Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
Part 22 | Pendekatan


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Dengan saya membaca buku islami, saya bisa belajar tentang agama yang saya yakini tanpa merasa digurui. Gaya bahasa dan penyampaiannya pun sangat ringan dan mudah dimengerti."


-Shandra-


▪▪▪


Bayangan akan perkataan spontan yang dilayangkan sang suami kemarin selalu berkeliaran kesana-kemari  dalam otaknya. Senyum tipis tanpa sengaja terukir indah kala mengingat hal itu, semburat merah muda pun ikut melengkapi kekonyolan dirinya. Dengan cepat dia mengeleng-gelengkan kepala, berharap semua yang kini bersarang dalam benaknya lenyap tanpa sisa sedikit pun.


"Kenapa tuh kepala loe geleng-geleng kaya gitu," seru Farhan yang baru saja datang dari kamar dan mendapati kelakuan aneh istrinya.


"Tidak apa-apa. Mari kita sarapan," sahut Shandra dengan cepat mengalihkan obrolan. Bisa bahaya jika suaminya yang memilki tingkat kepercayaan diri tinggi itu tahu, kalau tadi dia sempat memikirkan suaminya.


Farhan hanya manggut-manggut saja dan menikmati santap pagi mereka dengan tenang. Masakan istrinya kini jauh lebih baik, dan dia sangat menyukai rasa makanan yang dihidangkan oleh istri kakunya. Hanya dentingan sendok dan piring sebagai backsound yang mengiringi ritual makan mereka.


"Loe udah rapi. Mau ke kafe?" tanya Farhan setelah meminum satu gelas air putih yang sudah disiapkan oleh istrinya.


Shandra menggeleng setelah dia mengelap sudut bibirnya menggunakan tisue. "Saya tidak akan ke mana-mana," jawabnya yang membuat Farhan bernapas lega.


Dia akan melanjutkan aksi pendekatan seperti kemarin. Ya, semoga saja dengan cara seperti ini dia bisa menyelamatkan keluarga kecilnya. Atau mungkin sedikit memperlambat perpisahan yang sewaktu-waktu akan menimpa rumah tangganya. Ya siapa yang tahu dengan takdir hidup manusia yang lebih misteri dan teka-teki. Tugas kita sebagai manusia hanya menjalani.


"Memangnya kenapa?" tanya Shandra seraya menumpuk piring-piring kotor yang akan dia letakkan di atas pencucian.


"Jalan yuk," ajaknya yang berhasil membuat gerakkan tangan Shandra terhenti beberapa saat.

__ADS_1


Menolehkan kepalanya singkat dan berucap, "Ke mana?" Senyum di wajah Farhan merekah indah, mendapat sambutan hangat dari istrinya.


"Ya ke mana aja, belanja atau mungkin taman kota," usulnya lantas menegak kopi yang istrinya sajikan. Bukankah perempuan sangat suka jika diajak berbelanja dan berkeliling-liling pusat perbelanjaan? Mungkin hal itu juga berlaku bagi Shandra.


Shandra kembali menggeleng dengan tangan yang tak henti membersihkan piring-piring kotor. "Saya tidak suka tempat ramai."


Laki-laki yang menggunakan pakaian santai khas rumahan itu mengangguk maklum. "Terus mau loe ke mana?" selorohnya meminta usulan.


Shandra terlihat berpikir sejenak. Sejujurnya dia lebih senang menghabiskan waktu di rumah dengan setumpuk buku sebagai teman. Tapi dia juga bingung untuk menolak ajakan suaminya. Apa yang harus dia katakan?


"Hm, apa jika saya menolak permintaan kamu tidak apa-apa?" cicitnya penuh rasa ragu.


"Ya gak papalah, orang gue cuman ngajak doang. Gak maksa loe kok," sahut Farhan santai dan hal itu sukses membuat Shandra mengembuskan napas lega.


Shandra mengangguk antusias dengan senyum tipis yang terbit indah di wajah datarnya. "Saya sudah lama tidak pergi ke toko buku. Saya mau," kata perempuan itu dengan nada riang.


Farhan menatap senang wajah berbinar istrinya. "Ya udah kalau gitu kita siap-siap dulu, mungkin nanti agak siangan kita berangkatnya."


Lagi-lagi Shandra mengangguk dan memberikan sedikit senyuman termanis yang dia miliki. "Terima kasih, Mas," katanya tanpa sadar.


Sunggingan di bibir Farhan semakin lebar, dan dengan sengaja dia mengelus puncak kepala istrinya. "Gue suka panggilan itu." Wajah putih Shandra berubah menjadi merah seketika, rasa panas tiba-tiba saja menjalar ke seluruh permukaan wajahnya.


"Gue boleh minta sesuatu sama loe?" tanya Farhan dengan jantung berdebar. Anggukan kecil yang istrinya berikan sedikit membuat hatinya lega dan berdesir hangat. "Gue mau tiap hari loe sebut nama gue kaya tadi."


Kening Shandra sedikit mengkerut. "Maksud kamu saya harus memanggil kamu dengan sebutan 'Mas', begitu?" tanyanya memastikan.

__ADS_1


Tanpa ragu Farhan menganggukkan kepalanya. "Loe gak keberatan, 'kan?" Shandra menggeleng lantas berkata, "Baiklah jika itu yang kamu inginkan, saya akan melakukannya."


▪▪▪


Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, tepat sekitar pukul sepuluh pagi mereka memutuskan untuk pergi. "Kenapa kamu malah melamun di sini?" tanyanya pada sang suami yang masih setia berdiri tanpa mau masuk ke dalam mobil.


Farhan meringis mendengar pertanyaan istrinya. "Kalau loe yang nyetir gak papa, 'kan?" selorohnya. Dua kali mengalami kecelakaan beruntun membuat dia sedikit parno jika harus menyetir sendiri. Bayangan akan kecelakaan masih jelas berseliweran dalam memori.


"Tak apa," sahut Shandra seraya berjalan ke arah pintu kemudi, bertukar posisi dengan sang suami.


Mobil berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalanan Ibu kota yang selalu ramai lancar. Setelah sekitar tiga puluh menit berkutat di jalanan akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.


Langkah Shandra terasa sangat ringan menyusuri rak demi rak yang ada di dalam toko buku itu. Matanya begitu lincah mencari bahan bacaan, sampai dia berhenti di jejeran rak buku best seller. Mengambil salah satu judul novel islami yang begitu menarik perhatian.


"Loe suka baca novel juga?" tanya Farhan yang sedari tadi mengintili langkah istrinya. Shandra memutar kepalanya ke belakang dan menjawab, "Iya."


"Gue kira koleksi bacaan loe cuman kamus KBBI doang," cetusnya yang berhasil menghentikan gerakkan tangan Shandra yang ingin mengambil buku lainnya.


"Saya mengoleksi segala jenis buku, apa pun itu akan saya baca. Tapi jika novel saya hanya membaca beberapa saja, seperti ini," katanya seraya menunjuk novel yang tadi sudah dia ambil.


"Kenapa sih pilihan buku loe yang kaku-kaku begitu, dari mulai buku KBBI terus sekarang buku islami, pasti ngebosenin tuh tiap halamannya bahas ayat Al-qur'an, hadits, dan sejenisnya," ungkap Farhan sesuai dengan yang ada dalam pikirannya. Dia tidak terlalu suka membaca, kalau pun dituntut untuk membaca itu sebagai wujud kewajiban dia dalam bekerja. Seperti membaca berkas-berkas dan sejumlah buku-buku bisnis misalnya.


Shandra sedikit menghela napas pendek. "Saya membaca apa yang menurut saya baik dan bermanfaat bagi kehidupan pribadi saya. Dengan saya membaca kamus besar bahasa Indonesia, saya belajar perihal kata demi kata yang saya ucapkan, berbicara dengan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Tapi dengan saya membaca buku islami, saya bisa belajar tentang agama yang saya yakini tanpa merasa digurui. Gaya bahasa dan penyampaiannya pun sangat ringan dan mudah dimengerti," jelasnya dan segera kembali melanjutkan langkah untuk menyusuri setiap penjuru tempat tersebut.


▪To be continue▪

__ADS_1


__ADS_2