
" Hai Yun.." David menepuk pundak Yuni yang tengah asyik menyiangi bunga mawar yang ada di lantai tiga. Sebenarnya David hendak fitnes, tapi melihat ada Yuni di Balkon dia tertarik untuk mendekat dan mengusili gadis kecil itu.
" Eh Koko. Ada apa koh..?" Tanya Yuni sambil menoleh. Dia tidak menyadari kehadiran bosnya itu sehingga saat David menepuk punggungnya Yuni sedikit terperanjat.
" Kamu Di cari Nenna." Kata David.
Nyonya besarnya sudah pulang dari liburan Dan di hari Ahad kaya gini biasanya Nena paling aktif untuk berolah raga dan mengurus tanaman kesayangannya.
" Iya kah..? Nenna sudah bangun..?" Tanya Yuni.
"Iya. Sedang menunggumu di ruang makan." Kata David.
"Baik. saya turun sekarang."Yuni menyimpan skoop dan peralatan berkebun lainnya. Dia mencuci tangannya dengan air kran yang berada di sudut taman itu.
Yuni bergegas meninggalkan balkon dan.menuju ruang makan yang ada di lantai satu.
Benar saja. Di sana sudah duduk nyonya besar dan tuan besarnya.
" Nenna memanggil saya..?" Tanya Yuni setelah sampai di dekat tempat duduk sang Nyonya.
" Iya. David yang memberitahumu ya.." Yuni mengangguk dan mengusap keningnya yang sudah dibasahi keringat.
" Nenna butuh sesuatu? atau Yuni harus melakukan apa..?" tanya Yuni.
" Kamu sudah selesaikan kerjaan di rooftop?"
" Bulum kelar semua sih Nenn.. Tadi keburu dipanggil Nenna. ?" kata Yuni.
" Ora popo. Dilanjut nanti. Kita akan jalan-jalan di Monas sekalian lihat keramaian hari Ahad. kamu panggil Koko sana. Bilang kita mau sarapan luar. Nenna yang minta, gitu." kata Grace.
"Baik..."
" kamu sekalian ganti baju yang pantas. Pakaian olah raga mamsudku Yun..." kata Grace lagi dengan nada sedikit teriak, karena Yuni sudah menjauh.
Yuni memberi tanda OK dengan tangannya sambil tersenyum. Kemudian bayangannya hilang di tangga naik ke lantai dua.
" Aku panggil koko dulu baru nanti ganti baju. " Kata Yuni dalam hati.
" E e eh.. Koko. Kok malah sudah siap..?" Yuni kaget saat hendak naik ke lantai tiga malah dia melihat David keluar kamar dengan baju training lengkap dengan topi dan kaca mata. Sungguh menawan. Membuat jantung Yuni sempat terhenti sejenak.
__ADS_1
" Kenapa kau..? Belum pernah lihat calon suami yang begini sempurna ya..?" Kata David dengan kepercayaan diri yang akut.
" Memang audah takdirku tumbuh begini a empurna. kau tidak pwrlu melonggo gitu. Kamu yakinkan dirimu saja untuk setuju menikah denganku. Pasti nanti anak-anak kita akan tampan sepertiku." Kata David sambil mengusap kepala Yuni. Yuni terpegun seperti robot. tidak mwnjawab apapun perkataan David.
" Sudah. Aku juga menunggumu di bawah. jangan pakai lama !!!" Kata David sambil berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah.
Yuni tersadar dari keterpesonaannya. lalu bergegas menuju kamarnya untuk berganti baju. Sebelumnya Yuni sempatkan untuk menggosok gigi dan cuci muka dengan sabun.
Mengoles mukanya dengan tabir surya dan bedak padat tipis, sedikit lipbalm untuk bibirnya biar tidak terlalu kering. Tak lupa Yuni juga mengambil topi dan kaca mata hitam. Takut terlalu silau di sana. Maklum sekarang pohon sangat berkurang sehingga matahari langsung menyorot ke arah mata kita.
**********
Grace juga memanggil Wahmi untuk mengumpulkan para pelayan. Hari ini ingin memberi sedikit kebahagiaan pada para pelayannya untyk menghirup udara segar di Sudirman. kemudian sarapan di restoran yang akan.membuat mereka merasa dihargai.
Begitulah Grace memperlakukan setiap orang yang bekerja untuknya. Walaupaun mereka kalangan orang biasa, namun penghargaan dan kasih sayang mereka dapatkan di rumah besar keluarga Wang.
Para Maid sudah berkumpul di depan garasi. mereka mengenakan training masing-masing lengkap dengan sepetu kets, siap untuk memeras keringat.
Saat Yuni turun semua orang sudah menunggunya.
Para Maid masuk mobil APV yang dikemudikan oleh pak Jay. sementara Tuan dan nyonya besar naik mobil yang dikendarai sendiri oleh David. Mobil keluaran terbaru dari Land Rover. Mobil mewah warna putih yang berbody gagah..
Yuni menoleh kebelakang dan mengulas senyum tulus dan malu kepada kedua tuannya.
Tuan besar hanya menyunggingkan senyum tipis.
" Koh. kamu apain itu Yuni..? kok mukanya jadi merah begitu..?" Tanya Tuan besar.
" Sebenarnya sih mau saya lamar Opa. Tapi dia masih mengelak terus." Kata David dengan nada datar.
Kedua orang tua itu tersenyum. Memandang Yuni dari kaca Spion. Tidak ada ekpresi terkejut atau marah. Senyum itu juga terlihat tulus tersungging di bibir mereka. Yuni tidak bisa mengaerikan s3mua itu. Dia hanya terlintas pikiran buruk tentang kemurkaan Tuan dan Nyonya besarnya, tentang omongan David.
Gawat ini Koko. Nekad banget membicarakan hal omong kosong ini di depan tetuanya. Batin Yuni.
Bukan Yuni mengelak. Tapi memang Yuni tidak mau bermimpi terlalu tinggi. Takut remuk berkeping-keping kalau jatuh pastinya.
.
.
__ADS_1
David mengemudikan mobil mewahnya, Sementara mereka terdiam larut dalam pikiran masing-masing.
Jalanan ibukota cukup lengang, hanya pejalan kaki yang banyak lalu lalang mengisi waktu pagi mereka.
Meraka sampai di Taman Monas ketika matahari sudah mulai panas menyengat kulit.
Penumpang mobil yang dikemudikan pak Jay juga mulai keluar satu persatu.
" Sudah sana kalian bebas mengerjakan olah raga yanh kalian sukai." Kata Grace kepada para asistennya.
" Baik Nenna..." Wahmi mewakili para asisten menjawab sang Nyonya besar.
Nyonya besarnya berjalan ke arah rimbunnya tanaman bunga yang ada di taman itu. Yuni mengikutinya dari belakang.
" Nanti kumpul lagi di sini sebelum dzohor." Kata Opa.
mereka serempak menganggukkan kapala. " Siip Opa.."
Yuni tidak bergabung dengan mereka. Sebagai asisten pribadi dia punya kewajiban untuk mengurus segala keperluan Nyonyanya. Termasuk kebutuhan untuk berolah raga. Jangan sampai nanti sia tidak ada ketika Nenna membutuhkan.
Sementara David bergabung dengan Opa dan Pak Jayus, mereka berjalan menyusuri jalanan setapak diantara rerumputan hijau.
Wajah-wajah ceria pengunjung Monas terlihat jelas di muka mereka. Bagi Yuni ini kali pertama dia mengunjungi Monas. Monumen bersejarah yang menjadi peninggalan para pejuang RI.
" Kamu mau naik k e atas menara ga Yun..?" Tsnys sang nyonya.
" Tidak ah Nenn. Saya sih takut ketinggian. rasanya ppusiing jika berada di tempat yang tinggi. Nenna mau naik kah..?" Yuni balik bertanya.
" Tidaaakk. Aku sudah pernah naik ke sana waktu muda dulu." Kata Grace.
"Benarkah..? Pasti seru Nenna?" Kata Yuni sambil berjingkrak. Awas kalau sampai ketahuan David dia begitu bahagia tidak jadi naik Lift, bisa-bisa seluruh pengunjung Monas tahu kelemahanku.
kebahagiaan yang sederhana
namun sarat akan makna.
..."*"*"*"*"*"*"*"*"*...
...To Be Continue...
__ADS_1
...****************...