Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
Part 6 | Sisi Lain Shandra


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Saya bukan mereka yang mudah terbuai dengan kata-kata manis."


-Shandra-


▪▪▪


Matahari belum menunjukkan batang hidungnya tapi Shandra sudah terbangun dan tengah mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat di sepertiga malam terkahir. Salat yang sudah dua bulan terakhir ini selalu dia kerjakan, dia begitu merasa berdosa jika sampai tidak melaksanakan salat sunnah tersebut.


Sebisa mungkin dia memusatkan pikirannya tertuju hanya kepada Allah Yang Satu. Namun, tetap saja selalu ada hal-hal yang mengganggu konsentrasinya. Ke-khusukan dalam salat memang sangat sulit Shandra dapatkan, hampir di setiap salat dan sujud terakhir dia selalu memanjatkan doa agar senantiasa diberikan ke-khusukan. Tapi sepertinya doa itu belum kunjung dikabul.


Menggelar sajadah agar menghadap kiblat dan berdiri di atasnya. Gema takbir lolos dari sela bibir tipisnya yang berwarna merah alami. Melaksanakan dua rakaat salat tahajjud dan tiga rakaat salat witir sebagai penutup. Mengambil mushaf Al-qur'an yang menjadi mahar pernikahan yang sengaja dia simpan di atas rak buku yang dua minggu lalu dibeli. Lantunan ayat suci mengalun indah walau sedikit tersendat-sendat karena ketidakmampuan Shandra dalam memahami tajwid dan pelafalan bahasa Arab yang sesuai. Maklum saja dara kelahiran Ibu kota itu masih dalam tahap belajar dan berproses untuk mempelajari agama-Nya. Terhitung baru sekitar empat bulan lebih satu minggu dia mulai mendekatkan dirinya pada Sang Khalik. Berhijrah dan berubah ke arah yang lebih baik lagi.


Kumandang azan subuh menghentikan kegiatannya, dengan segera dia membangunkan sang suami agar segera bergegas membersihkan diri, dan pergi ke masjid yang berada tidak jauh dari apartemen tempat tinggalnya.


"Apaan sih ganggu orang tidur aja." Gerutuan itu Shandra dapatkan saat dia sudah berhasil membangunkan suaminya.


"Sudah azan. Bersegeralah ke masjid," titah Shandra.


"Siap Bu Ustazah," sahut Farhan dengan segera meluncur ke kamar mandi. Sebejat-bejatnya dia dalam berlaku dan bertindak, tapi tak pernah sedikit pun meninggalkan salat yang sudah menjadi kewajibannya. Ya, walaupun harus diingatkan terlebih dahulu setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali.


Shandra tersenyum samar melihat pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. "Maafkan saya jika belum bisa menjadi istri yang kamu harapkan," ucapnya seraya melangkah menuju almari untuk mempersiapkan pakaian sang suami. Koko berwarna putih dengan sarung dan peci hitam menjadi pilihannya.


Pintu kamar mandi sedikit terbuka dengan kepala Farhan yang menyembul keluar. "Shan bajunya mana?"


Dengan langkah mundur dan tangan yang terjulur ke belakang Shandra memberikan pakaian yang diminta suaminya. Hal yang sudah menjadi kebiasaan sepasang suami istri itu. Baik Shandra maupun Farhan keduanya sama-sama berpendirian untuk tidak menapakkan aurat masing-masing. Sebuah perjanjian yang memang sudah keduanya sepakati semenjak awal pernikahan. Ya, meskipun hanya sekadar perjanjian lisan tapi mereka sudah menyetujuinya.


Pintu kamar mandi kembali terbuka, yang membedakan kali ini pintunya terbuka dengan lebar dan menampakkan seorang laki-laki yang sudah rapi dan tampan dengan balutan koko dan sarung. "Gue pergi dulu," pamitnya yang langsung pergi begitu saja. Tanpa ada salam perpisahan dan kecupan hangat yang dia berikan. Sama seperti hari-hari sebelumya.


Ya, memang begitulah realitanya Farhan mencoba menahan diri untuk tidak lagi melakukan kontak fisik berlebih pada istrinya. Dia takut hal itu akan membuat Shandra tak nyaman. Cukup dua kali saja dia mencium kening sang istri, maka dari itu dia selalu menghindar pada saat Shandra hendak mencium punggung tangannya. Dia takut kebablasan.


"Dia selalu pergi tanpa mengucapkan salam," gumam Shandra. Tak mau mengambil pusing dia segera menjalankan salat dua rakaatnya. Namun, sebelum itu dia menjalankan salat fajar terlebih dahulu. Salah satu salat sunah yang memiliki keutamaan, yakni lebih baik dari dunia dan seisinya.

__ADS_1


▪▪▪


Farhan tersenyum bahagia saat melihat sang istri yang sudah kembali berkutat di dapur mempersiapkan makanan untuk sarapan pagi kali ini. Sepertinya efek dari buku KBBI itu sangat berdampak positif untuk Shandra. Setidaknya ada hikmah dari kekesalan dan kedongkolan dia semalam.


"Masak apa?" tanyanya saat sudah duduk manis di kursi meja makan dengan dagu yang sengaja dia topang dengan tangan.


Shandra yang tengah menumis capcay resep masakan yang dia dapatkan dari mbah google yang serba tahu itu hanya menoleh sekilas.


Tak mendapatkan respons berarti Farhan kembali memutar otaknya agar bisa mencairkan suasana. "Kalau suami nanya tuh dijawab," ujarnya dengan santai menghampiri Shandra dan memeluk tubuh menegang sang istri dari belakang. Hal itu membuat perasaan Shandra berdebar tak keruan. Bahkan untuk mengambil oksigen saja rasanya sangat kesulitan.


Seperti ada tarikan magnet yang begitu kuat dalam diri Shandra yang membuat Farhan ingin selalu mengganggu dan mengerjai istrinya. Padahal dia sudah mati-matian agar bisa berlaku sopan dan tidak kurang ajar pada sang istri. Dia sangat paham dan tahu betul bahwa istrinya itu tidak pernah berhubungan dengan laki-laki selain dia, dan sangat wajar jika pada saat dia melakukan kontak fisik, walaupun hanya sekadar pelukan akan memberikan efek luar biasa pada sang istri.


"Lepaskan saya!" tegas Shandra setelah rasa gugup dapat dia singkirkan.


Dengan usil Farhan malah semakin mempererat pelukannya. Bahkan sekarang dagunya sudah bertengger apik di bahu sebelah kanan sang istri. "Yang manis dong kalau ngomong sama suami," katanya dengan nada suara semanis mungkin. Dia ingin memperbaiki hubungan rumah tangganya. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan tidak pantas untuk dipermainkan, ya sekalipun pernikahan itu tidak dilandasi dengan rasa cinta seperti yang kini dia alami.


Dengan tangan gemetar yang sudah berkeringat dingin Shandra mematikan kompor dan menghempaskan jauh-jauh tangan nakal suaminya. Membalik tubuhnya agar menjadi berhadapan dan mendorong kedua pundak suaminya agar menyingkir. "Sepertinya kamu tidak mengerti bahasa Indonesia yang baik dan benar!" ketus Shandra dengan menampilkan wajah datar tanpa ekspresi sedikit pun.


Mendapat perlakukan tak terduga dari sang istri membuat tubuh Farhan mundur beberapa langkah. "Cewek kalau diromantisin pasti klepek-klepek lah loe malah bersikap anarkis kaya gini."


"Kenapa sih loe selalu bersikap kaku sama gue? Gue, 'kan suami loe!" Akhirnya meluncur juga pertanyaan yang selama ini dia pendam. Umur pernikahan mereka memang masih seumur jagung. Tapi apakah akan tetap seperti itu? Rasanya akan sulit jika dijalankan.


"Itu hanya perasaan kamu saja. Sudahlah lebih baik kita sarapan," ujar Shandra tak mau membahas perkataan bernada protes dari suaminya.


Dengan pasrah Farhan menuruti titah sang istri. Dia semakin dibuat kesal karena Shandra dengan tanpa dosa tidak mengambilkan dia makanan. Andai mamah mertuanya masih ada, mungkin Shandra sudah mendapatkan teguran dan rentetan ceramah sebagai menu tambahan.


"Mengapa kamu tidak makan?" tanya Shandra heran saat dia hendak menyuapkan nasi yang sudah dilengkapi dengan capcay dan telur dadar.


"Loe mah baiknya kalau depan bonyok doang," dengusnya dengan kesal mengambil secentong nasi dan lauk pauk yang sudah tersaji di meja makan.


Melihat hal itu membuat Shandra mengutuk dirinya sendiri karena lupa tak melayani sang suami. "Maafkan saya," kata Shandra dengan kepala tertunduk. Biasanya sang mamahlah yang akan menegur dan menasehati tapi sekarang sudah tidak lagi.


Melihat gurat kesedihan di wajah sang istri membuat Farhan menghela napas panjang. "Udahlah lupain aja," ucap Farhan mencoba membesarkan hati sang istri.

__ADS_1


Sikap Shandra yang kaku namun sangat mudah tersinggung membuat Farhan kesulitan dalam bersikap. Dia seperti manusia yang minim rasa percaya diri, terlihat jelas dari pembawaan dirinya yang terlalu suka menunduk pada berbagai kesempatan.


"Benarkah?" Kepala Shandra mendongak dengan binar mata harap-harap cemas.


Anggukan kepala sang Suami membuat senyum tipis terbit di bibir tipisnya. "Santai aja sama gue mah," tutur Farhan bersikap biasa saja. Walau tak bisa dipungkiri bahwa dia sedikit kecewa.


Namun, ada sedikit kebahagian yang terselip di hati kecilnya saat melihat senyum tipis di wajah cantik sang istri. Untuk pertama kalinya dia melihat raut wajah bersahabat yang ditunjukan oleh istrinya. Ya, meskipun hanya senyum setipis benang, tapi tak apa itu sudah cukup membuat hati dia senang.


"Sepertinya saya terlalu banyak menambahkan gula," komentar Shandra pada masakannya sendiri. Lidahnya seperti tengah memakan sirup dalam bentuk capcay. Mendengar perkataan sang istri membuat Farhan penasaran dan ingin segera mencicipi.


"Makanya kalau loe lagi masak jangan sambil bayangin muka gue. Jadi kemanisan, 'kan." Dengan percaya dirinya Farhan berkata demikian.


"Coba saja kamu tidak mengganggu saya tadi, mungkin rasanya tidak akan seperti ini," gerutu Shandra yang seperti baru menyadari keteledorannya yang terlalu banyak menambahkan gula. Dia terlalu gugup sampai lupa sudah berapa banyak gula yang tadi dimasukan.


"Lho kok gue sih?" sela Farhan tak terima. Salah dia apa? Enak sekali Shandra menyalahkannya.


"Sudahlah saya lelah jika setiap hari harus berdebat dengan kamu," ucap Shandra memberengut kesal.


"Sudah jangan diteruskan tidak baik untuk kesehatan lambung kamu," larang Shandra saat Farhan masih saja melanjutkan acara santap paginya.


"Mubazir kalau dibuang. Mending loe duduk manis aja liatin suami tampan loe makan," sanggah Farhan. Dia itu tipikal orang yang paling tidak suka melihat makanan terbuang cuma-cuma. Di luar sana masih banyak orang yang kelaparan dan kesusahan mencari makan. Sedangkan dia yang diberikan rezeki makanan, masa iya malah membuangnya begitu saja?


Shandra hanya menurut saja sesuai titah yang diberikan oleh suaminya. Dia menatap heran tak percaya mengapa bisa sang suami terlihat biasa saja saat menyantap masakannya. Dia saja yang memasak enggan untuk memakannya.


"Saya berencana akan pergi untuk menemui Siska. Apakah kamu mengizinkan?" seloroh Shandra to the point.


Suapan terakhirnya melayang di udara karena terkejut mendengar perkataan sang istri. Dia meletakan kembali sendok itu ke atas piring. "Kapan?"


"Mungkin nanti sore," jawab Shandra setelah menyeruput segelas teh hangatnya.


"Kenapa loe baru bilang sekarang sih? Sebenarnya loe anggap gue ini apa?!" Entahlah emosi Farhan tiba-tiba terpancing begitu saja. Dia merasa tidak dihargai sebagai suami.


"Mamah dan Papah sudah memberikan izin," tutur Shandra memberi tahu. Mendengar hal itu malah semakin menyulut emosi Farhan.

__ADS_1


"Izin loe itu di tangan gue, bukan kedua orang tua gue ataupun bokap loe. Gue suami loe, tapi kenapa gue jadi orang terakhir yang loe kasih tau!" geramnya. Dia memang tidak mengenali sosok perempuan yang sudah satu bulan lebih ini sah menjadi istrinya. Tapi apakah sampai separah ini?


▪To be continue▪


__ADS_2