Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
18 | Memperbaiki Hubungan


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Perjuangkan apa yang seharusnya kamu perjuangkan. Tapi mundurlah jika hal itu akan membuatmu kesakitan."


▪▪▪


Setiap ujian dan cobaan yang datang silih bergantian, sebenarnya bukan tanpa sebab ataupun alasan. Itu semua Allah berikan sebagai wujud kasih sayangnya kepada setiap hamba terpilih. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan agar senantiasa beriman serta menyakini kebesaran-Nya. Tak usahlah sibuk berkeluh kesah dan tak menerima takdir-Nya. Cukup jalani dengan kesungguhan hati.


Fatimah menatap sendu putranya yang kembali ambruk di atas bangsal dalam keadaan yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Baru saja dia bernapas lega karena sang putra bisa sehat seperti sedia kala. Tapi nyatanya kini Allah kembali mengujinya dengan keadaan sang anak semata wayang yang kembali singgah di ranjang pesakitan.


Mendapat kabar tak mengenakkan membuat perempuan senja itu berulang kali menitikan air mata lelahnya. Sang suami yang seharusnya setia mendampingi masih berada di luar kota. Pekerjaan yang menuntut Firdaus untuk bersikap profesional. Tak lupa dia pun mengabari menantunya, perihal kondisi Farhan yang kini masih tak sadarkan diri yang disebabkan oleh obat bius. Dokter mengatakan putranya agar segera membuka mata, tapi sampai saat ini putranya itu belum kunjung memberikan tanda-tanda kesadaran.


Dia berharap menantu kakunya itu bersedia datang untuk sekadar berkunjung. Harapannya pupus saat dengan jelas mendengar penolakan yang besannya sampaikan via sambungan telepon beberapa menit yang lalu. Fatimah tak bisa berbuat banyak selain berdoa dan menyerahkan semuanya pada Sang Pencipta.


Jika saja waktu bisa diputar kembali, dia pasti akan memilih untuk berterus terang. Mungkin kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi. Berbohong dengan maksud menjaga hati dan kondisi sang putra justru menjadi boomerang yang begitu menyakitkan. Semanis-manisnya sebuah kebohongan, masih lebih baik kejujuran walau kebenaran itu pahit dan tak mengenakkan.


"Assalamualaikum." Pintu ruang rawat VIP yang ditempati Farhan sedikit terbuka dan menampilkan sosok seorang perempuan dengan balutan baju kurung.


Fatimah menatap tak percaya ke arah sumber suara. Dengan langkah gontai diiringi dentingan air mata dia merengkuh wanita tersebut yang masih mematung kaget di ambang pintu.

__ADS_1


"Mamah jangan menangis lagi. Shandra tidak suka melihat air mata Mamah," tuturnya seraya menghapus cairan bening di sekitaran sudut mata sang ibu mertua.


"Mamah seneng akhirnya kamu bisa datang ke sini, Nak. Farhan kacau setelah kepergian kamu hingga dia kembali berakhir di sini," beritahu Fatimah sedikit tersenggal-senggal karena tangis yang belum kunjung reda. "Maafkan Shandra, Mah," katanya begitu tulus seraya membalas rengkuhan hangat ibu mertuanya.


"Kamu pergi ke sini atas seizin Papah kamu, kan?" tanya Fatimah saat keduanya sudah duduk berdampingan di sofa yang langsung menghadap ke arah Farhan yang masih betah menutup kedua netranya.


Shandra mengangguk. Dia tidak akan pernah bisa pergi tanpa seizin ayahnya, meskipun harus diwarnai dengan percekcokkan yang cukup alot. Tapi tak apa, setidaknya kini dia bisa berada di samping suaminya. Masih teringat dengan jelas perdebatan sengit di antara dirinya dan sang ayah.


"Sudah Papah katakan berulang kali, sampai kapan pun Papah tidak akan mengizinkan kamu untuk kembali menemuinya!" serunya tegas dan jelas. Dia tak mau menerima sanggahan ataupun bantahan dari putri semata wayangnya.


"Shandra hanya ingin menjenguk Mas Farhan saja. Tidak lebih," sela Shandra dengan wajah datar namun penuh tuntutan.


Mendapat kabar buruk dari sang ibu mertua membuat Shandra mau tak mau harus kembali terlibat perdebatan dengan ayahnya. Kali ini dia harus berhasil membujuk sang ayah, dia sudah kepalang khawatir dengan kondisi suaminya.


"Berikan Mas Farhan kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Papah. Untuk selebihnya Shandra serahkan kepada Papah," pinta Shandra dengan penuh kerendahan hatinya.


"Apa kamu mencintainya?" Tiga kata itu membuat kedua manik mata sipit Shandra melebar. Mengapa ayahnya malah mempertanyakan hal itu?


Wanita berusia dua puluh lima tahun itu hanya mampu diam membisu. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Menelan ludahnya dengan kasar lantas menatap netra tajam bak elang sang ayah yang tengah duduk di kursi roda.

__ADS_1


"Kamu enggak bisa jawab, kan? Ya sudah Papah tidak akan memberikan kamu izin untuk pergi," ungkapnya membuat Shandra semakin terpojokkan.


Jauh di dalam lubuk hati terdalam Rahman, dia menyayangkan dan kecewa dengan sang putri yang masih belum menyadari perasaannya sendiri. Dia tidak bodoh untuk mengetahui bahwa sedikit demi sedikit Farhan mulai mengusik kebekuan hati putrinya. Jika saja Shandra bisa peka dengan hati dan perasaannya mungkin dia akan sedikit melunakkan egonya, dan memberikan menantu tak tahu dirinya kesempatan kedua.


Tanpa kata lagi Rahman meninggalkan putrinya yang masih setia terduduk di sofa dengan kepala menunduk dalam. Shandra tak tahu harus menjawab apa. Perasaannya masih abu-abu dan dia tidak mau gampang menyimpulkan tentang apa yang kini tengah dia rasakan.


Selang beberapa menit Shandra masih bertahan dengan posisinya, dia memikirkan apa yang dikatakan oleh sang ayah.


Apakah saya sudah mencintainya? batinnya bergejolak hebat memikirkan hal itu.


"Pergilah Papah memberikan kamu izin," ucap Rahman setelah kembali ke ruang tamu. Melihat wajah sendu sang putri membuat dia merasa tak tega dan memutuskan untuk sedikit menurunkan egonya.


Shandra mendongak pelan dan menatap penuh tanya ke arah ayahnya yang justru memberikan senyuman. "Pergilah, dan sampaikan salam permohonan maaf Papah pada mertua kamu," tuturnya begitu lembut dan terdengar sangat tulus.


"Ayo berangkat sebelum Papah berubah pikiran." Perkataan Rahman membuat Shandra sadar, dengan cepat dia memeluk tubuh ayah tercintanya. "Terima kasih, Pah." Rahman hanya mengangguk saja sebagai respons.


"Perjuangkan apa yang seharusnya kamu perjuangkan. Tapi mundurlah jika hal itu akan membuatmu kesakitan," bisik Rahman di balik punggung putri yang sangat dia sayangi.


"Lantas bagaimana dengan gugatan cerai yang sudah Papah layangkan ke pengadilan?" tanya Shandra saat pelukan di antara mereka terlepas.

__ADS_1


"Gugatan cerai tidak akan Papah cabut sampai semua masalahnya bener-bener clear. Jika Farhan terbukti tidak bersalah maka Papah akan memberikan dia kesempatan. Tapi jika sebaliknya Papah akan melanjutkan perceraian itu, sekalipun kamu tidak menyetujuinya." Shandra hanya mengangguk setuju dengan apa yang dipaparkan oleh ayahnya.


▪To be continue▪


__ADS_2