
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Tak baik menyesali apa yang sudah terjadi, karena hal itu hanya akan merusak diri sendiri. Tugas kita hanya menjalani dengan sepenuh hati."
▪▪▪
Akhirnya waktu yang sangat Farhan nanti-nantikan berpihak padanya, kini dia sudah diperbolehkan untuk pulang dan menghirup udara segar. Terbebas dari ruangan yang membuatnya cukup muak dan bosan. Sedari tadi lengkungan indah di bibirnya tak pernah pudar, karena sang istri yang selalu berada di sampingnya.
"Sudah beres semuanya?" tanya Firdaus yang baru saja muncul di balik pintu ruangan. Fatimah, Farhan, dan Shandra mengangguk sebagai jawabannya. Beliau baru saja pulang dari perjalanan bisnis, dan sebagai wujud rasa bersalahnya pada sang istri, anak, serta sang menantu dia menyempatkan diri untuk menjemput kepulangan putranya.
"Ya sudah ayo kita pulang," ajaknya seraya mengambil alih tas yang dijinjing oleh menantunya. "Tidak usah, Pah. Biar Shandra saja yang membawanya," tolak Shandra merasa tak enak.
Firdaus menggeleng dengan seulas senyuman. "Enggak papa, lebih baik kamu bantu Farhan saja," katanya yang membuat kedua sudut bibir sang putra tersungging semakin lebar.
"Ayo, Mah," sambungnya seraya menggandeng mesra tangan sang istri. Berjalan beriringan di depan putra dan menantunya.
Farhan mengikuti cara sang ayah memperlakukan ibunya seraya berkata, "Ayo Sweety." Shandra mendelik tajam pada sang suami, yang begitu lancang menggandeng tangannya di khalayak ramai. "Nama saya Shandra bukan pampers bayi."
Mulut Farhan terbuka lebar mendengar respons yang diberikan oleh istrinya. Niat hati ingin romantis-romantisan malah gagal total. Firdaus dan Fatimah yang memang berjalan tak begitu jauh dari Farhan dan Shandra sudah dibuat tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Farhan hanya mampu memberengut kesal dan menjambak rambutnya kasar. "Loe buat gue malu, Shandra," desisnya. Shandra yang memang tak mengerti, hanya mampu diam tanpa mau banyak berkomentar.
__ADS_1
Firdaus bertugas sebagai sopir, Farhan duduk di sampingnya, sedangkan pasangan mereka duduk di jok belakang seraya berbincang-bincang santai. Farhan menatap heran pada istrinya yang menampilkan wajah cerah ceria, bahkan sesekali tertawa. Dia dibuat bingung karena watak sang istri yang angin-anginan. Jika bersama dengan dirinya Shandra selalu menampakkan wajah datar tanpa senyuman, tapi jika bersama dengan ibunya Shandra selalu bersikap wajar seperti manusia pada umumnya. Dia jadi berpikir, apa ada yang salah dengan dirinya hingga sang istri bertingkah seperti itu?
Firdaus yang mendapati putranya melamun hanya mampu menepuk bahunya pelan. "Dia hanya belum terbiasa dengan kamu yang selalu ada di sampingnya. Percaya sama Papah cepat atau lambat dia pasti akan berubah dan menerima kehadiran kamu," ungkapnya dengan sedikit senyum tipis.
Farhan hanya mengangguk dan mengaminkan perkataan sang ayah. Semoga saja setelah kejadian ini rumah tangganya bersama sang istri bisa berjalan sebagaimana mestinya.
"Cepat-cepatlah kalian memberikan Papah dan Mamah cucu. Siapa tahu saja dengan kehadiran seorang anak hubungan kalian bisa semakin dekat," saran sang ayah.
Farhan menghela napas berat dan tanpa sadar berucap, "Jangankan kasih Papah sama Mamah cucu. Tadi aku cuman pegang tangannya aja dia udah marah-marah gak jelas." Firdaus yang memang sudah menduga hal itu, hanya tertawa mengejek melihat kemalangan nasib sang putra semata wayang.
"Inget, Han nafkah itu ada dua. Nafkah lahir dan batin, kamu berhak untuk memintanya karena itu adalah hak kamu dan kewajiban bagi Shandra," pesannya sebelum dia benar-benar fokus ke jalanan. Farhan tak mampu menyahut perkataan sang ayah yang memang merupakan suatu kebenaran. Dia hanya bisa termenung dan menyandarkan kepalanya di pintu mobil yang sudah terkunci rapat.
▪▪▪
"Apa kamu ingin makan terlebih dahulu?" tanyanya saat melihat sang suami yang sudah tepar di atas ranjang. "Nanti aja gue belum lapar," sahutnya dengan mata terpejam.
Setelah mendengar jawaban dari suaminya, Shandra segera keluar untuk menuju ruang tengah. Duduk-duduk santai dengan segelas teh manis dingin menjadi pilihan untuk melepas sedikit kepenatan. Pikirannya sedikit terusik karena tak sengaja mendengar obrolan suami dan ayah mertuanya tadi di mobil. Tapi dia belum siap, atau mungkin tidak akan pernah siap. Hubungan rumah tangganya tak ada perubahan, masih datar-datar saja. Dan dia takut biduk rumah tangganya akan berhenti di tengah jalan.
"Kenapa hidup saya menjadi runyam seperti ini. Pernikahan yang saya kira akan berjalan baik-baik saja, ternyata tak sesuai harapan. Apa yang harus saya lakukan?" monolognya.
__ADS_1
Kehidupan dia semasa masih melajang tidaklah serumit ini, kegiatannya tak jauh-jauh dari pekerjaan. Tapi sekarang mengapa otaknya selalu bekerja ekstra, dan itu sukses membuat kepalanya pening bukan main. Jika saja dia boleh memilih dan mengulang waktu, mungkin dia akan menolak perjodohan konyol yang kedua orang tuanya pinta. Tak pernah sedikit pun terbesit dalam benaknya bahwa dia akan menikah dengan laki-laki yang memiliki image player seperti suaminya kini. Dia mengira jodohnya tak akan jauh berbeda dengan sifat dan kepribadian dirinya. Mungkin itu akan terlihat lebih manusiawi. Tidak seperti sekarang yang terlihat sangat jomplang dengan beragam perbedaan.
Menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan, hal itu terus dia ulang-ulang dengan harapan hatinya sedikit lebih tenang. Menyandarkan punggungnya pada sofa dengan kedua netra terpejam rapat, rasanya begitu damai dan tentram. Namun, kegiatannya sedikit terganggu karena ulah seseorang yang tanpa permisi duduk di sampingnya. "Sedang apa kamu di sini?" tanya Shandra yang masih setia dengan posisinya.
Farhan terdiam beberapa saat, mengikuti cara sang istri menenangkan diri. "Enggak ngapa-ngapain cuman pengen nemenin loe aja," sahutnya santai tanpa beban.
Shandra tak menghiraukan jawaban dari suaminya, menganggap tak ada orang sama sekali di ruangan itu menjadi pilihan terbaik bagi Shandra. Berikan mereka waktu sejenak untuk menikmati kebersamaan walau tanpa ada kata dan perbincangan. Setidaknya dengan cara seperti ini bisa membuat keduanya bisa sedikit lebih akrab.
"Shan," panggilnya setelah sekitar lima belas menit hening tanpa ada suara apa pun yang mengiringi. "Ya," sahut Shandra seperti biasanya. Singkat, padat, dan jelas.
"Loe cantik, tapi sayang...," cetus Farhan tanpa sedikit pun membuka netranya walau hanya untuk sekadar melirik ke arah Shandra.
Perempuan dengan balutan baju kurung dan khimar lebar khas rumahan itu cukup terhenyak kaget, tapi masih betah dengan posisinya yang sama seperti tadi. "Sayang kenapa?"
"Sayang aja gue sama loe." Tubuh Shandra langsung menegang tegak bahkan kedua netranya terbuka dengan begitu lebar.
Apa dia tidak salah dengar?
▪To be continue▪
__ADS_1