Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
16 | Siuman


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Ada kalanya menutupi kebenaran dengan sebuah kebohongan itu perlu dilakukan. Bukan tanpa alasan tapi memang sebuah keharusan."


▪▪▪


Laki-laki yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang pesakitan itu sedikit demi sedikit mulai mengerjapkan kedua netranya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Fatimah yang memang selalu setia berada di samping sang putra menyambut bahagia putranya yang baru sadarkan diri. Wanita yang sudah berusia senja itu dengan sigap menekan tombol yang menempel di tembok untuk memanggil dokter. Tak lama pintu terbuka dan menampilkan seorang laki-laki muda dengan dua orang suster di belakangnya.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanyanya saat sang dokter sudah menyelesaikan tugas untuk memeriksa sang pasien.


Dokter itu tersenyum simpul seraya memasukkan stetoskop ke dalam saku jas dokternya. "Alhamdulillah sudah lebih baik, Bu."


Senyum Fatimah mengembang, ucapan syukur tak henti-henti dia panjatkan kepada Sang Illahi karena putranya kini sudah sadarkan diri. "Terima kasih, Dok." Sang dokter hanya tersenyum dan mengangguk lantas pergi meninggalkan ruangan tempat Farhan dirawat.


"Minum dulu," titah Fatimah pada putra semata wayangnya. Dengan pelan Farhan meminum beberapa tegakan karena memang kerongkongannya terasa kering kerontang.


"Mah," panggilnya pelan khas orang yang baru saja bangun dari tidur panjang. Kepalanya terasa pusing dan linglung meneliti setiap sudut ruangan.


Fatimah memberikan senyuman manisnya dan mengelus lembut puncak kepala sang putra. "Apa, Nak?" tanyanya yang dihadiahi gelengan lemah oleh sang putra.


"Istirahatlah yang cukup, biar kamu bisa cepat sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasa," tutur Fatimah lembut diiringi dengan sunggingan senyum.

__ADS_1


Farhan hanya mengangguk lemah tanpa banyak protes ataupun bertanya. Kepalanya masih terasa nyeri dan itu sangat mengganggunya. Kedua netranya terasa kembali berat dan memintanya untuk segera terpejam.


"Mamah tahu kamu mencari keberadaan Shandra, Nak," lirihnya yang tak kuasa untuk membendung tangis pilu. Dia pun sangat merindukan menantu kakunya, tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena memang semua ini terjadi akibat ulah dari putra kesayangannya.


Fatimah menatap sendu putranya yang kini sudah jatuh terlelap ke alam mimpi. Kening yang dililit perban, tangan yang diinfus, ada beberapa luka lecet juga di bagian tangan dan kaki sang putra yang ditutupi perban. Beruntung luka ditubuhnya tidak terlalu parah, dan hal itu cukup membuat Fatimah bernapas lega.


Apa yang harus dia katakan jika putranya menanyakan keberadaan Shandra? Apakah dia mampu untuk mengungkapkan kebenarannya? Rasanya dia tidak sanggup, bahkan untuk mempertanyakan sosok perempuan yang meninggal dalam kecelakaan yang menimpa sang putra saja dia tidak mampu menemukan kosakata yang tepat.


Mengapa rumah tangga anaknya yang baru seumur jagung itu sudah diterpa banyak prahara yang begitu sulit untuk diselesaikan? Mengapa dan mengapa, kata itu yang kini memenuhi isi kepalanya.


▪▪▪


"Shandra sedang menginap di rumah papahnya. Katanya ingin melepas rindu." Itulah alibi yang Fatimah berikan.


Farhan bukanlah manusia yang mudah percaya begitu saja. Rasa curiga selalu membayanginya, tapi dia tak mengutarakan keganjilan yang tengah dirasakannya pada sang ibu.


"Udah ayo buruan. Katanya mau pulang," seru Fatimah pada putranya yang masih duduk di bangsal dengan kaki menjuntai.


Farhan terkesiap dan segera menurunkan tungkainya. "Papah ke mana sih, Mah? Kok Shandra sama Papah bisa ngilang kompakan gitu," tuturnya saat mereka berjalan ke luar ruangan.


"Papah lagi ngurus perusahaan," jawab Fatimah tanpa mau menyinggung sedikit pun soal menantunya.

__ADS_1


Farhan hanya manggut-manggut saja. Papahnya itu memang workaholic, tidak mengenal situasi dan kondisi. Kalau memang perusahaan sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, pasti beliau akan meluncur dan meninggalkan keluarganya untuk kepentingan bisnis. Sedangkan Fatimah sebagai istri hanya bisa mendukung dan mendoakan saja. Bukannya dia menerima dengan lapang dada sifat buruk suaminya, tapi dia memahami posisi sang suami. Dia menyadari dengan betul bahwa ada puluhan orang yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan yang suaminya pimpin.


"Pulangnya mampir ke rumah Papah Rahman, Mah. Farhan pengen ketemu Shandra sama sekalian liat keadaan Papah mertua," ucap Farhan yang membuat Fatimah refleks menginjak pedal rem mobil yang dikendarainya.


Menatap wajah putranya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. "Kamu baru aja sembuh. Harus banyak istirahat." Setelah mengatakan hal itu, dia segera melajukan kendaraan beroda empat tersebut untuk menuju kediamannya.


"Ish, cuman mampir bentar doang, Mah. Lagian apa salahnya sih ketemu istri sama mertua sendiri," keukeuh Farhan. Kecurigaannya kian menjadi saat melihat wajah pucat sang ibu.


"Enggak ada bentar-bentaran. Kalau Mamah bilang pulang yah pulang. Gak ada penawaran!" Fokusnya sedikit terpecah belah, antara menyetir dan memikirkan putranya yang pasti akan mengutarakan segala jenis pertanyaan.


"Shandra itu istri sah Farhan. Baktinya udah berpindah ke tangan aku. Seorang perempuan shalihah, apalagi yang udah bersuami udah pasti enggak bakal pergi tanpa izin dari suaminya. Tapi sekarang Shandra malah ngilang tanpa kabar, dan Mamah bilang lagi melepas rindu sama Papahnya? Aku gak bisa percaya semudah itu, Mah." Perkataan penuh ketegasan dari sang putra membuat Fatimah bungkam.


"Dua hari ini aku diem dan seolah-oleh percaya sama omongan Mamah, berharap Mamah mau mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi sampai sekarang Mamah masih bertahan dengan alibi yang Mamah buat. Mamah itu gak jago dan gak Allah ciptain sebagai pembohong. Aku tahu kapan Mamah berkata jujur dan kapan Mamah berdusta." Fatimah menatap ke arah putranya beberapa saat.


"Terserah kamu mau percaya atau enggak," ujar Fatimah lembut namun penuh penekanan.


Farhan menghela napas singkat. "Apa pun yang Mamah lakukan, semoga itu adalah sebuah kebaikan. Tapi Farhan cuman mau tau, alasan apa yang membuat Shandra ngilang. Itu aja. Gak lebih!"


Wanita senja berbalut ghamis itu tak menanggapi perkataan putra semata wayangnya. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya saat ini. Kondisi Farhan memang sudah cukup membaik, tapi dokter telah memberi pesan bahwa tidak boleh membebani putranya dengan sesuatu hal yang memerlukan kerja otak berlebih. Akan ada saatnya untuk dia mengutarakan kejujuran, tapi bukan sekarang waktunya.


▪To be continue▪

__ADS_1


__ADS_2