Bismillah Aku Memilihmu

Bismillah Aku Memilihmu
Part 25 | Ungkapan Hati


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Jika cinta belum kunjung hadir di dalam hatimu, setidaknya berikan aku kesempatan walau hanya untuk sekadar meluluhkan kebekuan hatimu."


-Farhan-


▪▪▪


Hari demi hari datang silih berganti, rumah tangga yang Farhan dan Shandra jalani pun sedikit demi sedikit mulai menunjukkan perubahan yang berarti. Keduanya sudah mulai semakin menerima kehadiran masing-masing. Farhan juga mulai menunjukkan perhatian dan rasa simpatinya, membuat Shandra sedikit merasa lebih nyaman berada di samping suaminya. Tak jauh berbeda Shandra pun sudah tidak begitu dingin dan bersikap acuh tak acuh pada Farhan. Sebuah kemajuan yang cukup signifikan.


"Shan hari ini loe jangan ke mana-mana, Mamah mau ke sini," ucap Farhan sebelum dia berangkat ke kantor.


Shandra mengangguk paham, dan mengambil tangan suaminya untuk disalami. "Hati-hati." Farhan mengecup sekilas kening istrinya lantas segera pergi setelah mengucapkan salam terlebih dahulu.


Perkataan Shandra yang terkesan sangat sederhana, justru terkadang berhasil membuat jantungnya berulah di dalam sana. Ya, seperti pagi ini Shandra yang hanya mengucapkan dua kata itu, tapi sudah berhasil membuat suasana hati Farhan indah dan berbunga-bunga. Sepertinya dia ketulah dengan ucapannya sendiri yang mengatakan tidak akan mencintai istri kakunya. Tapi nyatanya sekarang dia seperti dimabuk kepayang oleh istrinya yang masih saja malu-malu kucing.


Memikirkan istrinya senyum Farhan sedikit meredup. Dia teringat dengan perbincangannya semalam bersama sang istri, pada saat tengah duduk santai dan mengobrol ringan di ruang tengah.


"Kalau gue cinta sama loe gimana?" tanya Farhan dengan debar jantung yang sudah menggila.


Shandra sedikit menegang dengan raut wajah tak percaya. "Becanda kamu tidak lucu," sahutnya dengan nada suara sedikit gugup. Bukankah beberapa waktu lalu suaminya mengatakan tidak akan mengungkit soal cinta dan perasaan? Kenapa sekarang lain.

__ADS_1


"Gue serius, Shan," tegas laki-laki itu penuh keyakinan seraya memegang kedua tangan istrinya yang sudah berkeringat dingin.


Shandra melepaskan genggaman lembut suaminya. "Hari sudah semakin larut, saya pun sudah mengantuk," ucapnya yang dengan segera melangkah lebar menuju kamar.


Tittt... tittt... tittt...


Suara klakson mobil yang berada di belakangnya membangunkan Farhan dari lamunan panjang. Matanya melirik ke arah lampu yang kini sudah berubah warna menjadi hijau,  ternyata dia terlalu asik bergelut dengan lamunan.


▪▪▪


Fatimah sudah sampai di kediaman putra dan menantunya, menunggu di ruang tengah karena sang menantu yang sedang membuatkan minuman. Dia bersyukur pilihannya untuk menjodohkan sang putra ternyata adalah keputusan yang tepat, Shandra begitu menghormatinya dan pandai menyenangkan hatinya walau hanya dengan hal-hal kecil saja.


"Silakan, Mah maaf hanya ada minuman saja," ucap Shandra setelah meletakkan satu gelas teh manis hangat di meja.


"Mamah seneng akhirnya kalian tidak jadi berpisah," katanya sembari mengelus pelan punggung tangan sang menantu.


Shandra tersenyum tipis dan berkata, "Shandra ikut senang jika Mamah senang." Fatimah semakin menyayangi menantu satu-satunya itu, dia menangkup wajah yang selalu lempeng dan datar tersebut. "Kamu juga harus bahagia, Sayang."


Perempuan berusia dua puluh lima tahun lebih itu hanya mengangguk dengan senyum tipis. "Ada apa Mamah berkunjung ke sini?" tanyanya tanpa sungkan dan ragu. Dia memang sudah sangat dekat dengan Fatimah.


"Mamah hanya ingin menemui menantu kesayangan Mamah," sahut wanita paruh baya itu setelah meminum satu tegak tehnya, "sekalian Mamah juga mau liat calon cucu Mamah. Siapa tau aja dia udah ada di sini," lanjutnya seraya mengelus lembut perut rata sang menantu.

__ADS_1


Shandra meneguk ludahnya dengan susah payah, bahkan dia menahan napas selama tangan sang mertua masih berada di atas perut ratanya. Perasaan dia sungguh serba salah, tapi perasaan tak enak hati dan rasa bersalah lah yang sangat mendominasi. Terlebih lagi pada saat mertuanya melantunkan doa penuh harap agar dia segera mengandung. Rasanya kedua mata Shandra sudah memanas, dia sudah tidak kuat lagi. "Maafkan Shandra, Mah," lirihnya dengan satu tetes air mata.


Fatimah yang memang sedang menunduk dan masih setia mengelus perut sang menantu mendongak dan menatap bingung wajah menantunya yang sudah mulai berurai air mata. "Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya seraya menghapus kedua sudut mata sang menantu, "apa Mamah menyakiti kamu, Nak?" Shandra menggeleng lemah dan memeluk erat tubuh mertuanya.


Fatimah membalas pelukan menantunya dan mengelus lembut punggung sang menantu penuh kasih sayang. "Jangan nangis, Mamah gak menuntut kamu untuk segera memberikan cucu kok. Maafkan Mamah karena sudah membuat kamu tersinggung dan melukai hati kamu. Mamah sayang sama kamu, Mamah gak akan menuntut banyak kalau kamu dan Farhan memutuskan untuk menunda momongan," tuturnya lembut dan tulus. Sekarang dia paham mengapa menantu kakunya itu menangis. Tak ada niatan sedikit pun untuk mencampuri urusan rumah tangga putra dan menantunya. Dia tidak menuntut banyak jika memang Shandra dan Farhan masih ingin menikmati kebersamaan. Namun ternyata tindakan sudah melukai hati sang menantu, rasa bersalah itu mulai baik ke permukaan. Terlebih lagi saat melihat linangan air mata di kedua sudut mata Shandra.


▪▪▪


Farhan yang baru saja pulang dari masjid setelah melaksanakan salat Isya berjamaah, menatap heran istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar, tidak seperti biasanya. Tapi dia tidak ambil pusing dan dengan segera masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.


"Tidur yang nyenyak, gue sayang loe, Shan." Perkataan Farhan yang tepat di samping telinga Shandra membuat tubuh wanita itu menegang hebat. Dia belum terlelap, dia hanya ingin menghindari suaminya, karena jujur saja perasaannya sedang tak tentu arah, dan sedikit menjaga jarak dengan sang suami sepertinya menjadi pilihan terbaik.


"Gue tau loe gak akan pernah bisa bales perasaan gue, tapi gak papa. Gue ikhlas, mungkin ini balesan buat gue karena dulu suka mainin hati banyak cewek, dan sekarang gue yang ngerasain sakitnya sendiri. Makasih, Shan karena loe udah buat gue sadar dan bisa menghargai perempuan," tutur Farhan yang membuat hati Shandra terasa tercabik-cabik sakit. Dalam seharian ini dia sudah melukai hati mertua dan suaminya. Kenapa dia begitu tega menyakiti mereka yang sudah melimpahkan kasih sayang tulus padanya?


"Maafkan saya, Mas. Saya tidak bisa memberikan kamu kebahagian, kehadiran saya hanya membuat hidup kamu diliputi kesedihan," ungkap Shandra dengan posisi yang masih membelakangi suaminya. Dia tidak sanggup untuk melihat rona kecewa di wajah suaminya.


Farhan terkejut, karena ternyata istrinya belum tidur dan tambah terkejut lagi pada saat dia melihat wajah sendu dengan cairan bening di kedua sudut mata sang istri. Dia sudah melukai hati istrinya. "Maaf atas kelancangan hati gue yang udah berani mencintai loe. Maafin gue, Shan."


Shandra menggeleng lemah dan berbalik arah hingga menghadap suaminya lantas menatap manik mata suaminya seraya berkata, "Saya yang seharusnya minta maaf karena sampai saat ini saya belum bisa membalas perasan kamu. Maafkan saya."


Tanpa izin Farhan membawa tubuh sang istri agar berada dalam dekapan hangatnya. Mengarahkan kepala sang istri agar nyaman bersandar pada dada bidangnya, dengan sengaja Farhan menumpukkan dagunya di atas kepala sang istri. "Gue gak akan maksa loe buat bales perasaan gue, tapi gue yang akan berusaha buat luluhin hati loe supaya bisa nerima dan mencintai gue sepenuh hati loe," katanya yang dengan lembut mengelus puncak kepala sang istri yang masih terbalut khimar.

__ADS_1


▪To be continue▪


__ADS_2