Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
13 | Shandra Manusia Kaku


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Jangan terlalu gampang menyimpulkan apa yang terpampang di dunia maya, karena hal itu masih dipertanyakan kebenarannya."


▪▪▪


Semenjak percakapan via telepon bersama dengan ibu mertuanya Shandra semakin menjaga jarak dengan sang suami. Dia merasa tak nyaman dan canggung setiap kali kedua sudut matanya saling bertemu pandang. Sungguh, pertanyaan yang dilayangkan oleh mertuanya sangat menohok perasaan Shandra.


Ponsel pintar yang berada di atas meja kerja berbunyi. Tangannya begitu sigap melihat siapa gerangan yang menghubunginya. Nama sang sahabat tertera begitu jelas di layar pintar tersebut.


"Assalamualaikum, Shan," salamnya di seberang sana.


"Wa'alaikumussalam, iya ada apa, Sis?" sahut Shandra seraya bangkit dari duduknya, untuk menuju jendela besar yang terpasang apik di ruangan kerjanya.


"Kamu baik-baik aja, 'kan?" tanya Siska di ujung telepon. Nada khawatir sangat kentara sekali gadis itu rasakan.


Shandra mengerutkan keningnya tak mengerti. "Saya baik-baik saja. Memangnya ada apa?"


Siska menghela napas panjang. "Coba kamu buka ig Farhan deh, Shan," ucapnya.


Shandra semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan sahabatnya. "Untuk apa? Saya tidak memiliki instagram," ungkap Shandra. Dia memang sangat antipati dengan sosial media yang begitu digandrungi banyak manusia.


Helaan napas kembali terdengar di ujung sana. "Tunggu bentar, jangan dimatiin teleponnya," pintanya.

__ADS_1


"Iya," balas Shandra pasrah. Tak lama sebuah pesan masuk ke dalam ponsel pintarnya.


"Mengapa kamu mengirimkan gambar seperti ini, Siska?" tanya Shandra saat dia sudah melihat sebuah foto kebersamaan sang suami dengan seorang perempuan yang tak lain dan bukan adalah Sarah.


"Kenapa jadi kamu yang balik nanya sih? Aku kirim foto itu justru mau konfirmasi sama kamu. Hubungan kalian berdua baik-baik aja, 'kan?"


"Saya tidak tahu, Siska. Mungkin itu hanya foto lama saja, lagi pula hubungan kami baik-baik saja," tutur Shandra sedikit menutupi keadaan yang sesungguhnya. Hubungan dia dan sang suami memang sedikit merenggang setelah perbincangan singkat dengan mertuanya. Tapi walaupun demikian keduanya masih terlibat komunikasi, ya meskipun hanya sekadar basa-basi seperti biasanya.


"Itu foto baru, Shandra. Jelas-jelas baru di post kemarin," selanya.


"Sudahlah tak apa, itu hanya sekadar foto saja," ujar Shandra begitu tenang.


Siska di seberang sana sudah uring-uringan tak jelas karena panas melihat foto yang tak seharusnya Farhan posting. Tapi Shandra yang notabene-nya adalah perempuan yang berstatus sebagai istri Farhan justru terlihat santai dan biasa saja.


"Shandra aku takut penyakit lama Farhan kumat lagi," katanya. Dia masih mengingat betul bagaimana dulu Farhan yang tidak terima dengan tindakan yang dilakukan Sarah. Dan dia takut Farhan berbuat gila lagi seperti dulu.


"Shandra jadi perempuan jangan kaku-kaku amat kali. Gimana kalau suami kamu diembat tuh perempuan?"


"Ya tak apa mungkin memang itu yang terbaik," sahut Shandra sangat di luar dugaan Siska.


"Jangan gila deh! Itu suami kamu mau diembat cewek lain. Tapi kamu malah bersikap biasa aja. Aku gak ngerti dengan kehidupan rumah tangga kalian." Siska sampai geleng-geleng kepala di seberang sana.


"Saya percaya dengan, Mas Farhan dia tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak di luar sana," ucap Shandra menenangkan sahabatnya yang sudah mulai dikuasai emosi.

__ADS_1


"Percaya? Please deh, Shan jangan bersikap sok gak peduli kaya gini. Aku gak mau kamu sakit hati gara-gara tindakan bodoh Farhan. Ini udah menyangkut dengan pernikahan kalian, apa kamu akan diam aja liat Farhan dengan perempuan lain. Dan parahnya perempuan itu mantannya!"


"Dia hanya masa lalu Mas Farhan, Siska. Saya tidak mempermasalahkan hal itu, saya memiliki masa lalu begitu pun dengan dia. Jadi tidak ada salahnya bukan jika mereka menjalin sebuah pertemanan untuk menyambung tali silaturahmi?"


Berulang kali Siska membuang napasnya, karena tak mengerti dengan jalan pikiran sang sahabat yang begitu husnuzon dan mempercayai suaminya. "Terserah kamu lah yang penting aku udah ingeten."


"Ya sudah kalau begitu saya tutup dulu teleponnya. Saya masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," kata Shandra.


"Iya, wassalamualaikum, " salamnya.


"Wa'alaikumussalam," jawab Shandra seraya berjalan kembali menuju meja kerjanya.


Shandra terdiam cukup lama, percakapan via telepon dengan sang sahabat kini berlarian di dalam otaknya. Angannya kembali terbang saat dia dan sang suami menghadiri sebuah acara bersama beberapa hari lalu, dan dalam acara tersebut Sarah dengan tidak tahu malunya mendekati suami dia secara terang-terangan. Rasa cemas sedikit demi sedikit mulai menyusup ke relung hatinya.


"Istigfar, Shandra. Hilangkan pikiran negatif itu dari dalam pikiran kamu," gumamnya yang sudah mulai tak tenang dan tak nyaman.


▪▪▪


Sekitar pukul empat sore Shandra tiba di apartemen. Dia segera membersihkan diri dan dilanjutkan dengan memasak resep masakan yang tadi diajarkan oleh juru masaknya di kafe. Ya, akhir-akhir ini dia begitu giat belajar memasak agar tidak lagi menyusahkan perut suaminya dengan masakan yang tak layak konsumsi.


Hanya masakan khas rumahan yang kali ini Shandra sajikan. Sayur sop dan juga ayam goreng, sangat sederhana dan semoga saja rasanya tak membuat sang suami kecewa. Dengan cekatan Shandra menata hasil karyanya di atas meja makan. Setelah semuanya siap, dia segera menuju ke kamarnya sebentar untuk berganti pakaian. Hanya tinggal menyambut kedatangan suaminya saja.


Dia sangat antusias untuk menyambut kepulangan suaminya, walau masih dalam mode muka datar. Memainkan ponselnya dan bersantai di ruang tengah menjadi pilihan Shandra untuk membunuh kebosanan menunggu sang suami. Dentingan jam berdetak begitu beraturan bahkan waktu salat Magrib dan Isya pun sudah terlewat, namun Farhan belum kunjung menampakan batang hidungnya. Perasaan Shandra dibuat ketar-ketir, percakapan dengan sang sahabat membuat dia semakin dirundung kegelisahan. Ada apa dengan dirinya. Mengapa dia sampai mencemaskan keadaan suaminya?

__ADS_1


Tidak seperti biasanya sang suami pulang larut seperti ini, tanpa ada kabar dan pemberitahuan sebelumnya. Berulang kali dia mengotak-atik handphone-nya, berharap ada pesan ataupun panggilan dari suaminya. Namun, harapan itu pupus begitu saja karena tak ada satu pun notifikasi yang berasal dari sang suami. Ingin menghubungi terlebih dahulu dia ragu, tapi jika tidak melakukannya dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya. Melirik sekilas ke arah meja makan yang sudah tersaji masakan hasil tangannya. Dia tersenyum kecut saat tak ada satu orang pun yang menyentuh masakannya. Ada sedikit rasa kecewa yang diam-diam menyusup dalam hati gadis itu.


▪To be continue▪


__ADS_2