
Part kedua ini langsung bertemu pria tampan berwajah oriental.
Tanpa Yuni ketahui Pria tampan itulah yang nanti akan jadi masa depannya.
visual koko David
Dilan Wang sebagai David Wang
🤍🤍🤍🤍
Setelah selesai sholat subuh, tadi sebelum wudlu mandi dulu di toilet yang disediakan. badannya lengket, meskipun bus yang dia tumpangi ber AC.
"Wìs seger ki badanku. Aku tak coba nelpon Ika meneh. mungkin saiki wis tangi ya.." Yuni kembali mengutak atik Hapenya. menutul nomor milik konconya. Berdering terus tapi tidak ada jawaban.
Dia tidak patah semangat, di tutulnya lagi nomor sahabatnya. Namun yang terjadi malah panggilannya dialihkan.
" Ngopo to bocah iki. mosok ga gelem nompo panggilanku." Yuni bergumam
" Kemarin pas aku hubungi bilang ok. aku disuruh nyusul ke kosannya. Malah bilang kalau mau ngelamarke kerja di tempatnya. la iki kok malah ga biso dihubungi ki piye to." Yuni bingung, karena panggilannya tidak diangkat oleh sahabatnya.
"Tak WA yo centang siji tok. iki terus aku kudu ringendi..?" Pikir Yuni.
Yuni tampak gelisah menunggu jawaban panggilan dari temannya. Firasat buruk tumbuh di dalam hatinya. jangan-jangan. Ah ndak boleh berfikir buruk.
Tapi...
Bagaimana jika temannya membohonginya?
__ADS_1
Apa yang harus dia lakukan...?
Dia sama sekali asing dengan suasana ibu kota.
Dulu pernah ke Monas dan Ancol saat Study Tour waktu SMP. Tapi itu kan bareng rombongan. dan tujuannya jelas.
lha ini, hanya berbekal nekat dia sampai di Jakarta sendiri.
Hatinya galau setengah dewa.
🤍🤍🤍🤍
Di samping kirinya tampak sepasang lanjut usia yang juga tampak sedang menunggu jemputannya.
Mereka duduk bersila menikmati udara pagi terminal yang kering dan berdebu.
Tiba-tiba ada panggilan masuk dari ibunya.
" Mbak sudah sampai mana..?" tanya suara di seberang.
"Sudah sampai terminal bu. Nunggu dijemput sama Ika". jawab Yuni.
" Oh ... yo syukur nek wis tekan. la Ika belum jamput to mbak..? jauh dari terminal to rumahe Ika.?" tanya sang Ibu dari seberang.
" Ndak tahu buk. kenapa sampai jam segini belum juga jemput. " jawab Yuni.
Yuni melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 09.15 pagi.
" Mungkin Ika sedang sibuk mbak. Tapi mbak tetap harus waspada. Tidak boleh sembarang bicara dengan orang baru ya mbak." pesan ibunya terdengar khawatir.
__ADS_1
" Nggih bu. Mbak akan nunggu sampai zuhur. jika belum datang juga mbak ijin untuk cari kosan sendiro ya buk. Doakam mbak ya buk.." Kata Yuni
" Pokoknya mbak ngabari terus ya.."
"Nggih buk.."
"Yo wis. Ibuk tutup dulu telponnya ya mbak." Kata Ibunya di seberang.
Dari kejauhan tampak pemuda tampam menghampiri tampat duduknya. Pemuda itu berjalan sambil mengoperasikan gawainya.
" Nenek di moshola terminal kan.. baiklah aku sudah berada di depan mushola." kata pemuda itu.
"Nenek, Kakek... maaf telat jemput. Dafid ada urusan tadi sekalian jalan ke sini. Pasti sudah lama nunggu ya cintaku yang cantik ini.." kata pemuda itu.
Kulit putih bersih, mata sipit khas keturunan Thionghoa, badan tegap tinggi, rambut tertata rapi serta kemeja putih dibalut jas hitam masih dilapisi jubah warna coklat.
"Masih keturunan dewa mungkin ya. kok gantengnya ruarrr biasaaah kaya gitu " batin Yuni.
pembicaraan antara cucu dan mbahnya terdengar kelinga Yuni, karena memang pisisi mereka cukup dekat.
" Nena ngapain sih ngotot pulang pakai bus umum. Harusnya biarkan dijemput sama mr. Samu. Nena tidak harus capai-capai begini. Bau orang susah tahu ga Nena..". Celoteh sang cucu.
"Kamu ora ngerti rasane Le.."
"Nena sama Opa mu ini pingin nostalgia. Debelum dipanggil Tuhan. Pingin mengulang rasa saat kami susah dulu."
"Pertama kali naik bus ke kota. Dengan menggendong bayi yang masih merah." Jawab sang nenek.
" Yo wis. Yuk wis awan. nanti kamu telat. kamu anter Nena pulang dulu berangkat ke kantor ya.
__ADS_1
" Eh mbak. Boleh ga jagain bawaannya kakek nenekku dulu. Saya antar mereka ke mobil dulu". kata pemuda tampan itu kepadanya.
" Haaa"....