BOS BUCIN_KU

BOS BUCIN_KU
David Yan Posesif


__ADS_3

" Kamu sudah dayang Koh. Sendirian..?" tanya Yuni saat David memasuki ruanganya.


" iya. sendiri. kamu maunya aku datang sama siapa..?" tanya David. Yunita memanyunkan bibirnya.


" Ku kira Nenna ikut kemari." kata Yunita.


" Tadi kan sudah to. Nenna dari sini kan..? Mosok kon nginap kan kasihan. Jantung Nenna baru ada masalah.." Kata David sedikit menegang.


" Iya-iya maaf. kan aku cuma...."


Yunita tidak meneruskan kata-katanya, karena David sudah kadung memotong pembicaraannya.


" Lastri kau boleh cari makan. Di bawah ada pak Jay. Bisa minta antar dia." kata David.


" Iya koh... Yuni. aku turun dulu ya.." kata lastri.


Yunita mengangguk. Setelah itu Lastri pun keluar untuk membeli makanan sekalian sholat isya di mushola bawah.


" Kok kamu malah ngarepin Nenna yang datang. kamu tidak suka aku ke sini ya..?" Tanya David dengan nada mengancam.


Gadis bodoh ini tidak tahu kalau aku sangat menghawatirkannya..? Dasar...!!!


Awas ya kamu. Aku harus beri kamu pelajaran dulu baru pikiran kamu bisa kubuka ya.. " Nona Silly" Gerutu David dalam hati.


David mendekati tempat tidur Yuni. Dia meletakkan tangan kanannya di sisi ranjang sebelah kanan dan tangan kirinya di sisi yang lain. Yuni terkunci dan tidak bisa bergerak. David semakin mendekatkan wajahnya ke muka Yuni.


Yuni memejamkan matanya dan melengos menghindari tatapan mata David yang begitu dekat. Tangannya mencengkeram seprei sementara tangan satunya terkekang oleh selang infus, makanya tidak bisa berbuat banyak.


" Bu-kan be-gi-tu Koh... ma-af..." kata Yuni terbata-bata.


Yuni berusaha mendorong tubuh kekar milik David dengan tangannya yang tidak terkena selang infus.


Namun badan David yang kekar sangat berat dan tidak bisa dia singkirkan. David menempelkan dahinya di atas dahi Yunita.


" Kamu harus belajar mengerti maksud dari perhatian orang lain.!!! Cepatlah sembuh karena aku tidak suka kamu sakit. aku jadi tidak tega untuk mengganggumu." Bisik David.

__ADS_1


" Cup..."


Yuni terperangah. Rona wajahnya langsung berubah. tidak hanya kata-kata David yang membiusnya. tetapi kecupan di pipi itu meninggalkan rasa yang luar biasa.


David bertingkah seperti tidak ada apa-apa. Setelah mengecup Yuni dia malah asyik membalas chat yang masuk ke HPnya.


" Koh...." Panggil Yuni.


David mengangkat kepalanya. "Oh iya.. ini aku bawakan HPmu..."


David mengeluarkan HP milik Yuni dari dalam tasnya. lalu dia mendekati Yuni dan menyerahkan benda pipih itu padanya. " Batreinya lemah. lebih baik kamu carg dulu." David membantu Yuni untuk memassng HP pada Cargernya.


" Koh.. aku sudah baikan. aku mau pulang." kata Yuni.


"Benarkah..?" David menempelkan punggung tangannya di kening Yuni.


" lumayan. Sudah tidak demam lagi. Tapi perutmu piye..?" tanya David. Dia membolak balikkan telapak tangannya di dahi Yunita.


" Sudah enakan. Sungguh." jawabnya berusaha meyakinkan Bosny. Dia berusaha menjauhkan kepalanya dari jangkauan David. Lalu David melepaskan tangannya dari kepala Yuni. Karena dia tahu Yuni merasa tidak nyaman saat bersentuhan lama-lama dengannya.


" Yo wis. kita tunggu instruksi dari dokter, jika beliau ijinkan maka kita akan pulang." jawab David.


Bosnya sudah keterlaluan memperlakukannya. Yunita tidak punya ruang untuk gerak. Bernafaspun mesti dihitung.


" Koko.. Mengapa perhatian sekali pada Yuni.." tanya Yunita. Dia melipat selimut yang dari tadi terhampar di ranjangnya.


" Karena kamu gadis ceroboh. Jika bukan aku lalu siapa yang akan memperhatikanmu.." kata David.


Memangnya kamu tidak tahu jika sedikit saja kau terluka akan sangat menyakiti hatiku.. kata hati David.


" Yuni merasa sangat terharu Koh. Bos dari perusahaan besar, ganteng, masih muda, pinter dan kaya raya begitu memperhatikan dan mencemaskan aku... Aku harusnya sangat bersyukur kan...?" Tanya Yuni. Dia sengaja memuji bos mudanya tersebut. Pingin dia lihat muka salah tingkah David. telinganya akan bergerak sendiri jika hatinya merasa resah. Mengapa dia seresah itu..? batin Yunita saat cuping telinga milik David bergerak naik turun.


" Kau memang harus bersyukur gadis Bodoh. Tidak ada yang bisa mengalahkanku. apalagi dalam urusan memberi perhatian padamu. Dan harus kamu catat. Tidak boleh ada orang lain yang lebih perhatian kepadamu selain aku. kau mengerti !!!" David mengintimidasi


" Koh.. itu Kecoa terbang !!!" Yuni mengalihkan . Tanpa dikomando David langsung melompat ke atas ranjangnya.

__ADS_1


" O O... tapi kecoa bohongan..!! yang bilang aku gadis bodoh tidak tahunya takut pada kecoa.." Yunita mencibirkan bibirnya.


" Awasnya kamu.."David mengacaukan rambut Yunita.


Yunita terkikik... Senang rasanya bisa ngerjain sang bos tampan. Rambutnya yang di tata berdiri mirip pagar pembatas tugu monas.


" Koh.. kok tidak lembur dikantor? biasanya sibuk lembur terus..?"


??? apa..?? kau tanya apa bocah bodoh.? harusnya kau bersyukur ada bos ganteng sepertiku rela mengorbankan pekerjaan yang bernilai milyaran rupiah demi untuk menemani gadis bodoh sepertimu." kata David.


" kamu malah mbulet sok-sokan tidak tahu." kali ini emosi David tampah lebih dan mengerikan. maksud Yunita hanya bercanda. tak tahunya sang bos memberi respon seluar biasa ini. Yuni bergidig ngeri.


Bagaimana jika dia pukul aku..? pikir Yunita.


Tatapan mata David menajam. Ada kemarahan di sana juga sirat kekecewaan saat gadisnya tidak juga bisa mengerti tentang perasaannya.


" Jangan kau biarkan aku bosan dan melabuhkan hatiku pada yang lain. harusnya kamu lebih peka dan biarkan hatimu menerima dan mengakui jika kamu senang dengan segala perhatian yang aku berikan." suasana berubah horor. saat suara roda bangker dari luar mengisi kesepian. suara gaduh di ujung lorong.


" kamu harus iklaskan mommy pergi.." suara seorang pria. Rupanya dua remaja itu sedang menangisi kepergian ibunya. ya.. disini adalah pertaruhan hidup dan mati. keluar dari rumah sakit ini hanya ada dua pilihan yaitu pulang sehat atau pulang mati.


Sang kakak marangkul pundak gadis kecil tersebut.


Seandainya aku yang mati... siapa yang bakal menangisiku...? pikir Yunita.


" Ada yang meninggal..." kata David.


" iya... sepertinya mereka hanya tinggal berdua. tidsk ada kerabat lain yang menemani." kata sarah.


"kasihan. yuk.. kita dekati mereka. siapa tahu butuh bantuan. " kata david.


David membantu Yunita turun dari ranjang. dia mbantu Yunita berjalan dan dia yang mendorong tiang penyangga infus milik Yuni.


Mereka berjalan menyusiru lorong yang ada di depan ruang rawatnya..


" Kami turut berduka atas meninggalnya ibu anda." kata David.

__ADS_1


"terima kasih pak.." jawab sang gadis


" apakah kalian hanya berdua..? dimana orang tua laki-lakimu..?" tanya David.


__ADS_2