Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
Part 11 | Bekas Pacar


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Kodrat seorang perempuan adalah menunggu bukan menggangu, terlebih lagi menjadi masalah baru dalam hubungan orang lain."


▪▪▪


Seminggu berlalu, semenjak kepulangan mereka dari tanah kelahiran Siska, baik Shandra ataupun Farhan keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tak ada perubahan dalam rumah tangga mereka, Shandra yang cenderung lebih tertutup dan tak peduli dengan lingkungan sekitar. Dan Farhan yang tak mau dipusingkan dengan hal-hal sepele semacam itu.


Bertemu dan bertegur sapa seperlunya. Mereka seakan lupa dengan perjanjian yang beberapa waktu lalu keduanya sepakati. Di mana Shandra mengajak sang suami untuk memperbaiki hubungan, dan dengan tangan terbuka lebar Farhan menerima tawaran itu. Namun, pada kenyataanya hal itu hanya sekadar kata saja. Farhan yang notabene-nya adalah kepala keluarga membebaskan apa yang menjadi kenyamanan istrinya. Begitu pun dengan Shandra yang sama sekali tak mau mencampuri urusan pribadi sang suami.


"Shan," panggil Farhan. Kini keduanya tengah duduk santai di ruang keluarga. Shandra yang sibuk dengan buku tebalnya dan Farhan yang sibuk dengan serial drama kesukaannya.


Tak ada sahutan yang diberikan gadis berusia dua puluh lima tahun itu.


"Besok ada undangan peresmian perusahaan baru rekan bisnis gue," ucapnya mencoba memancing perhatian sang istri.


"Lalu?" Hanya satu kata itulah yang terlontar di bibir tipis Shandra.


"Ya temenin gue lah," sahut Farhan.


Shandra melihat sekilas wajah sang suami yang berada di sampingnya. "Mengapa harus dengan saya?"


Farhan memutar tubuhnya agar berhadapan dengan sang istri. "Emangnya salah kalau gue ajak istri sendiri?" ujarnya yang justru melontarkan sebuah pertanyaan.


"Tidak. Hanya saja saya tidak terbiasa pergi ke acara semacam itu," jawabnya jujur. Dia tidak begitu menyukai tempat ramai.


"Gue gak mau tau besok loe harus temenin gue," putus Farhan sepihak.


"Tidak bisa seperti itu. Besok saya harus ke kafe, ada hal yang harus saya kerjakan," sanggahnya.

__ADS_1


"Acaranya malem bukan pagi, Shandra," ujar Farhan memberitahu.


"Saya tidak bisa janji," sahutnya yang kembali melanjutkan acara membaca yang tadi sempat terhenti.


Farhan mendengus tak suka. "Sok sibuk banget loe."


Shandra yang mendengar hal itu hanya melirik sekilas, tanpa ada niat untuk menyahut perkataan suaminya.


Suara deringan ponsel Farhan mengusik kebisuan yang tercipta di antara sepasang suami istri itu. Dengan malas Farhan mengangkat panggilannya. "Mau ngapain lagi sih loe hubungin gue?" sembur Farhan kala mendengar suara seorang perempuan di seberang sana.


"Biasa aja dong. Kok ngegas gitu," ujarnya dengan begitu santai dan jangan lupakan nada suara yang dibuat semanis mungkin.


"Gue udah gak ada urusan lagi sama loe. Jadi, gue minta jangan pernah ganggu gue lagi!" tegas Farhan.


Perempuan bernama Sarah yang merupakan mantan pacarnya itu, akhir-akhir ini seringkali menghubungi dia. Dan hal itu sangat-sangat menggangu dan membuatnya muak.


"Aku masih sayang sama kamu," tuturnya tanpa tahu malu.


"Aku tau kamu kecewa, tapi kamu harus tau bahwa perasaan aku sama kamu masih sama dan akan tetap seperti itu," ungkapnya yang berhasil membuat Farhan naik pitam. Dengan napas naik turun dia mematikan panggilan secara sepihak. Kedua tangannya terkepal sempurna, bahkan rahangnya pun sudah mengeras sedari tadi.


"Siapa yang menghubungi kamu malam-malam seperti ini?" tanya Shandra saat sang suami telah kembali duduk di sampingnya.


"Bukan siapa-siapa," jawabnya acuh tak acuh. Emosi masih sangat jelas laki-laki itu rasakan.


Tanpa banyak bertanya lagi, Shandra memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Rasa kantuk sudah menyerangnya. "Saya duluan," pamitnya yang dibalas anggukan kepala oleh Farhan.


Farhan berpikir keras, bagaimana caranya dia menyingkirkan perempuan sejenis Sarah. Dia tahu betul karakter mantan pacarnya yang memiliki ambisi besar.


▪▪▪

__ADS_1


Berjalan santai dengan balutan kemeja, jas, dan juga celana bahan. Jangan lupakan dasi serta tas kerja yang semakin membuat kadar ketampanan serta kegagahan Farhan bertambah. Duduk di kursi meja makan bersama dengan sang istri yang kini sedang sibuk menata makanan.


Tak ada sapaan hangat ataupun senyuman di antara keduanya. Shandra lebih memilih mengambilkan makanan untuk suaminya. Kini dia sudah mulai menikmati perannya sebagai seorang istri, termasuk melayani dan mempersiapkan segala macam kebutuhan suaminya. Hanya sebatas itu saja, tidak lebih.


"Bagaimana? Apakah keasinan atau justru kemanisan?" tanya Shandra saat melihat sang suami memakan masakannya.


Farhan tersenyum tipis ke arah sang istri. "Enggak," jawab Farhan seadanya.


"Tapi kayanya loe lupa masukin bumbu deh. Hambar banget ini," lanjut Farhan.


Shandra meringis mendengar penuturan sang suami. Mengapa masakan dia selalu membuat lidah suaminya tersiksa? Kelebihan bumbu sudah sangat sering dan sekarang masakan dia justru kekurangan bumbu.


"Bukan lupa memasukan bumbu, saya sengaja mengurangi takarannya," sanggah Shandra. Dia takut masakannya akan keasinan atau kemanisan seperti beberapa waktu lalu. Oleh sebab itu, dia menguranginya namun ternyata hal itu justru semakin membuat hancur masakannya.


"Gue harus buru-buru ke kantor. Gak papa, 'kan kalau makanannya gak gue abisin?" tanya Farhan hati-hati takut menyinggung perasaan istrinya.


"Tak apa," jawabnya. Ada sedikit rasa kecewa yang hinggap di hatinya. Namun, dia tidak mau terlalu larut dalam perasaannya.


"Loe ambil tempat makan, terus pindahin ke sana. Biar nanti gue makan di kantor," titah Farhan saat melihat sedikit gurat kecewa di wajah datar istrinya. Dua bulan lebih hidup bersama membuat dia sedikit banyak memahami karakter sang istri.


"Tidak usah, lebih baik kamu berangkat sekarang saja," tolak Shandra.


"Udah jangan banyak protes. Udah telat nih," tukas Farhan yang membuat Shandra dengan segera mengikuti titahnya.


"Gue berangkat dulu assalamualaikum," pamitnya dengan sedikit senyuman.


Shandra mengangguk dan mencium punggung tangan suaminya. Hal yang sudah satu minggu ini dia lakukan. "Wa'alaikumussalam."


Shandra menatap nanar kepergian suaminya yang hilang ditelan tikungan. Dia kecewa dengan dirinya sendiri, karena sampai sekarang belum mampu membuka hati untuk sang suami. Rasanya begitu sulit dan hal itu diperparah dengan perubahan sikap suaminya yang cenderung tak peduli, dan terkesan tak mau memperbaiki hubungan rumah tangganya.

__ADS_1


Apa memang kehidupan rumah tangganya akan tetap seperti ini? Tidak bisa diperbaiki dan dipertahankan lagi?


▪To be continue▪


__ADS_2