
kumpulan wanita dan para pria pengurus kediaman Wang berkumpul di sebuah restoran penyedia ma kanan khas China. Menu utama mereka sup iga dan buntut sapi. Jadi dijamin Halal. Para pengurus kediaman Wang yang semuanya Muslim tidak perlu khawatir. Bos mereka sudah mengantisipasi dari awal.
Grace memesankan sup iga untuk semua orang, ada nasi tim ayan, ada ayam pop dan udang crispi, ada juga pudding kelapa muda untuk pemanisnya.
Bahkan Nenna juga memesan susu domba dicampur rempah dan Japanese chese cake untuk menu pembuka. Sarapan dan makan siang yang berat.
"Semoga pulang ke rumah tidak langsung mengantuk ya Nenna.." Kata Wahmi. Merasa kalau menu yang mereka santap cukup berat.
Sebenarnya di rumah mereka juga biasa makan menu mewah begini, cuma ala Wahmi. karena memang Bos mereka tidak pernah membedakan makanan untuk bos maupun untuk pekerja. Hanya tempat dan waktu makan yang mereka sendiri memisahkan diri, karena merasa tidak enak.jika makan bareng, juga jumlah mereka yang banyak kaya gini. jika hari-hari di rumah makan bareng bos, bisa dibayangkan betapa penuhnya meja ma kan. Nanti ma lah bosnya yang ngalah da n tidak jadi makan.
" Ngantuk di dalam mobil tidak apa-apa to.." Kata pak Jay.
" Jangan... nanti pak Jay nabrak..!" celetuk Lastri. Dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Takut karena sudah keceplosan.
" ish... hati-hati ngomongnya Tri.." Kata Muna.
" Kok bisa kecelposan gitu." kata mbak Wah.
"Sudah.. kalian langsung pulang saja. mau istirahat dulu tidak apa-apa. mulai kerja habis lohor saja. Saya sama Opa ada kepetlyan lain" Kata nyonya besa.
" Baiklah... " Mereka serempak. Seperti biasa.!!!!
David dan Yuni tidak banyak bicara, dari tadi asyik dengan android masing-masing dan hanya kadang-kadang mereka terlihat curi-curi pandang.
Pipi Yuni memerah jika ketahuan sedang mengamati Bos mudanya. Secara tempat duduk mereka strategis banget. Jadi sangat leluasa untuk Yuni maupun David jika mau saling pandang.
Lastri mencubit paha Yuni, dan itu membuat Yuni memekik.
" Ada apa Yun..?" tanya Opah.
Yuni balas menginjak kaki Lastri.
" Tidak Opah. ini ada semut menggigit kaki saya. " kata Yuni berkelah.
lastri hanya meringis, karena sepatu Yuni masih menggilas kakinya.
.
.
David mengantar kakak neneknya ke salah satu showroom yang ada di Bekasi Raya. Mumpung akhir pekan, dia ingin melihat langsung perkembangan Showroom yang dulu pernah hampir mati ini. Biasanya hanya manager gang ke kantor pusat untuk berikan laporan.
__ADS_1
Penting untuk pimpinan lakukan kujungan tak terencana seperti ini, jadi staff harus persiapkan diri sewaktu-waktu. Beruntung mereka memiliki para staff yang loyal. Hampir tidak ada makar dari para karyawan maupun staff, karena pemberian upah dan gaji diatas rata-rata umr. Bagi keluarga Wang pekerja mereka anggap patner. Mereka juga berperan penting dalam perputaran ekonomi perusahaan. Jadi itulah alasan Wang Gruop memiliki beribu karyawan maupun staff yang sangat loyal. Bahkan dari mereka berhenti bekwrja karena pensiun atau meninggal.
" Silahkan Tuan, Tuan muda, dan Nyonya. Senang bisa berkesempatan didatangi bos besar kami." kata sang Manager.
"Iya. Berikan laporan pada David. biar dia yang croscek." kata Tuan Besar Wang.
" Siap Tuan. Mari ikut saya Tuan muda.." Manager itu masuk ke ruang khusus staff.
" Kira-kira mobil yang cocok untuk orang muda. Tapi tidak usah yang besar. cokup untuk dibawa kuliah." Tanya Tuan besar Wang pada salah satu Sales di shoroom tersebut.
" Kamu mau beli untuk siapa?" Tanya Grace.
" Kemarin kamu mengeluhkan Si Yuni. kasihan harus gonta ganti angkutan umum kalau tidak ada Jayus. " Jawab Mr.Wang.
" Oh...tak kiro nukokke sopo."
" Calon putu mantumu iku to Yang".
( calon cucu menantumu Yang)
" Iyo."
.
.
" Capek juga kegiatan pagi ini di Monas. meskipun hanya jalan santai memutari taman." katanya kepada meain cuci dihadapannya.
Dia memasukkan baju-baju kotornya di mesin cuci yang dikhususkan untuk pelayan rumah ini. pikirannya melayang ke kampung halaman. Hampir setahun dia belum pernah pulang. Paling video call dengan ibunya atau dengan kedua adiknya.
Rasanya kangenz kampung halaman. Suasana desa yang nyaman dan damai.
Di sini hidupnya serba mewah. Nenek Grace menjadikannya asisten pribadi dengan gaji yang berlipat, masih free biaya kuliah lagi, bahkan bosnya tersebut menganggapnya cucu sendiri. Sungguh tiada terkira nikmat yang diberikan padanya.
Semua berkat doa kedua orang tuanya yang ingin melihatnya jadi orang sukses.
Yuni menarik nafas dalam-dalam. Aku harus belajar sungguh-sungguh, jangan sampai kedua orang tuanya kecewa , juga orang-orang yang sudah membantunya.
Yuni mengangkat cucianya dan menjemurnya di halaman belakang. Di taman belakang tampak pak Min sedang merapikan tanaman pagar dan Muna yang sedang membantu menyapu setelahnya.
__ADS_1
Mereka orang-orang yang bernasib sama dengannya. Datang dari kampung lalu ditolong orang baik dari keluarga Wang ini. Mereka juga berasal dari kecamatan yang sama dengan Yuni.
Namun nasib Yuni lebih mujur karena berkesempatan untuk mwneruskan kuliah. Mendapat beasiswa juga dari rekomendasi yang diberikan keluarga Wang. Mereka memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi.
Yuni menyelesaikan jemurannya. Lalu dia mendekati kedua pekerja yang tengah asyik merapukanntaman tersebut.
" Mba k Muna, pak Min.. ada yang bisa saya bantu enggak..?" Tanya Yuni.
" Sudah mau selesai kok Yun. Kamu habis nyuci ya..?" Tanya Muna, Gadis manis yang masih jomblo dan suka baperan. Yuni mengangguk sambil tersenyum.
" Mau duduk bareng kita? kita ngadem di bawah pohon jambu itu yuk, pak Min sekalian, kita ngobrol santai. Toh bu Bos tadi bilang hari ini bolehbistirahat.." ajak Munasih.
" Ok. eh sebentar aku ambil minum dulu. pak Min mau hangat, panas atau dingin.?" Yuni menawarkan.
" Boleh minta kopi manis kah..?" tanya pak Min.
" Boleh pak. gula bera pa cendok psk, saya buatkan. kamu mau apa Mbak Muns. Sekalian aku bawakan."
" kopi satu, gula satu setengah. makasih ya Yun..." kata pak Min.
" aku idem pak Min saja lah." kata Muna.
" siip lah. dengan senang hati." jawab Yuni.
Yuni berlari kecil menuju dapur untyk membuat pesanan dari kedua rekannya.
Tak berapa lama Yuni muncul dengan pesanan kopi
untuk kedua rekannya.
" Perkopian datang loh.. minum dulu. Ini mbak Wah memotong semangka dan ini disuruh kita makan." kata Yuni.
" Alhamdulillah. " pak Min menyeruput kopinya, sementara Muna memakan semangka labih dahulu.
Mereka berbincang kesana kemari tentang masa lalu di kampung halamab. bikin Yuni merasa lebih galau. Ingin segera pulang jika boleh.
Pak Min sendiri merantau, anak istrinya tinggal di kampun, pinginnya bisa pergi haji. beruntungnya lagi beberapa tahun lalu David menghadiahinya tiket haji. Kini tinggal nunggu panggilan untuk keberanggkatannya. Pinginnya sih bisa berangkat bareng sang istri. Tapi apa daya, tabungannya belum cukup jika harus membiayai perjalanannya?"
...************...
...Bersambung lagi...
__ADS_1
...\=_\=_\=_\=_\=_\=_\=_\=_\=_\=_\=_\=_\=_\=_\=_\=_...