan memberikan izin. Oleh sebab itu, saya baru mengatakannya sekarang," sela Shandra dengan wajah tanpa ekspresi andalan. Dia memang seperti itu orangnya.


"Sebenarnya loe itu anggap gue apaan, hah?"


"Bukankah kamu suami saya. Mengapa masih bertanya?" tanya Shandra.


"Ya, suami di atas kertas lebih tepatnya!" ungkap Farhan dengan kasar bangkit dari duduknya dan segera pergi meninggalkan sang istri yang diam tak mengerti.


"Apa yang saya katakan salah dan menyinggung perasaanya?" gumam Shandra bertanya-tanya.


Dia memiliki tingkat kepekaan cukup baik jika itu menyangkut sesama kaumnya, perempuan. Ya, dia sangat peka namun kepekaan itu menguap begitu saja jika berhubungan dengan lawan jenisnya. Otak jeniusnya sangat lemah dengan hal-hal yang berkaitan dengan kaum adam.


Tak ingin ambil pusing dengan segera dia membereskan pekerjaan rumahnya. Setelah itu dia langsung bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian dan mengambil tas. Hari ini dia akan pergi ke rumah sang mertua untuk melihat keadaan sang ayah yang kini tinggal bersama kedua orang tua Farhan. Awalnya Shandra kekeuh ingin merawat sang ayah namun penolakan itu dia dapatkan langsung dari ayahnya.


Laki-laki paruh baya yang sudah tidak bisa berjalan lagi itu tidak mau mengganggu rumah tangga putrinya yang masih terhitung muda. Hal itu kembali diperkuat dengan Firdaus dan Fatimah yang bersikeras mengutarakan kesediannya untuk merawat Rahman, membuat Shandra menyerah dan mengalah dengan catatan dia akan sering datang untuk melihat kondisi sang ayah.


Menjalankan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan Ibu kota yang selalu padat merayap. Memerlukan waktu tempuh sekitar satu jam karena dia terjebak macet panjang.


"Assalamualaikum," salamnya seraya menekan bel yang terpasang di samping rumah berpagar besar. Seorang pria paruh baya dengan seragam satpam begitu sigap membukakan pagar dan mempersilakan Shandra untuk masuk.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam warohmatulloh silakan masuk," sahutnya begitu sopan dengan badan membungkuk.


Shandra kembali memasuki mobilnya agar bisa masuk ke pelataran rumah besar Firdaus dan Fatimah. Dia melihat sendu ke arah sang ayah yang tengah duduk di kursi roda dengan tangan memegang koran. Kegiatan Rahman di pagi hari masih sama, yang membedakan hanya saja kondisi dan situasinya. Jika biasanya sang ibulah yang ikut serta mendampingi ayah tercinta kini ayahnya hanya sendirian dan ditemani secangkir kopi hitam kesukaannya.


"Pah," panggil Shandra dengan senyum tipisnya. Menyembunyikan kesakitan yang kini tengah melanda dada.


Rahman menurunkan korannya dan melihat sang putri yang kini sudah duduk berjongkok tepat di hadapannya. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna, bahkan tak ketinggalan tangan sebelah kanannya pun ikut serta membelai puncak kepala sang putri yang terbalut khimar syar'i berwarna biru.


"Sendirian?" tanyanya yang membuat Shandra mendongak. Anggukan kecil itu Shandra berikan sebagai jawaban.


"Bagaimana keadaan Papah? Apakah sudah lebih baik?" tanya Shandra penuh perhatian dan segera bangkit dari posisinya untuk mendorong kursi roda Rahman menuju ke dalam rumah.


"Sudah mendingan," jawabnya seraya memutar kepala agar bisa melihat wajah manis nan cantik sang putri.


Sepasang anak dan ayah itu bercengkrama dengan begitu akrab. Saling melepas rindu karena ini adalah kali pertama pertemuan mereka setelah Rahman keluar dari rumah sakit tiga hari lalu. Kondisi Shandra yang drop membuat keluarga besar urung untuk mengizinkan Shandra bertemu secara langsung dengan ayahnya. Hanya sebatas video call ataupun panggilan suara saja untuk modal mereka berkomunikasi.


▪▪▪


"Iya, Mah," sahut Shandra menghampiri ibu mertuanya yang tengah duduk santai di gazebo.


Fatimah menginstruksikan agar Shandra duduk tepat di hadapannya. Dia ingin sedikit berbincang dengan sang menantu. "Farhan tau kalau kamu ke sini?" tanyanya membuka obrolan.


Shandra hanya diam, bingung harus menjawab apa. Hal itu malah menarik perhatian Fatimah, dia hanya bertanya hal kecil tapi mengapa menantunya itu diam membisu?


Dengan lembut Fatimah membelai puncak kepala Shandra. "Kenapa, hm? Apa kamu enggak ngasih tau Farhan?"


Shandra hanya mengangguk lemah. Dia serba salah takut jika suaminya itu bersikap seperti tadi pagi saat dia meminta izin untuk pergi menyambangi kediaman sahabatnya.


"Lain kali kalau mau pergi harus izin dulu yah," ucap Fatimah menasehati.

__ADS_1


"Maafkan Shandra, Mah," katanya dengan kepala tertunduk dalam.


Dengan lembut Fatimah mengangkat dagu lancip Shandra. "Ridho suami kamu itu adalah ridho Allah. Jadi, apa pun yang kamu lakukan dan kerjakan harus atas dasar izin dan ridho dari suami kamu."


Shandra mencerna dengan cepat petuah dari Fatimah. Ingatannya kembali terbang pada kejadian tadi pagi saat di meja makan. Dengan ragu dia menceritakan apa yang dia alami, berharap dia bisa mendapatkan jawaban atas ketidaktahuannya.


Fatimah cukup terkejut dengan penuturan yang diberikan oleh Shandra. Tapi, sebisa mungkin dia tidak memarahi ataupun bersikap buruk pada perempuan yang sudah sah menjadi istri putra semata wayangnya. Dia mencoba memahami keadaan menantunya yang kelewat pasif dan kaku.


"Sayang, suami kamu itu sedang merajuk. Semua laki-laki pasti akan merasa tersinggung jika keberadaannya seperti tidak dibutuhkan. Kalian harus saling terbuka satu sama lain, bukan malah seperti ini. Farhan memang keras dan cenderung lepas kontrol jika itu perihal harga diri dan kehormatan. Kamu harus banyak belajar untuk mengertinya," ujar Fatimah dengan lembut agar tak menyinggung perasaan Shandra.


"Lalu apa yang harus Shandra lakukan, Mah?" tanyanya meminta masukan.


"Bicarakan baik-baik dengan Farhan. Mamah yakin dia akan memberikan kamu izin," saran Fatimah dengan seulas senyuman.


"Terima kasih, Mah," sahut Shandra.


Fatimah hanya mengangguk saja. Angannya berkelana memikirkan nasib rumah tangga Farhan dan Shandra yang jauh dari kata hangat dan harmonis. Shandra yang tertutup dan kaku dalam berinteraksi sangat bertolak belakang dengan Farhan yang aktif dalam segala hal.


"Shandra, boleh Mamah minta satu hal sama kamu?" tanya Fatimah menatap manik mata Shandra yang berwarna hitam legam.


"Apa?"


Menggenggam erat kedua tangan Shandra adalah hal yang Fatimah lakukan. "Mamah menginginkan kehadiran bayi kecil dalam keluarga kita," tutur Fatimah begitu gamblang mengutarakan keinginannya.


"Mamah ingin mengandung lagi?" sahut Shandra di luar dugaan.


Fatimah menggeleng lemah dengan hembusan napas kasar. "Mamah pengen cucu dari kamu sama Farhan," beritahu Fatimah yang membuat Shandra menegang dan kesulitan untuk menelan air liurnya sendiri.


Inilah yang paling Shandra takutkan. Permintaan itu pasti akan membayangi setiap saat jika dia belum mengabulkannya. Dia belum siap untuk membuka lembaran baru bersama dengan sang suami yang kini masih dia pertanyakan rasa cintanya. Apakah rasa cinta itu sudah ada untuknya? Atau bahkan sebaliknya. Dia tidak mau gegabah dalam hal ini. Semuanya harus dia pikirkan matang-matang.

__ADS_1


▪To be continue▪


__ADS_2