Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
Part 28 | Farhan Yang Berlebihan


__ADS_3

"Perdebatan dalam sebuah hubungan diibaratkan bumbu pelengkap yang harus dan wajib ada dalam setiap masakan."


▪▪▪


Tak ada yang lebih membahagiakan lagi bagi sepasang suami istri selain hadirnya seorang buah hati. Begitupun yang dialami Farhan dan Shandra yang saat ini tengah dilanda kebahagiaan yang tiada terkira. Kabar kehamilan Shandra begitu disambut suka cita oleh sanak saudara, karena memang janin yang kini hidup dalam rahim Shandra menjadi cucu pertama bagi keluarga besar keduanya.


"Loe butuh sesuatu? Kata orang kalau lagi hamil muda banyak maunya," tutur Farhan yang berjalan di belakang istrinya. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit guna mengecek kondisi sang jabang bayi.


"Tidak," singkatnya yang langsung duduk ambruk di atas sofa. Tubuhnya terasa pegal-pegal padahal sedari tadi dia tak melakukan aktivitas apa pun. Hanya duduk di mobil dan tiduran di bangsal saat pemeriksaan, berjalan pun hanya sebentar dan dalam jarak yang dekat.


"Kok aneh yah? Loe itu hamil tapi gak mual-mual dan banyak maunya. Apa itu normal?" celoteh Farhan yang hanya dibalas dengan lirikan cukup tajam dari istrinya. Enak saja suaminya itu bicara sembarangan dan mengatakan dia seperti itu. Tolong beritahu Shandra di mana letak tidak normalnya?


"Apa kamu tak mengingat penjelasan dokter tadi? Beliau mengatakan bahwa gejala morning sicknes tidak selalu dialami oleh wanita hamil. Ya salah satunya saya," jelas Shandra yang sudah menyandarkan tubuhnya pada badan sofa.


"Ya kan gue gak tau. Ini pengalaman pertama bagi gue yang enggak tau apa-apa soal kehamilan. Gue cuman khawatir dan takut loe kenapa-napa. Udah itu aja, gak lebih," ungkapnya yang membuat perasaan Shandra menghangat seketika.


"Oh iya kalau loe butuh sesuatu, pengen sesuatu bilang aja sama gue. Jangan sungkan," imbuh Farhan dengan senyum lebar. Wanita yang tengah hamil dua bulan itu mengangguk dan sedikit menyunggingkan senyumnya.


"Gue lebih suka loe pake aku-kamu dibanding saya-kamu, berasa lagi ngobrol sama klien," cetus laki-laki berbalut pakaian santai itu.


"Saya lebih nyaman seperti ini, percakapan dua minggu lalu lebih baik kita lupakan saja. Saya tidak mau merubah apa pun dalam diri saya hanya untuk membuat seseorang menyukai saya," ucap Shandra menjelaskan keberatannya.


"Gue cinta sama loe dan gue akan tetap nerima loe apa adanya. Dan loe juga harus terbiasa dengan gue yang emang kaya gini, ceplas-ceplos dan nyantai gak bisa formal kaya loe," sahut Farhan dengan senyum tipis dan lirikan mautnya.


Shandra mengangguk. "Saya lebih menyukai pribadi kamu yang seperti ini. Apa adanya dan tidak dibuat-buat," katanya yang membuat jantung Farhan berdesir hebat.

__ADS_1


Saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangan adalah menjadi pondasi utama tercapainya rumah tangga yang diliputi dengan cinta dan kasih sayang. Karena hal itu membuat sepasang suami istri saling melengkapi dan menutupi kekurangan yang dimiliki. Mungkin jika dilihat dari luar, hubungan Shandra dan Farhan terlihat ganjil dan berbeda dari pasangan kebanyakkan. Tapi begitulah mereka yang tidak bisa disamakan dengan kebanyakkan orang.


"Loe gak keberatan hamil anak gue?" tanya Farhan tiba-tiba. Shandra cukup kaget dan segera menegakkan tubuhnya. "Mengapa kamu bertanya seperti itu?"


Farhan tersenyum tipis dan menjawab, "Gue takut loe terpaksa dan gak menginginkan kehadirannya. Gue gak mau hal itu terjadi dan menimpa darah daging gue, dia berhak untuk bahagia dan mendapatkan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya."


Shandra mengambil alih salah satu tangan Farhan lantas mengangkat kedua sudut bibirnya. "Sudah menjadi kodrat seorang perempuan untuk mengandung dan melahirkan. Kamu tidak usah berpikiran macam-macam, saat saya sudah menyerahkan diri saya sepenuhnya untuk mengabdikan hidup saya kepada kamu. Saya sudah siap untuk menerima segala konsekuensi yang akan saya terima."


Shandra menarik napasnya sejenak dan menatap kedua manik mata sang suami. "Maafkan saya karena terlalu lama mengulur waktu untuk memenuhi kewajiban saya."


Farhan menggeleng pelan dan mendaratkan tangannya tepat di atas ubun-ubun sang istri. "Gue tau loe butuh banyak waktu untuk bisa menerima kehadiran gue dalam hidup loe. Dan gue bersyukur karena loe mau menerima kehadiran calon anak gue. Makasih, Shan."


Shandra membawa tangan kanan suaminya agar berada tepat di atas perut ratanya. "Dia adalah calon anak kita, Mas," tuturnya yang berhasil membuat Farhan senang bercampur haru.


"Masih lama sekitar tujuh bulan lagi dia lahir," balas Shandra yang refleks menyugar surai rambut suaminya.


"Iya, semoga aja Allah berkenan memberikan gue umur panjang sampai bayi kita lahir," gumam Farhan yang sukses membuat tubuh Shandra menegang.


"Mengapa kamu berkata demikian?" Farhan menegakkan tubuhnya agar menghadap wajah datar sang istri. "Umur gak ada yang tau, mungkin besok atau lusa gue bisa aja udah gak ada di dunia," ujarnya dengan senyum termanis yang dia miliki.


"Kamu jangan berkata seperti itu. Saya selalu berdoa semoga kita diberikan umur panjang dan bisa merawat dia bersama-sama," sela Shandra. Entah kenapa perkataan sang suami berhasil mengganggu pikirannya yang kini sudah berkelana ke mana-mana.


"Aamiin." Hanya kata itu yang tercetus dari sela bibir Farhan. Sebisa mungkin dia akan berusaha untuk membahagiakan istri dan juga sang calon buah hati.


"Kayanya rame yah kalau apartemen ini dipenuhin sama suara tangisan bayi, gue gak sabar buat nunggu waktu itu tiba. Gue maunya sih kita punya anak banyak, biar dia gak kesepian kaya kita berdua yang bernasib sebagai anak tunggal," cetus Farhan dengan angan yang sudah berkeliaran ke mana-mana.

__ADS_1


"Jika memang Allah berkenan untuk menitipkan kita banyak keturunan, kenapa tidak? Bukankah banyak anak banyak rezeki?" sahut Shandra di luar dugaan Farhan.


"Makin sayang dah gue sama loe." Shandra dibuat merona olehnya. Farhan tertawa senang melihat wajah datar istrinya yang sudah berubah menjadi merah seperti kepiting rebus. Lucu sekali istri kakunya itu.


"Oh iya rencananya gue bakal beli rumah buat kita. Gak mungkin dong kita terus tinggal di apartemen? Lingkungan apartemen kurang bagus untuk tumbuh kembang anak kita, dia butuh untuk bersosialisasi dengan lingkungan luar supaya gak anti sosial. Setuju gak?" Walaupun buah hatinya itu belum lahir ke dunia, setidaknya dari mulai sekarang dia sudah mulai mempersiapkan segala hal yang akan dibutuhkan oleh anaknya. Termasuk mencarikan tempat tinggal yang nyaman dan layak.


"Saya setuju jika memang itu yang terbaik untuk keluarga kecil kita," balas Shandra. Farhan menepuk-nepuk puncak kepala istri kakunya lembut. Dia sangat amat bersyukur karena Allah telah memilihkan jodoh terbaik untuknya. Walau awalnya terasa begitu berat dan penuh paksaan, tapi seiring dengan berjalannya waktu Farhan merasa sangat amat beruntung.


"Mulai dari sekarang loe gak usah lagi tuh beres-beres pekerjaan rumah. Nanti gue bakal cari ART yang bakal gantiin tugas loe," putus Farhan tak mau menerima bantahan.


"Mengapa harus seperti itu? Saya masih sehat dan bisa beraktivitas seperti biasanya," sela Shandra dengan kedua tangan yang sudah bertengger apik di depan dada, jangan lupakan wajah datarnya yang sudah ditekuk berkali-kali lipat. Suaminya itu memang paling jago merubah suasana hatinya.


Helaan napas berat begitu kentara keluar dari sela bibir Farhan. "Gue gak terima protesan! Loe mah aneh dimanjain suami malah nolak," tukasnya, "dan satu lagi kalau bisa loe tiduran aja di kasur jangan ke mana-mana," sambungnya yang berhasil membuat kedua bola mata Shandra membulat tak percaya.


"Saya ini sedang hamil bukan sakit parah. Kamu terlalu berlebihan," tutur Shandra yang merasa risih dengan perlakuan suaminya yang begitu tak masuk akal.


"Tadi dokter bilang jangan banyak beraktivitas, jadi secara gak langsung dokter itu nyuruh loe rebahan tiap hari," kata Farhan tak mau kalah. Mulut dan otaknya terkadang tak sinkron dalam bertutur kata, hingga kalimat itu keluar tanpa disangka-sangka.


"Tolong kamu garis bawahin, jika perlu catat baik-baik dalam ingatan kamu. Dokter mengatakan jangan terlalu banyak beraktivitas yang berat-berat bukan melarang saya untuk beraktivitas," balas Shandra penuh penekanan dalam setiap katanya.


"Ok loe menang sekarang, tapi awas aja kalau sampe terjadi sesuatu sama anak gue," pasrahnya. Mau bagaimana pun keadaannya seorang pria pasti akan kalah jika berdebat dengan kaum hawa. Mengalah untuk menyenangkan hati sang istri bukanlah hal yang dosa, bahkan itu lebih baik dan berpahala.


Farhan menatap dengan seksama wajah datar istrinya yang begitu nyaman dengan mata terpejam, sepertinya wanita yang sudah bertahta di kerajaan hatinya itu terlalu lelah hingga terlelap di sofa. Padahal mereka baru saja berhenti berdebat beberapa menit lalu. Dengan perlahan karena takut menggangu tidur sang istri, Farhan menggendong istri kakunya ke kamar. Memastikan perempuan yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak-anaknya tidur dengan lelap. Mencuri sedikit kecupan singkat di dahi sang istri, lantas ikut serta tenggelam ke alam mimpi.


▪To Be Continue▪

__ADS_1


__ADS_2