
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Perihal cinta dan rasa biarlah menjadi rahasia di antara kita berdua. Tak usah mempedulikan omongan orang lain yang belum tentu kebenarannya."
▪▪▪
Cinta, hal yang teramat biasa dan mudah diungkapkan dalam wujud kata. Datangnya seringkali tak diduga dan disangka, terkadang memberikan suka bahkan tak segan memberikan duka serta luka. Hambar rasanya jika cinta itu tak ada dalam sebuah hubungan, terlebih lagi dalam hubungan rumah tangga.
"Kamu bahagia nikah sama Farhan?" Pertanyaan tiba-tiba itu meluncur bebas dari sela bibir Siska.
Shandra yang tengah sibuk mengupas singkong seketika terhenti dan menoleh. "Mengapa kamu bertanya demikian?"
"Enggak papa. Aku cuman heran aja liat hubungan kamu sama Farhan, udah nikah tapi masih gitu-gitu aja. Gak ada perubahan." Dengan penasaran gadis berusia dua puluh lima tahun itu mengungkapkan keganjilan akan rumah tangga sahabatnya.
"Ya, seperti inilah kami. Saya dengan apa adanya saya, dan Mas Farhan dengan apa adanya dia. Apa ada yang salah?"
"Jelas itu salah. Aku baru nemuin pasangan suami istri kaya kalian berdua," sahutnya.
Di dalam lubuk hati terdalam, Siska menyayangkan rumah tangga sahabatnya yang terlihat monoton. Shandra dengan gaya bahasa kaku dan baku, sedangkan Farhan yang lebih nyantai dengan 'gue-loe'. Terkadang dia bertanya, rumah tangga semacam apa yang tengah sahabatnya jalani?
"Tidak ada yang salah, Siska. Itu hanya perasaan kamu saja," sanggah Shandra.
"Apa kamu cinta sama Farhan?" tanya Siska to the point. Dia sudah kepalang penasaran.
Shandra yang tengah sibuk memasukan kulit singkong ke dalam kantung keresek sontak menoleh. Dia terkejut mendengar pertanyaan tak terduga yang dilayangkan sahabatnya. Jujur saja dia belum pernah merasakan apa yang disebut cinta. Cinta? Dia tak pernah memikirkan satu kata yang selalu orang-orang agungkan itu.
"Pertanyaan kamu sungguh aneh, Siska," sela Shandra dan kembali sibuk dengan kegiatannya yang tadi sempat terhenti.
"Aku serius, Shandra!" desak Siska. Bahkan dia meninggalkan sejenak kesibukannya.
"Saya pun demikian," tuturnya.
"Ok, kalau gitu aku permudah pertanyaannya. Apa yang kamu rasakan kalau di deket Farhan?" seloroh Siska dengan embusan napas kasar.
"Biasa saja," singkatnya tanpa beban sedikit pun. Sedangkan Siska sudah menahan napas beberapa saat. Dia kaget bukan main mendengar jawaban polos sahabatnya.
"Apa kamu deg-degan kalau deket sama Farhan?"
Shandra mengangguk mantap. "Jangankan bersama dia. Bersama kamu saja saya deg-degan."
Siska mengerang frustrasi. "Bukan deg-degan itu maksud aku, Shandra," katanya.
__ADS_1
"Lantas apa maksudnya? Bukankah itu hal yang wajar dialami oleh setiap makhluk bernyawa?"
"Udahlah lupain aja," dengus Siska dengan kekesalan yang sudah berada di ubun-ubun.
"Ya sudah," balas Shandra tanpa dosa.
Siska melihat ke arah Farhan yang sedang ketawa-ketiwi dengan adiknya, lantas kembali beralih pada sahabatnya. Perbedaan yang sangat mencolok dan bertolak belakang. Lihatlah Farhan yang begitu mudah memberikan senyuman sedangkan Shandra? Mungkin bisa dihitung dengan jari setiap harinya. Dia jadi khawatir akan keberlangsungan rumah tangga sang sahabat.
"Udah selesai belum?" tanya Ratih yang baru saja pulang dari warung seberang rumah.
"Udah, Bu," jawab Siska dengan segera membawa singkong yang sudah berhasil dia parut dengan halus.
Ratih hanya tersenyum, lalu sibuk mengeluarkan belanjaannya. Terlihat ada cabai rawit, cabai merah, tempe, kelapa parut, bawang merah, bawang putih, dan berbagai macam bumbu dapur lainnya.
"Tante akan membuat apa?" tanya Shandra antusias.
"Combro," sahut Ratih seraya menyiapkan semua alat dan bahan yang dia perlukan di meja.
Combro atau singkatan dari oncom di jero, adalah sebuah makanan khas Jawa Barat dengan bahan dominan singkong. Sesuai dengan arti namanya, combro terbuat dari parutan singkong dengan sambal oncom di dalamnya. Namun, terkadang menggunakan tempe sebagai bahan pengganti oncom yang sudah sangat jarang ditemui di warung. Perpaduan bahan dan bumbu masakan membuat combro terasa pedas dan manis.
"Bolehkah saya membantu, Tante?" tanya Shandra menawarkan diri.
"Iya, sana gih. Nanti suami kamu direbut Shakira baru tau rasa," imbuh Siska. Pandangan matanya tertuju pada Farhan dan sang adik yang sedang asik menonton televisi di ruang tamu.
Ratih yang sedang sibuk mengulek bumbu, dengan cepat memukul pelan lengan putrinya. "Kalau ngomong tuh dijaga," peringatnya.
"Becanda, Bu," selanya dengan cengiran khas.
"Saya tidak suka menonton televisi, Tante," ucap Shandra menghentikan perdebatan di antara ibu dan anak itu.
"Coba aja dulu kali, Shan. Siapa tau nanti kamu jadi kecanduan," tutur Siska. Dia semakin merasa ganjil.
"Tontonan Mas Farhan membuat saya bosan. Dia selalu menghabiskan waktu luangnya untuk menonton sinetron. Sungguh saya tidak suka dengan tayangan seperti itu," sanggah Shandra memberitahu.
Siska tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban jujur dari sahabatnya. "Masih sama aja tuh anak, sukanya nonton begituan."
"Farhan lebih cocok sama Shakira. Sama-sama suka nonton drama," lanjutnya.
"Husst, mulut kamu yah. Gak bisa direm banget," kata Ratih. Beliau takut Shandra menangkap hal yang berbeda mendengar penuturan anak sulungnya.
Siska hanya nyengir kuda sebagai respons. "Liat tuh, mereka berdua malah ketawa-tawa gak jelas," ujar Siska menunjuk ke arah ruang tamu.
__ADS_1
"Saya sudah biasa melihat hal seperti itu. Bahkan saya pernah memergoki Mas Farhan menangis hanya gara-gara serial drama," sahut Shandra.
"Astagfirullah, kirain dia udah tobat," kata Siska sebisa mungkin tidak menyemburkan tawanya.
"Gak baik ngomongin orang lain dibelakangnya. Mending sini bantuin goreng combro," ungkap Ratih.
Kedua perempuan sebaya itu dengan segera mengikuti titah Ratih tanpa banyak protes.
▪▪▪
"A Farhan endingnya kok nyesek yah," ucap Shakira seraya menghapus linangan air mata. Padahal sepanjang cerita mereka disuguhi dengan humor yang keren, dan juga penjiwaan para tokoh yang membuat mereka baper.
Farhan hanya mengangguk setuju. Mungkin jika dia menonton di rumahnya dia pun akan banjir air mata seperti Shakira.
"Anteng banget sih kalian berdua," kata Siska dengan sepiring combro di tangan. Tak ketinggalan Ratih dan Shandra mengekor di belakangnya.
"Seru filmnya, Teh. Tapi sayang akhirnya menyedihkan," ungkap Shakira.
"Jangan dramatis deh. Lagian itu cuman boongan doang," sahut Siska yang kini sudah duduk bersama di atas karpet.
"Teteh bilang gitu karena Teteh gak nonton. Coba kalau tadi ikutan nonton, iya gak, A?" sela Shakira meminta persetujuan.
Farhan kembali mengangguk. Dia masih terhanyut dengan jalan ceritanya. Sungguh sangat di luar dugaan dan mampu membuat dia sulit move on.
"Mending makan dulu mumpung masih panas," ujar Ratih menghentikan ocehan Shakira dan Siska yang tengah beradu argumen.
Mendengar komando Ratih mereka dengan segera melahap makanan yang sudah tersaji di depan mata. Menikmati setiap rasa pedas, manis, gurih di dalam mulut.
"Loe masih block nomor si Irfan, Sis?" tanya Farhan di sela aktivitas mengunyahnya.
Siska yang mendengar hal itu otomatis tersedak dan terbatuk-batuk. Sedangkan Ratih menatap horor putri sulungnya, meminta penjelasan lebih.
Tanpa menjawab, gadis yang masih berstatus lajang itu berjalan cepat menuju dapur untuk mengambil air minum, sekaligus menghindari pertanyaan Farhan.
Shandra menatap datar suaminya. Dia tidak suka sang suami yang terlalu ikut campur masalah pribadi sahabatnya.
"Gue cuman nanya doang. Serius deh," ucap Farhan membela diri. Dia paling ngeri melihat wajar datar tanpa ekspresi sang istri.
Farhan meneguk ludahnya dengan susah payah saat tak kunjung mendapatkan respons dari Shandra. Dia merutuki mulutnya yang tak bisa dikendalikan.
▪To be continue▪
__ADS_1