
" Koko sudah pulang..?" Tanya Yuni
" Tolong bawakan tasku ke atas Yun. " Kata David sambil menyerahkan tas kerja dan jasnya. Dia lelah ingin istirahat dulu di lantai bawah.
Segelas jeruk dingin mungkin bisa menyegarkan tenggorokannya yang dahaga.
" Mbak.... Mbak Wah bisa bikinkan aku jeruk peras dingin?" David berdiri di pintu dapur dan melongokkan kepalanya ke dalam.
" Bisa Ko. tambahi gula to..?" Tanya Wahmi balik.
"iya. yang agak manisan yo mbak. Aku butuh tambahan tenaga." Jawab David sambil melobggarkan dasinya, menuju sofa depan tv dan membaringkan tubuhnya di sana.
" kelidatan lelah sekali.." Wahmi tak berani membangunkan tuan muda nya yang terlelap.
.
.
Sementara di lantai atas
Yuni meletakkan tas kerja David di ruang kerja. Bau masku_lien dari jas milik David yang bercampur dengan keringat menggoda hidung Yuni.
" Baunya harum banget... huh.. kayak peluk koko saja rasanya." Dengan lancang Yuni menciumi jas milik Davis, memeluknya seakan itu tubuh sang majikan.
" Ehemmmm...."
" lagi ngopo kowe Yun..?" Suara itu....
Yuni terkaget dan reflek menoleh ke belakang.
Grace sudah berada di sebelahnya.
Dia tergagap, bingung mau bilang apa untuk ngeles. Sudah ketangkap basah dan tidak mungkin mengelak.
" Ah.. ini Nena... Mas Koko... eh maksud saya Koko David nyuruh saya menaruh tas dan jas kerjanya."
Grace mendekat dan mengambil alih jas milik David.
" Tidak boleh begitu, tidak baik anak lajang mencium aroma yang keluar dari tubuh pria yang bukan suaminya."
Hhaa....
Yuni melonggo bodoh. Wajahnya merah karena malu.
" Takut ketagihan.." Kata Grace sambil menjitak kepala Yuni.
" Aduh. kok dijitak Nena..."
" Ben wae. Bocah nakal.
Untung ora tak gebug nggo paha ayam kowe. jangan diulangi. nggak sopan tau..!" Kata Grace sengaja lebih meninggikan nada suaranya.
" Maaf Nena... Saya tergoda, habis baunya enak.."
__ADS_1
" Dasar bocah gemblung.."
"Emange koko dimana, kok nyuruh kamu naik. bukan dia sendiri ke atas ?" Tanya Grace.
" Tidak tahu Nn. tadi katanya capek banget. Mungkin di bawah sama mbak Wah. Biasanya juga gitu, kalau tidak ngapeli mbak Wah yo ngapeli pak Min. mbahas tanduran." kata Yuni
Seluk beluk dan kebiasaan penghuni rumah ini sudah dihafal oleh Yuni. Termasuk kebiasaan David jika pulang kerja lebih awal.
" Yo wis. yuk bantu aku noto kembang ninggon atap. Ada mawar baru datang tadi siang. b elum sempat tak toto." ajak Grace.
" Monggo Nena.. Saya dibelakang Nena." Kata Yuni sopan, mengikuti Grace menaiki tangga satu persatu menuju lantai tiga. Mereka melewati ruang Gim yang biasa digunakan David untuk fitnes membentuk otot.
Fantasi Yuni berkelana. membayangkan otot-otot milik David yang terbentuk indah. bukan besar seperti peragawan, tapi kekar dan indah. Dadanya membentuk, perutnya juga rata. Piyeeee ngono kae.
Yuni pernah ngintip saat koko renang di belakang rumah. Bukan ngintip, tepatnya nonton, menyaksikan keindahan alam semesta. Ciptaan Alloh yang sungguh tiada tara.
Huuuu, uwu uwu.....
Yuni meneriaki dirinya sendiri yang tidak tahu malu. Bibirnya ngeces membayangkan dada bidang itu memeluknya. jasnya saja sudah harum begitu, apalagi wujud aslinya.
🙈🙈🙈
" Yun.. Kamu ganti semua polibeg itu dengan pot di sebelah kono kae." Grace menunjuk tumpukan pot dan kantong berisi pupuk dan tanah sebagai media tanam.
" nggih Nna.."
" Ka mu boleh pakai sarung tangan kae lo nek wedi kotor kukumu."
" Koyoe Nena lupa, dan perlu diingatkan dengan perjumpaan kita di bus waktu itu ha ha ha.." kelakar Yuni
" Iyo lah, Aku ngerti kowe ki cah ndes_o, tapi siapa tahu takut cacing biar dianggep nggaya, saiki kan mahasiswa di univ.Jakarta.." Goda Grace balik.
" Ealah... Jadi mahasiswa kan sementara Nyonya cantikky, jika tidak atas bantuan Nena juda apalah aku ini.."
( seperti juga mamak Autor, jika tanpa pembaca, apalah aku ini...?)
" Hanya kimpul anyep yang tidak punya rasa apa-apa Nena..." Jawab Yuni mulai melow.
Yuni bocah ceria yang suka cekikikan sendiri macam kuntilanak itu selalu merasa sedih jika mengingat siapa dirinya, dari mana asalnya, dan bagaimana ekonomi keluarganya.
Kehidupan enak yang dinikmatinya sekarang, belum pernah dicicipi oleh kedua adiknya maupun kedua orang tuanya.
kadang itu membuat semangatnya semakin membara untuk menabung dan giat belajar supaya bisa meraih sukses dan bebas financial... he he gaya pakai istilah orang elit...
Yuni cekikikan sendiri saat dia monolog dengan dirinya sendiri.
" Lah ngono, bunga juga diajak ngguyu, cerita, juga dinyanyikan lagu gembira Yun. biar ruh tanaman itu juga merasa gembira.." Kata Grace di belakang Yuni tiba-tiba.
Tentu saja yuni terkejut, dia kan masih monolog. Berbicara sendiri sambil nengingat kedua adiknya.
" Sabar dik.. mbak bakal ngajak kalian kesininjika waktunya tiba. mbak akan kerja yang lebih baik dan meraih sukses. Hidup kalian tidak akan susah lagi. juga ibuk bapak kita." Gumam Yuni sambil mengisi pot dengan tanah.
Semester pertama kuliah di kampus elit sebagai mahasiswa beasiswa tidaklah mudah.
__ADS_1
Tampang dekilnya belum banyak berubah, masih medok khas Weleri, anak kampung yang rumahnya pinggir sawah dan jika malam bukan suata musik yang mengganggu, tetapi suara katak dan jangkrik.
Teman-teman kuliahnya lebih banta dari kalangan Elit, anak pengusaha bahkan pejabat. Ada juga sih beberapa anak beasiswa seperti dirinya. yaitu Mustaqim dan Nur Aeni. kedua orang itu juga berasal dari jawa tengah yaitu Demak dan Temanggung.
Mereka berteman untuk saling menguatkan, meskipun beda jurusan. Mustaqim memilih Tehnik sipil, sementara Nur memilih desain grafis.
Mereka bertemu hanya saat istirahat dan pulang kampus. Sama-sama ambil jam siang supaya bisa kerja dipagi hari. Bedanya mereka tidak difasilitasi tempat tinggal oleh bos mereka, jad harus rela tinggal di asrama yang apa adanya.
" dijak ngomong kok malah nglamun. glamunke opo to..?" Sentil Grace di telinga Yuni.
--- iki mbah Bos kok seneng banget nyentil telingaku to...--- Batin Yuni.
" Maaf Nena tadi bicara apa. bukan ngelamun cuma lagi ingat Nur temanku Nen.. dia cantik kaya kelopak mawar ini. tubuhnya juga harum."
" Huss. kowe ki kok seneng banget mwncium bau tubuh orang lain to. emange orak jijik po piye....?" Tanya Grace.
Serasa ada yang aneh dibalik kecerdasan bocah iki
" Yo wis. aku turun dulu. ojo lali disiram ne wis rampung nanem yo. cukup basah wae, ojo sampai blawahan berlebihan aire. karena bisa busuk batang dan mati..."
" Siap Nenek Bos... akan dilaksanakan.." jawab Yuni.
Segerombulan pohon mawar berbagai warna memenuhi sudut atap. nenek sangat menyayangi tanaman ini. Yuni harus hati-hati jika tidak ingin punya masalah.
Satu jam lebih Yuni menyelesaikan tugasnya, cuci tangan lalu bermaksud untuk masuk menyusul sang nenek bos.
Ketika melewati ruang Gim matanya menangkap bayangan yang tidah asing sedang sit-up terbaring di lantai beralas karpet tebal itu. Baju sport yang menunjukkan bentuk tubuh empunya membuat nafas Yuni sesak seketika. lidahnya kelu tak bisa berucap, matanya berhenti di satu titik. Menara milik koko tegang di dalam celana ketatnya.
" Tokek... tokek... tokek.."
Suara tokek dari gudang belakang menyadarkan mereka berdua. David pun sadar jika afa mata yang memandanginya dikala dia melakukan gerakan sit-up. Juni segera berlari meninggalkan David yang menyadari kehadirannya.
Entah mengapa pipi mereka berdua merona merah. Padahal juga bukan sekali mereka bertemu pandang dengan keadaan begini.
🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Kabuuurrrrr... pikir Yuni
To Be Continue
Sampai jumpa next chapter ya love....
Cah cilik kok mesum
Yun yun.. istighfar yo biar ga zina mata...
Yang suka cerita Yuni dan Koko boleh tulis komentarnya ya..
Ingat untuknkasih like untuk Mamak Author tambah semangat ya...
love you semua readerku tersayang....
❤❤❤❤
__ADS_1