
Setiap hari berada satu mobil dengan gadis culun dan tengil seperti Yuni tidak membuat Da vid bisan maupun risih. Bahkan Lily yang sudah lama mengenalnya jadi heran, dia mengatakan kalau David ada kelainan. Saking jengkelnya Lily karena sikap David yang makin dekat dan nempel pada Yuni.
David bersikap natural dan biasa, karena memang tidak ada yang mengada-ada. Kedekatannya dengan Yuni juga kehendak alam. Yuni tinggal di rumahnya, magang di kantornya, apa yang salah..?
Tentu tidak ada ..
Yuni gadis yang baik. perhatian dan lucu meskipun kadang timbul oon dan tengilnya, tapi itu malah jadi hiburan tersendiri bagi David. Lama-lama mereka saling terikat. Yuni akan merasa kurang jika tidak ada David, begitupun David, tidak melihat hidung Yuni sehari saja pasti kelimpungan. Kebiasaan menjahili Yuni sudah menjadi candunya.
*******
"David. proyek di Kalimantan ada sedikit kendala dengan pemerintah Daerah. Mereka minta tambahan grafity untuk menaikkan status bangunan kita. jika tidak mereka akan mencabut ijin pendirian bangunan di lahan tersebut." kata Lily.
Tentu masalah seperti ini Lily harus tahu, secara dialah yang akan mengeluarkan uang dari kas perusahaan, jika ada pengeluaran berbentuk apapaun pasti atas sepengetahuan dan seijin Lily.
" Bagaimana bisa? bukankah pertemuan minggu lalu sudah mencapai kesepakatan terutama membahas tentang grafity itu kan? kenapa sekarang berubah..?" Tanya David dengan muka yang menegang.
"Tidak tahu Dav. Mereka mengancam membatalkan ijin. Bahkan mereka juga sudah siapkan perusahaan tandingan jika kita tidak mau menyepakati keputusan mereka." Kata Lily.
David meradang memikirkan keputusan itu.
" Jadi aku harus turun tangan sendiri...?"
" Mereka tidak mau menanggapi perwakilan kita dan meminta untuk bertemu langsung dengan pimpinan. Berarti kamu kan, tidak mungkin Bos besar yang berangkat..!" kata Lily.
" Ok kamu persiapkan keberangkatanku. kapan mereka menghendaki berremu denganku?"
" Tolong kabari aku jika sudah siap. Suruh Nino untuk handle semua selama ketidakhadiranku." kata David.
Nino sekretarisnya sedang keluar mengantar berkas persetujuan kerja sama dengan perusahaan Xillo. Mereka sedang mengerjakan bangunan untuk apartemen mewah dan memakai jasa Wang Group untuk desain interior sekaligus forniturenya.
****
Yuni bergabung dengan Devisi Desain atas rekomendasi pemilik perusahaan. Wajah nyinyir pegawai yang tidak suka kehadirannya tampak jelas di wajah mereka. Beberapa pegawai yang lain tampak wellcome dan sebagian lagi cuek.
" Masuk dengan rekomendasi bos ya tentu beda ya Yuni..?" kata Lena, desainer senior di devisi mereka.
"iya lah. Secara bos yang kasih kedudukan, tak perlu merangkak dari bawah. langsung di posisi desainer muda." Azia menambah statement Lena.
wajah lain hanya menoleh cuek dan kembali bekerja, sesuai tugas masing-masing.
" Mohon binbingan dari para senior. Saya hanya anak magang yang masih sangat timur. Pasti banyak kesalahan dan kekurangan, tolong bimbing saya.." kata Yuni merendah.
" Bukankah kamu asisten nyonya bos. kenapa sekarang turun ke devisi desain..?" Tanya Sandra, juga pegawai lama yang duduk dekat dengan meja Yuni.
__ADS_1
"Iya.. bu bos sebentar lagi pensiun, jadi aku disuruh masuk ke devisi desain saja. Supaya banyak belajar langsung dengan kalian para senior. Menurut bu bos, kalian desainer hebat yang menelurkan karya-karya hebat."
" Kamu beruntung Yuni.."
" Semoga bu bos tidak cepat bosan dan membuangmu ke tempat asal.." Kata-kata sarkasme keluar dari mulut Azia yang memang terkenal pedas.
" Siapa tahu bu Bos bermaksud menjodohkan Yuni dengan Cucu pangeran dari kerajaan Wang.." Lena membuat asumsinya sendiri....
" kalian bicara apa....?"
Yuni menyusun kertas-kertas di mejanya. mulai menggoreskan pensil ke kertas putih di depannya.
Tiba-tiba suasana berubah hening...
" Yuni.. kamu ikut saya.."
Suara sang bos muda menggetarkan hati jomblo mereka.
" Duh... dapat pulung apa ini devisi desain didatangi pak bos ganteng...?" Bisik lena.
"Kira-kira dia dengar pembicaran kita nggak ya..?" bisik Azia.
Yuni mendonggakkan kepalanya, tidak tahu kenapa dia merasa David hari ini kurang bersahabat. mukanya memancarkan aura peperangan. Belum pernah Yuni melihat yang beginian. Bening tapi horor.
" Iya, pak David....?"
" Kita pulang sekarang." kata-kata itu singkat dan tajam
" Baik. Saya ijin untuk membereskan meja saya sebentar." tumben ngajak bali segasik iki, pikir Yuni.
******
" Ada yang buat hati Koko kesal ya, ...?" Tanya Yuni
" Sok tahu.."
" mmhh kok jawabe ketus banget." bisik Yuni sambil memanyunkan bibirnya.
Tiba-tiba David menepi, dia lepaskan Sabuk pengamannya, lalu jarak di antara mereka terhapus tanpa Yuni sadari. Bibir David sudah menempel di bibirnya, hanya menempel anteng tanpa pergerakan apapun. Hangat tspi terkesan memaksa. Satu, dua, tiga, empat ...... tujuh detik bibir mereka saling menempel lalu ditarik oleh masing-masing. David terengah-engah membuang nafasnya dan menggantikan dengan nafas baru untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak.
" Aku tidak akan minta maaf Yuni. Karena ini juga ciuman pertamaku, jangan bilang aku mencuri ciuman pertamamu. " Kata David.
" Opo ono wong njaluk nggapuro kok koyo ngono carane nggomong. .. " Kati hati Yuni.
__ADS_1
Tapi dia masih sibuk menentramkan hatinya yang berdebar seoerti suara sumwoover di mobil truk para pengangkut cabai antar privinsi. Mulut kok sepedas cabai setan. njeplak tanpa permisi. Yuni tak mungkin memilih mau memberikan ciuman pada orang yang belum tentu akan jadi jodohnya.
" harusnya koko minta persetujuanku. Karena aku ingin memberikan ciumanku pada kekasihku yang harusnya jadi suamiku." Kata Yuni lirih.
David mendekat lagi ke arah Yuni. "Kalau begitu, mulai detik ini aku adalah kekasihmu, kita akan menikah." Sahut David.
Dia mencium lembut bibir Yuni, kali ini labih lembut dan lama, terasa manis dan David meminta lebih, di kulumnya bibir bawah Yuni, disesap hingga Yuni tidak berdaya kecuali membuka mulutnya. belum ada balasan sama sekali dari Yuni. Dia sangat amatir dalam hal ini. bahkan nonton adegan begini di sinetron atau film saja masih merasa tabu. Tapi pria tampan di depannya ini membuatnya melakukan adegan *****-***** tanpa minta persetujuannya.
David melepaskan bibirnya, mengelap bibir Yuni dengan ibu jari kanannya
" Kita pergi ke suatu tempat..." Kata David mengemudikan mobilnya lagi. Langit Jakarta masih cerah dengan udara sore yang lumayan segar. lalu lintas belum begitu padat, memang belum waktunya jam pulang kerja sih.
" kok diam terus. Terima kasih ya. .."
" untuk apa..?
" untuk ciuman pertamamu, untuk tidak mencakar wajahku, untuk memberikan ciuman keduamu. Dan juga untuk menemaniku." kata David sambil menowel pipi Yuni yang bulat manis kaya kue putu.
" Saya tidak bisa menghindar, makanya ciuman itu terjadi. aku begitu kaget sampai-sampai tidak tahu harus berbuat apa."
" tapi kamu menikmatinya.." sanggah David.
" Koko ini bagaimana sih. masa kaya gitu di bilang menikmati. nafasku saja seperti mau berhanti.."
" Ya sudah, lain kali aku beri kamu aba-aba dulu."
" Tidak ada lain kali Koh, kecuali koko jadikan aku mencintaiku dan istri."
"Tadi kan aku sudah bilang kan, kalau mulai beberapa detik yang lalu kita jadian..?"
" Tapi aku belum setuju, aku tidak mau sembarangan jadi kekasih dari orang yang belum mencintaiku." Kata Yuni tak kalah garang.
Ini masalah harga diri, tidak ada korelasinya dengan status kepegawaian atau kekayaan. ini masslah human eror. jika David bisa sembarangan menciumnya, bukan tidak mungkin dia juga melakukannya dengan perempuan lain. lagian Yuni juga tidak percaya jika tadi itu ciuman pertamanya.
Aku bahkan sudah jatuh cinta saat pertama melihatmu.... pikir David.
Mereka asyik dengan pikiran masing-masing. bermonolog dengan diri sendiri. Sampai akhirnya mereka sampai di tujuan David.
...******** ...
...kadang cinta tidak perlu ditunjukkan dengan kata-kata. Cukup dengan segala perhatian itu sudah membuktikan cinta...
...David Wang...
__ADS_1
to be continue