
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Tak ada satu pun manusia yang mampu menentang takdir Sang Illahi. Menyalahkan diri sendiri juga tak akan berdampak apa-apa."
▪▪▪
Selepas puas berkeliling toko buku sepasang kekasih halal itu memutuskan untuk sejenak mampir ke tempat makan, mengisi perut kosong mereka yang sudah meronta-ronta minta jatah makanan. Sebuah restoran yang menyajikan berbagai macam makanan seafood menjadi pilihan keduanya. Mereka memilih untuk duduk di kursi pojok kanan dekat pintu masuk dan keluar.
"Mau pesen apa?" tanya Farhan dengan tangan yang sibuk melihat-lihat buku menu.
"Samakan saja," sahut Shandra cepat. Apa pun jenis makanannya pasti akan dia libas habis, terlebih lagi perutnya sudah sangat keroncongan.
Pilihan Farhan jatuh pada kepiting saus padang dan juga dua gelas lemon tea. Tak membutuhkan waktu yang lama akhirnya pesanan mereka datang juga. Tanpa banyak kata lagi keduanya sibuk menyantap hidangan yang begitu menggugah selera.
Sepertinya semesta tengah mengizinkan mereka untuk menghabiskan waktu bersama. Untuk kali pertamanya mereka bisa seperti ini, saling berbagi cerita dengan diiringi canda dan tawa. Suasananya pun sangat mendukung, hingga tanpa mereka sadari waktu berjalan dengan begitu cepat.
"Ternyata loe asik juga diajak ngobrol," ujar Farhan setelah menegak setengah minumannya. Shandra hanya menyunggingkan sedikit senyumnya.
"Nah gitu kek senyum. Biasain napa, Shan tebar senyuman, gak bayar ini. Bukannya senyum itu ibadah yang paling mudah dilakukan," sambung Farhan merasa begitu sangat senang melihat lengkungan indah di kedua sudut bibir istrinya. Hal yang sangat langka dan patut untuk diabadikan sebenarnya. Tapi dia tak ingin merusak suasana jika harus repot-repot mengeluarkan gawai dan ber-swap foto bersama. Biarkan saja ini menjadi kenangan terindah di dalam memorinya.
"Akan saya usahakan," sahutnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Farhan menghela napas singkat saat kembali melihat rona wajah andalan sang istri.
"Kita harus banyak-banyak luangin waktu bersama supaya kita bisa mengenal pribadi masing-masing, gimana?" cetus Farhan yang hanya dibalas anggukan singkat oleh istrinya.
Kegiatan mereka sedikit terganggu karena kehadiran seseorang yang tanpa izin langsung mendaratkan bokongnya di samping Farhan. "Sehat loe? Sudah lama banget kita gak ketemu. Apa kabar?" tanyanya beruntun.
Farhan sedikit terhenyak kaget mendapati kehadiran kawan lamanya yang sudah sangat lama sekali tidak bersua. Kedua pria sebaya itu saling berpelukan singkat. "Alhamdulillah baik. Loe ke mana aja?" sahut Farhan menyambut antusias kawan semasa kuliahnya dulu.
Pria berjaket lavis dan celana jeans itu tertawa ringan sebelum menjawab, "Biasalah ke mana lagi kalau bukan backpakeran."
"Masih gak berubah ternyata," ujar Farhan. Kawan lamanya yang bernama Satya itu memang seorang petualang sejati. Setiap ada waktu luang pasti akan dia habiskan untuk menjelajah penjuru kota yang ada di Indonesia.
__ADS_1
"Oh iya sampai lupa kenalin istri gue Shandra," lanjut Farhan seraya melirik ke arah istrinya yang sedaritadi menjadi penyimak.
"Satya," katanya dengan tangan yang menjulur ke depan. Berniat untuk menyalami sang lawan bicara, namun tak mendapat sambutan baik dari Shandra. Dengan malu dia menarik lagi tangan kanannya yang tadi sempat melayang di udara.
"Maaf bukan mahram," tutur Shandra dengan kepala menunduk. Dia takut menyinggung perasaan teman dari suaminya, tapi dia juga tak mungkin menerima uluran tangan tersebut. Ditusuk dengan pasak besi masih lebih baik jika harus bersentuhan dengan pria yang bukan mahram-nya.
Satya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sorry, Han gue kira istri loe modelan mantan-mantan loe dulu. Maaf Shandra gue gak tahu," katanya tidak enak hati sekaligus malu.
Shandra hanya mengangguk maklum sedangkan Farhan sudah tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan kawan lamanya. "Dia lain daripada yang lain, Sat," kekehnya.
"Gue kira loe bakal nikah sama Sarah eh taunya bukan. Jodoh emang gak ada yang tahu yah, padahal dulu loe sama Sarah couple goal. Gak nyangka gue," celoteh Satya yang berhasil membuat Shandra semakin menundukkan kepalanya, dan Farhan diam seribu bahasa. Mulut temannya itu memang sangat lemes dan tak bisa diajak kompromi. Apa pun yang bersarang di kepala, pasti akan dikeluarkan tanpa pikir panjang terlebih dahulu.
Farhan sedikit berdehem untuk mencairkan susana yang terasa gerah seketika. Kerongkongannya pun rasanya memerlukan cairan. "Sarah udah meninggal, Sat," beritahunya yang membuat tubuh Satya menegang bukan main.
"Becanda loe gak lucu, ah. Orang sekitar tiga minggu lalu gue ketemu dia di rumah sakit," sangkal Satya.
"Ngapain loe keluyuran di rumah sakit?" tanya Farhan berniat mengalihkan pembicaraan. Dia ingin menjaga perasaan istrinya yang terlihat sudah duduk dengan tidak nyaman.
"Saya ke kamar mandi sebentar," ucap Shandra dan berlalu begitu saja. Farhan mengerang frustrasi melihat punggung istrinya yang semakin menjauh pergi. "Mulut loe gak bisa apa disaring dikit, udah tau ada bini gue."
Satya hanya nyengir tanpa dosa dan menampilkan dua jarinya hingga membentuk huruf V. "Sorry, Han gua kan cuman ngomong apa adanya doang. Lagian gue kan mau konfirmasi kebenaran itu sama loe," ungkap Satya.
Farhan menggelengkan kepalanya pelan sebelum berujar, "Ya tapi liat sikon juga kali. Lo kira istri gue itu patung apa? Gue sama Sarah itu udah gak ada apa-apa, dan harus loe inget yah kalau anak yang dikandung Sarah itu bukan anak gue. Ingat baik-baik tuh. Awas kalau loe sampe sebar gosip yang enggak-enggak."
Satya menampilkan deretan gigi putih bersihnya. "Iya... iya... sorry. Enggak lagi deh. Tapi gue jadi kepo sebenarnya siapa sih bapak dari anak yang Sarah kandung, kalau bukan loe kenapa juga dia ngaku-ngaku hamil anak loe, kan aneh."
Farhan mengembuskan napasnya berkali-kali sebelum berkata, "Emang dasar jiwa ibu-ibu yah mulut loe. Mau tau aja urusan orang lain."
"Ya udah sih kasih tau aja, daripada beritanya simpang siur gak jelas," sela Satya yang masih sangat penasaran dengan kisah percintaan kawannya. Sudah lama tidak saling berbagi cerita dan mungkin sekarang waktunya.
Farhan meminum sejenak lemon tea yang hanya sisa beberapa teguk saja. "Loe tau kan kalau Sarah itu gila harta, dia itu pacarin gue cuman mau morotin gue doang makanya gue sama dia putus di tengah jalan dan dia juga ketauan selingkuh sama cowok lain. Singkat cerita sekitar satu bulan lalu gue ketemu tuh sama dia di acara peresmian relasi Bokap gue. Dia kaget liat gue ternyata udah nikah dan loe tau dong kelanjutannya kaya gimana?" terang Farhan.
__ADS_1
Satya manggut-manggut. "Dia ngejar loe lagi? Lagu lama kaset kusut." Farhan mengangguk mengiyakan.
"Terus anak yang dia kandung anak siapa dong? Gak mungkin kan dia hamil sendiri, ya kali di zaman yang udah canggih gini masih ada kelanjutan kisahnya Maryam yang hamil tanpa suami."
Farhan menonyor kepala sahabatnya yang seringkali bertingkah konyol. "Otak loe kudu sering-sering dibersihin. Gue denger dari tetangganya sih dia dilecehin sama berandalan, tapi gak tau juga tuh kabar bener apa enggak."
"Gila loe yah udah punya istri masih aja kepoin cewek lain." Satya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Farhan meninju lengan kokoh temannya. "Udah ah jangan bahas dia. Gak baik ngomongin orang yang udah gak ada," ucap Farhan yang sebenarnya sudah sangat malas membahas perihal masa lalunya.
Satya mengangguk pelan. "Tapi kasian juga yah nasibnya yang harus dilecehin sama orang gak bertanggung jawab, terus harus meninggal di usia yang masih muda."
Farhan menunduk mendengar penuturan temannya. Rasa bersalah sedikit menyusup ke relung hati terdalamnya. "Ini semua salah gue yang ceroboh nyetir mobil. Kalau gue bisa berpikir jernih dan gak mentingin ego sama emosi, mungkin ceritanya gak bakal kaya gini."
Satya mengernyitkan keningnya tak mengerti. "Ngomong apaan sih loe? Gak jelas banget."
"Gue sama dia kecelakaan dan kematian dia itu karena ulah gue, Sat. Gue udah ngilangin nyawa dia sama calon anaknya," terang Farhan yang membuat Satya bungkam seribu bahasa. Dia sangat-sangat terkejut mendengarnya.
"Loe kecelakan tapi gak ngabarin gue? Parah banget loe jadi temen. Nikah kagak ngundang, eh kena musibah juga malah gak ngasih kabar."
"Ya mana gue inget loe, orang pasca kecelakaan aja gue di-shock terapi sama bini gue yang ngilang gitu aja. Nikahan gue sederhana dan gak ngundang banyak orang juga. Gue nikah dijodohin, ya mana sempet buat ngelist tamu undangan," tutur Farhan menjelaskan.
"Astagfirullah," pekik Farhan saat menyadari ketidakhadiran istrinya yang tak kunjung kembali dari kamar mandi.
"Kenapa?" tanya Satya dengan lipatan di keningnya. "Istri gue gak balik-balik. Tanggung jawab loe kalau sampai bini gue ngamuk," ujar Farhan yang sudah mengambil ancang-ancang untuk pergi.
Satya hanya tersenyum miring sebagai respons. "Gue doain dah loe tidur di luar malam ini," katanya yang langsung kabur begitu saja dengan tawa menggelegar.
Farhan menjambak rambutnya frustrasi dan berniat akan menyusuli istrinya. Baru saja hubungannya adem anyem, tapi kini sudah diterpa persoalan lagi.
▪To Be Continue▪
__ADS_1