Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
Part 8 | Mari Kita Mulai Semuanya Dari Awal


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Tidak ada kata terlambat untuk saling memperbaiki diri dan membuka hati."


▪▪▪


Selepas kepulangannya dari kediaman sang mertua, Shandra yang memang sudah Allah ciptakan menjadi sosok yang kaku dan berbahasa baku itu malah kian menjadi dan cenderung berdiam diri. Berbicara seperlunya tapi sekalinya mulut dia terbuka membuat yang mendengar sakit telinga. Seperti yang saat ini tengah Farhan rasakan, niat hati pulang cepat ke rumah berharap mendapat sambutan hangat dari sang istri. Namun, ternyata ekspektasi selalu tak sesuai dengan kenyataannya.


"Loe masih marah gara-gara gak gue kasih izin nemuin Siska?" tanya Farhan. Dia mencoba menghilangkan sedikit ego dan gengsi demi keberlangsungan rumah tangganya bersama dengan sang istri.


Shandra yang memang tengah berbaring dengan posisi memunggungi Farhan, hanya bertahan dengan gemingnya dan sibuk dengan bayangan obrolan singkat dengan sang mertua. Otaknya terasa pening jika itu menyangkut dengan momongan yang menjadi permintaan pertama sang mertua.


"Gue minta maaf deh kalau kata-kata gue nyinggung dan nyakitin loe," lanjut Farhan namun tetap tak membuahkan hasil sama sekali.


"Kalau ada apa-apa tuh diobrolin jangan malah kaya gini. Kita sama-sama tau kalau enggak ada cinta di antara gue sama loe. Tapi loe juga harus tau ini udah jadi keputusan kita berdua dan udah seharusnya kita saling terbuka untuk memperbaiki semuanya. Kecuali loe ingin mengakhiri semuanya." Setelah mengatakan hal itu Farhan keluar dari kamar begitu saja. Sudah mati-matian dia meredam ego dan emosinya namun yang dia dapatkan hanyalah keterdiaman yang Shandra tunjukkan.


Menyadari kepergian sang suami, Shandra bangun dari posisi tidurnya. Duduk selonjoran dengan bersandar di kepala ranjang. Merenung dan melamun kini menjadi kawan akrabnya.


Pintu kamar kembali terbuka dan dengan refleks Shandra menoleh. Kedua matanya bertemu pandang untuk beberapa detik dengan netra sang suami yang tengah menatapnya begitu sengit.


"Gue cuman ambil laptop doang, banyak kerjaan yang harus gue kerjain," jelas Farhan memberi tahu.


"Tunggu. Saya ingin berbicara sebentar," cegah Shandra saat Farhan baru saja akan memutar kenop pintu.

__ADS_1


Tanpa banyak protes Farhan menghampiri istrinya yang kini sudah duduk bersila di atas kasur dengan bantal yang berada di atas pangkuan. Dia duduk tepat di samping Shandra, menunggu sang istri untuk mengutarakan niatnya.


"Maaf," satu kata itu meluncur bebas dari sela bibir ranum Shandra.


Kening Farhan berkerut tak mengerti. "Loe aneh, tadi diemin gue sekarang malah minta maaf." Kira-kira begitulah yang keluar dari mulut Farhan.


Shandra menarik dalam napas dan membuangnya kasar. "Saya sangat menyadari bahwa saya ini jauh dari kata istri idaman yang kamu dambakan. Tak ada yang spesial dari saya, dalam hal dapur dan pekerjaan rumah saya sangat lemah. Bahkan, dalam hal melayani kebutuhan kamu saja belum mampu saya jalankan sepenuhnya..."


"Bukannya ini udah jadi kesepatakan kita berdua. Enggak ada kata hak dan kewajiban ataupun tuntut menuntut. Itu, 'kan yang dari awal sampai sekarang kita terapkan. Jadi, stop untuk bahas soal beginian," potong Farhan cepat.


"Ya, saya tahu itu tapi perkataan Mamah membuat saya sadar bahwa pernikahan itu bukan hanya sekadar sebuah drama yang harus dilakoni sesuai dengan skenario yang telah kita sepakati. Bukan hanya kita yang terlibat di sini melainkan ada dua buah keluarga besar yang menjadi pemicu utama berlangsungnya pernikahan kita," ujar Shandra lalu merubah posisinya agar menghadap sang suami. Kegugupan sangat jelas di wajah datarnya.


"Kita memang bisa menjalankan drama ini sesuai dengan alur yang kita ciptakan. Tapi, saya sadar jika hal itu tidak baik untuk keberlangsungan rumah tangga dan keluarga kita berdua. Seperti yang kamu katakan bahwa tidak ada cinta di antara kita berdua. Tapi bisakah kita memulai semuanya dari awal?" terang Shandra panjang lebar.


Untuk pertama kalinya Shandra memberikan senyuman tipis dan mengambil alih tangan kanan sang suami agar berada di dalam genggamannya. Mati-matian dia menahan debaran serta gugup yang kini tengah melandanya. Ini adalah kali pertama baginya bersikap demikian. "Mari kita mulai semuanya dari awal?" tuturnya kembali mengukir senyuman termanis yang dia miliki.


Farhan tertegun dengan jantung berdentum, dia terpana melihat wajah bersahabat dan senyum merekah dari istrinya. "Loe serius, 'kan?"


Shandra mengangguk mantap. "Bimbing saya agar menjadi istri yang kamu inginkan," pintanya.


Bak gayung bersambut, dengan tidak tahu malunya dia memeluk Shandra begitu erat, dan hal itu membuat keduanya menegang untuk beberapa saat. Ini adalah pelukan ketiga sepanjang pernikahan mereka. Namun, masih berdampak kuat bagi keduanya.


"Maaf refleks gue," katanya setelah melepaskan diri dari sang istri. Dia menampilkan cengirannya dengan  tangan menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.

__ADS_1


Susana seketika menjadi canggung. Keduanya saling berdiam diri dengan jantung yang sibuk berdisko ria di sana. Wajah Shandra merona saat dia merasakan dengan jelas debaran di dadanya. Rasa apa ini? Begitulah yang berkecamuk dalam benaknya.


"Ekhem... Oh, iya soal tadi pagi gue minta maaf. Gue izinin loe, tapi perginya harus sama gue," ungkap Farhan mencoba mencairkan kembali suasana.


"Terima kasih. Tapi apakah itu tidak merepotkan kamu?" sahut Shandra senang bukan main.


"Enggaklah. Terus kapan berangkatnya?" tanya Farhan antusias. Dia menjadi begitu semangat setelah perbincangan tadi. Jika saja drama pagi itu tak terjadi mungkin malam ini Shandra sudah tiba di rumah sahabatnya.


"Besok pagi, bisa?" tanya Shandra ragu.


"Oke," singkatnya yang langsung merebahkan tubuh di atas ranjang.


"Bukannya kamu sedang banyak pekerjaan?" tanya Shandra melirik sang suami yang begitu terlihat tampan dengan posisi tidur telentang dan senyum yang merekah indah.


Farhan menampilkan deretan gigi putih bersihnya. "Tadi gue boong, Shan. Sebenernya gak ada kerjaan kok," ucapnya membongkar kebohongan yang dia ciptakan.


Shandra hanya mengangguk tanpa protes. "Baiklah," kata Shandra lalu pergi ke toilet yang berada di kamar untuk mengambil air wudu. Dua hari yang lalu dia membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa tidur dalam keadaan berwudu sangat dianjurkan. Dan dia ingin mengamalkan hal itu.


"Tidur nyenyak ini mah," gumam Farhan dan dengan segera memejamkan kedua matanya untuk menyambut alam mimpi.


Selepas keluar dari kamar mandi Shandra melihat wajah pulas sang suami yang begitu damai dalam tidurnya. Dia berdoa dan berharap semoga ini awal yang baik untuk rumah tangganya. Sebelum benar-benar terlelap Shandra menyempatkan diri untuk membaca surat An-Nas, Al-Falaq, dan Al-Ikhlas. Tak ketinggalan dzikir yang Nabi Muhammad SAW ajarkan kepada putrinya Sayyidah Fathimah az Zahro dan Sayyidina Ali Karromallahu wajhah, yaitu membaca tasbih sebanyak 33x, tahmid sebanyak 33x, dan takbir sebanyak 34x.


Hal yang dianggap sepele namun begitu terasa dampaknya. Amalan yang sederhana dan bisa dilakukan siapa saja, namun seringkali lupa dan tertinggal untuk diamalkan. Semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba-hamba yang senantiasa mengamalkan Sunnah-nya.

__ADS_1


▪To be continue▪


__ADS_2