
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
"Cemburu adalah tanda cinta. Lantas bagaimana jika hal itu tidak ada? Apakah membuktikan tidak ada cinta di dalam rumah tangga mereka?"
▪▪▪
Shandra begitu cantik dan anggun dengan balutan ghamis berwarna navy yang dipadukan dengan khimar berwarna abu. Tak mau kalah dari sang istri, Farhan pun mengenakan kemeja, jas, dan celana bahan dengan warna senada menyesuaikan dress code yang dikenakan oleh istrinya. Mereka terlihat begitu serasi malam ini.
"Lepaskan tangan saya!" ujar Shandra begitu risih dan tak nyaman saat tangan kanan sang suami menggandeng mesra tangannya.
Farhan berdecak. "Sekali aja loe ikutin permainan gue bisa gak sih?"
Shandra dengan kasar menghempaskan tangan suaminya. "Tidak usah bersandiwara. Saya tidak suka!"
Laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun itu menghela napas kasar. "Jangan banyak protes," katanya seraya kembali menggandeng tangan sang istri.
Shandra memilih untuk mengikuti permintaan suaminya. Bertengkar di tempat umum karena masalah sepele hanya akan membuat dia malu. Dan dia tidak akan melakukan hal sebodoh itu.
"Hai," suara seorang perempuan dengan balutan mini dress berwarna merah menyala mengusik sepasang suami istri itu.
Farhan berdecih tak suka melihat kedatangan mantan pacarnya. "Ngapain loe ke sini?"
"Ya ketemu kamu lah," jawabnya dengan senyum menggoda.
"Singkirin tangan kotor loe di bahu gue!" seru Farhan begitu risih dan terganggu. Dia melirik sekilas istrinya yang menampilkan wajah datar seperti biasa.
'Apa gak ada sedikit pun rasa cemburu di hati loe, Shan?' batinnya.
"Saya ke toilet dulu," ucap Shandra yang sudah merasa tak nyaman melihat seorang perempuan yang sama sekali tidak dia kenal.
Farhan memberikan kode melalui sorot mata, meminta sang istri untuk tetap setia berada di sampingnya. Namun, Shandra sama sekali tak menangkap maksud dari suaminya. Dia melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
"Serius itu istri kamu?" tanyanya dengan nada meledek.
"Bukan urusan loe!" tegas Farhan tak suka urusan pribadinya dikorek-korek orang yang tidak berkepentingan.
Dengan nakal tangan Sarah memegang lengan kokoh Farhan. "Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," pintanya dengan sorot mata sendu penuh pengharapan.
Farhan menepis kasar tangan Sarah yang sudah lancang memegangnya. "Jangan ganggu rumah tangga gue! Apa sebenarnya mau loe, hah?!" sentak Farhan yang sudah kepalang emosi.
"Aku hanya ingin kembali bersama kamu," jawabnya tanpa dosa dan beban sedikit pun.
Laki-laki yang sudah berstatus sebagai suami sah dari Shandra itu tertawa hambar. "Apa gue gak salah denger? Loe yang pergi ninggalin gue terus sekarang dengan entengnya loe bilang mau balik lagi sama gue. Sehat loe?!"
__ADS_1
"Aku sungguh menyesal," sahutnya yang semakin membuat Farhan muak dan meradang.
Farhan memutar bola mata malas. "Loe butuh berapa duit?" tanyanya begitu to the point. Semenjak kemunculan kembali mantan pacarnya ,dia mencurigai bahwa Sarah memiliki kepentingan lain yang belum Farhan ketahui dengan jelas motifnya. Tapi dia yakin bahwa perempuan matre sekelas Sarah pasti tidak jauh-jauh dari materi dan kekayaan.
Sarah menggeleng kuat. "Aku tidak menginginkan uang kamu," balasnya.
Farhan berdecak kesal. "Terus mau loe apaan?"
"Aku hanya mau kamu," jawabnya begitu yakin dan mantap.
"Ayo, Sayang lebih baik kita pulang sekarang," ajak Farhan pada sang istri yang baru saja kembali. Shandra diam mematung di tempatnya.
Sayang? Apakah dia tidak salah mendengar?
"Buruan, Shandra," bisik Farhan tepat di telinga sang istri yang tak kunjung melangkahkan kaki.
Shandra terkesiap dan dengan segera mengikuti langkah sang suami, yang menyeret kasar pergelangan tangannya.
"Lepaskan, sakit. Kamu melukai saya!" seru Shandra saat keduanya sudah berada di parkiran.
Dengan refleks Farhan melepaskan cengkeramannya. "Sorry," ungkapnya.
Shandra tak mengindahkan permintaan maaf dari laki-laki yang berstatus sebagai suaminya, dia lebih memilih masuk ke dalam mobil.
Sarah? Sepertinya nama itu tidak asing di telinga Shandra. Otaknya dengan cepat mengingat percakapan beberapa tahun lalu dengan Siska, sahabatnya. Dia masih mengingat dengan jelas nama itu, perempuan yang menjadi rebutan Irfan dan suaminya. Ada sedikit rasa sesak dalam dada kala mengetahui kenyataan itu.
"Gue sama dia putus sekitar dua tahun lalu, karena dia ketahuan selingkuh sama Irfan," lanjutnya.
Farhan yang tengah fokus menjelaskan dan menyetir melirik ke arah istrinya yang terlihat acuh tak acuh. "Loe marah?"
Mendengar pertanyaan itu sontak membuat Shandra memusatkan perhatiannya pada sang suami. Keduanya terdiam sesaat, saat kedua bola mata mereka bertemu pandang. "Tidak. Untuk apa saya marah?"
Farhan tersenyum kecut mendengar jawaban sang istri, seperti ada batu besar yang menghujam tepat di hatinya. 'Loe terlalu percaya diri, Bung! Gak mungkin istri kaku loe cemburu.'
"Udah lupain aja," sahutnya sebisa mungkin bersikap santai.
Setelah obrolan singkat itu, tidak ada lagi perbincangan di antara keduanya. Mereka saling sibuk menyelami pikiran dan perasaan masing-masing.
▪▪▪
Deringan di ponsel Shandra menyadarkan sepasang suami istri itu dari kegiatan masing-masing. Farhan yang asik dengan layar datar yang menempel di dinding, dan Shandra yang khusyuk membaca buku tebalnya yang membuat sang suami berdecak tak suka. Kegiatan di malam hari yang tak pernah absen sepasang suami istri lakukan.
Mamah Mertua
__ADS_1
Calling
"Assalamualaikum, Nak," salamnya dengan suara lembut.
"Wa'alaikumussalam, Mah," sahut Shandra menjawab salam dari ibu mertuanya.
"Apa kamu lagi sama Farhan? Mamah hubungi nomornya gak aktif," ujar Fatimah.
"Ada, Mah sedang menonton televisi," sahut Shandra seraya melihat suaminya.
"Kebiasaan tuh anak kalau lagi nonton tv gak bisa diganggu," gerutu Fatimah merasa tak suka dengan kebiasaan buruk sang putra yang selalu mematikan ponselnya.
Shandra tak menyahut, dia bingung harus berkomentar seperti apa. Diam adalah pilihan terbaik.
"Coba kamu loadspeaker, Sayang," pintanya pada sang menantu.
Tanpa banyak bicara perempuan itu menuruti titah dari ibu mertuanya. "Sudah, Mah."
"Farhan matiin dulu tv-nya Mamah mau ngomong serius," titah Fatimah saat mendengar dengan jelas suara televisi yang tengah putranya tonton.
Farhan mengembuskan napas kasar. Sinetron yang sedang dia saksikan sedang menampilkan scen menegangkan, dan dengan mudahnya sang ibu menyuruh dia mematikan. "Kalau mau ngomong, ya tinggal ngomong aja atuh, Mah. Tanggung ini lagi seru," sanggahnya yang masih fokus menatap layar datar 24 inc di depan matanya.
"Matiin sekarang!" tegas Fatimah.
"Udah, Mah," dustanya pada sang ibu. Dia hanya mengecilkan volumenya. Shandra menatap tajam sang suami yang begitu santai membohongi ibunya sendiri. Namun, Farhan terlihat tak peduli.
"Gimana kabar kalian berdua?" tanyanya mulai berbasi-basi.
Farhan berdecak kesal mendengar penuturan sang ibu yang selalu bertele-tele. "Alhamdulillah sehat, Mah," jawab Shandra.
"To the point bisa gak, Mah?" sambung Farhan yang kembali mendapat tatapan maut dari sang istri.
Fatimah mengembuskan napas panjang. "Gimana, apakah sudah ada kemajuan?"
Shandra dan Farhan mengerutkan kening, bingung. "Kalau nanya yang jelas, Mah. Jangan main kode-kode gak jelas," dengusnya.
Rasanya Shandra ingin menyumpal mulut sang suami yang berkata tidak sopan kepada orang tuanya.
Fatimah menghela napas panjang sebelum berkata, "Apakah Shandra sudah hamil?"
Sepasang suami istri itu kompak tersedak ludahnya sendiri, bahkan hingga terbatuk-batuk. Mereka kaget bukan main mendengar pertanyaan horor dari Fatimah. Keduanya diam dan saling menatap bingung. Apa yang harus mereka katakan?
▪To be continue▪
__ADS_1