
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Aku memilihmu bukan sebab cinta ataupun desakan orang tua, apalagi harta dan tahta. Semuanya hanya karena Allah semata."
▪▪▪
Senyum tipis terukir indah di kedua sudut bibirnya yang berwarna merah alami. Dia sudah tidak sabar untuk menunggu kedatangan sang suami yang kini masih berada di kantor. Pakaian terbaik yang dia miliki pun sudah melekat indah di tubuh rampingnya. Sapuan make up natural ikut serta melengkapi penampilan wanita kaku berwajah manis yang tengah duduk santai di ruang tengah apartemen. Makan malam dengan hidangan khusus pun sudah dia siapkan di meja makan, hari ini suasana hatinya tengah berbunga-bunga dan menyambut kedatangan sang suami dengan penuh suka cita adalah pilihan terbaik yang dilakukannya. Untuk kali pertamanya dia bersikap berlebihan seperti ini dalam menyambut kepulangan sang suami. Entahlah seperti ada dorongan kuat yang meminta dia untuk melakukan hal seperti itu.
Selama ini dia tak pernah memberikan suaminya kejutan ataupun memperlakukan suaminya dengan hujaman kata cinta dan sayang. Karena memang dia bukan tipe orang sejenis itu, mungkin dengan cara selalu menyiapkan makanan dan segala macam kebutuhan yang diperlukan oleh suaminya adalah salah satu cara dia untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya. Memang terlihat sederhana dan tidak berkesan apa-apa bagi sebagian orang, tapi bagi Shandra ini sudah lebih dari cukup. Dan dia pun sangat bersyukur karena selama pernikahan yang sudah berjalan sekitar lima bulan lebih itu Farhan tidak pernah menuntut banyak hal, terlebih lagi perihal masalah hati dan perasaan yang sampai saat ini masih menjadi pertanyaan.
"Assalamualaikum," salam seseorang di balik pintu. Dengan cepat dan sigap perempuan yang menggunakan ghamis berwarna biru itu membukakan pintu selebar-lebarnya.
"Wa'alaikumussalam," jawabnya dengan sedikit sunggingan seraya membawa tangan suaminya untuk disalami. Farhan begitu senang melihat penampilan sang istri yang tidak seperti biasanya, dengan refleks dia memberikan elusan lembut di atas puncak kepala sang istri kaku.
"Mau ke mana?" tanya Farhan yang sudah mendaratkan tubuhnya di sofa. Shandra hanya mengeleng dengan seulas senyum tipis. Tanpa diminta dia mengambil alih tas kerja suaminya lalu diletakkan di atas meja, lantas duduk di samping sang suami dengan tenang.
"Makasih." Satu kata itu keluar dari sela bibir Farhan, Shandra menaik turunkan kepalanya. Dia selalu merasa tersanjung dan dihargai jika sang suami selalu mengucapkan terima kasih atas apa yang dilakukannya. Sederhana tapi membuat dia bahagia.
"Mau makan malam atau bersih-bersih dulu?" tanya Shandra penuh perhatian. "Mandi dulu aja udah gerah juga nih," sahutnya yang dibalas anggukan kecil oleh sang istri.
"Air panasnya sudah saya siapkan, pakaian juga sudah ada di atas ranjang. Saya tunggu di sini," jelas Shandra yang berhasil menerbitkan senyum di wajah lelah suaminya. Tanpa mau membuang banyak waktu lagi, Farhan menuju ke kamar untuk membersihkan tubuh.
▪▪▪
__ADS_1
Farhan keluar dengan wajah segar, menghampiri sang istri yang masih duduk di sofa seperti tadi. "Lama?" tanyanya yang membuat Shandra mendongak dan menatap wajah tampan suaminya.
"Tidak," singkat wanita itu. Farhan kembali mendaratkan bokongnya di samping sang istri, mendekap hangat tubuh istrinya yang sudah nyaman bersandar pada dada bidangnya.
"Ada apa nih? Tumben banget loe gak marah-marah karena ulah tangan gue yang suka nyosor gak jelas. Kenapa gak dari dulu sih loe kaya gini," cetusnya yang justru dibalas kekehan singkat. Dengan segera Shandra melepaskan diri dari jerat tangan nakal suaminya.
"Kenapa, hm?" ulangnya dan hal itu berhasil menarik perhatian Shandra yang kini malah sibuk menatap lantai. "Tidak apa-apa," jawabnya dengan senyum tipis dan juga lirikan mata singkat.
"Laper nih, cacing-cacing gue udah pada demo di dalam sana," ucap Farhan yang disambut tawa ringan oleh istrinya. Farhan selalu dibuat jatuh hati saat melihat senyum indah dan tawa bahagia yang terpatri apik di wajah datar sang istri.
"Mari, sudah saya siapkan." Dengan senang hati Farhan mengikuti langkah istrinya menuju meja makan.
Keduanya makan dalam keheningan, tidak ada perbincangan seperti biasanya. Mereka terlalu menikmati santap malam kali ini, entah karena masakannya yang terkesan spesial dan tak biasa, atau karena suasana hati mereka yang tengah berbunga-bunga.
"Alhamdulillah," kata Farhan setelah menghabiskan dua piring makanan yang dimasak oleh sang istri. Dia mengelus perutnya yang terasa begah karena terlalu banyak makan. "Masakan loe makin hari makin enak aja, perut gue bisa-bisa makin buncit nih," ocehnya dengan sedikit kekehan kecil.
"Sekarang istri kaku gue jago gombal yah," tuturnya yang disambut sedikit sunggingan sang istri.
"Saya ada sesuatu untuk kamu, tapi bukanya nanti pada saat saya sudah tidak ada di sini," terangnya seraya menyodorkan sebuah kotak berwarna biru muda.
Kening Farhan mengkerut bingung. "Ulang tahun gue masih lama, nanti aja kasih kadonya," ucap Farhan tapi tangannya tanpa diaba-aba mengambil alih kotak yang istrinya berikan.
Shandra tak menghiraukan perkataan suaminya, dia lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar dan berdiri di depan jendela besar yang menampilkan keindahan Ibu kota di malam hari. Dia sudah tidak sabar menunggu reaksi yang akan ditunjukkan oleh suaminya jika melihat isi dalam kotak yang tadi dia berikan. Lengkungan bulan sabit terbit begitu saja dari kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
Hening dan damai itu yang kini tengah dia rasakan. Namun, kehadiran sepasang tangan yang melingkar indah di perut ratanya membuat dia sedikit menegang, tapi tak lama dari itu senyum tipisnya kembali mengembang kala dia merasakan elusan lembut tepat di atas perut ratanya. Farhan menumpukkan dagunya di bahu kanan sang istri, mengambil sesuatu yang berada di kantong celananya, lantas menunjukan benda kecil itu di depan kedua bola mata sang istri.
"Ini benaran, 'kan? Loe gak lagi ngerjain gue?" tanyanya beruntun. Anggukan kecil yang diberikan sang istri membuat kedua sudut mata Farhan memanas, hingga meneteskan air mata bahagianya. Tanpa memberikan aba-aba Farhan langsung membalikkan tubuh Shandra dan merengkuhnya. Shandra kembali dibuat menegang karena ulah sang suami yang begitu erat memeluknya. Ucapan terima kasih tak henti-henti keluar dari sela bibir laki-laki itu, Shandra hanya mampu diam dan masih betah dengan keterkejutannya.
"Terus ini apa maksudnya?" tanyanya setelah dia berhasil mengendalikan diri. Sebuah bingkai foto pernikahan mereka yang di belakangnya tertulis coretan kecil hasil tangan sang istri.
Aku memilihmu bukan sebab cinta ataupun desakan orang tua, apalagi harta dan tahta. Semuanya hanya karena Allah semata.
"Jadi sampai sekarang loe belum mencintai gue?" tanya Farhan dengan sorot mata tajam yang dibuat-buat. Dia hanya ingin melihat reaksi yang akan ditunjukkan oleh istri kakunya, dan dugaannya benar saat melihat wajah datar sang istri yang menampilkan ketakutan, serta kakinya yang mundur secara teratur.
"Bu... bu... bukan seperti itu maksud saya," selanya dengan rasa gugup mendominasi, bahkan dia sampai tergagap mengatakan kalimat tersebut. Shandra kembali membelakangi suaminya dengan jantung yang berdebar hebat.
"Mau sampai kapan loe membohongi perasaan loe sendiri, Shan. Apa dengan kehadiran dia belum cukup membuktikan kalau kita sudah saling mencintai," bisik Farhan setelah berhasil merengkuh kembali tubuh istrinya. Tangan laki-laki itu begitu lembut mengelus perut rata sang istri. Shandra tak menjawab, dia lebih memilih diam dan menikmati setiap perlakuan manis yang suaminya berikan. Jantungnya berdetak tak keruan dengan napas memburu cepat.
"Saya tidak tahu apa itu cinta. Saya nyaman berada di dekat kamu, saya menikmati kebersamaan kita, dan saya bahagia jika melihat kamu bahagia," ungkap Shandra serupa bisikan namun masih bisa Farhan dengar dengan jelas.
Kedua sudut bibir Farhan mengembang indah mendengar penuturan istri kakunya. "Itu udah lebih dari cukup membuktikan kalau loe udah mulai cinta sama gue, Shandra," jelasnya yang membuat kedua pipi Shandra sedikit bersemu merah muda.
"Coba gue mau denger loe ngomong pake 'aku' kaya tulisan di belakang foto nikah kita," pintanya yang mendapatkan cubitan maut dari tangan sang istri.
Farhan tertawa melihat wajah salah tingkah istrinya. "Sekarang istri gue udah berani main cubit-cubitan yah," katanya yang justru disambut delikan super tajam dari sang istri.
"Lepaskan saya!" ketus Shandra yang sudah berdiri tegak dan siap menghindar sejauh-jauhnya dari sang suami.
__ADS_1
Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu terkekeh pelan, dan kembali merengkuh tubuh ramping istrinya. "Aku memilihmu karena aku yakin akan pilihan kedua orang tuaku. Jika dulu aku datang meminangmu tanpa cinta, kini aku datang untuk memperbaiki semuanya. Hanya kamu yang akan selalu bertahta di hatiku, tak ada yang lain selain namamu," ungkap Farhan yang berhasil membuat Shandra tersipu malu.
"Dengan lantunan Bismillah aku pun menerima pinanganmu, Mas," balasnya dengan nada suara teramat kecil.