
"Kita mampir ke mall dulu ya Yuni..?" kata David memecah kebisuan diantara nereka.
" Boleh. koko mau cari apa...?" Tanya Yuni balik.
" kulihat tadi kamu tidak benar-benar makan. apakah kamu tidak suka ikan ya Yuni?" tanya David tidak memperdulikan pertanyaan Yuni.
"aku makan banyak lo koh tadi. Sampai habis tulang-tulangnya aku sesepin." kata Yuni.
"Aku perhatikan tingkahmu tadi Yuni.. gak usah sok kuat kamu. Aku tak mau kamu kelaparan dan mengadu pada nena." kata David
Mereka menuju food court, memesan dua mie udon dan ayam asam manis..
"Koko. Kalian sering ya mengadakan acara beginian..?". tanya Yuni.
" Tidak juga. ini kebetulan pas kami bertiga bisa. karena dari geng alumni ini kami bertiga yang paling susah meluangkan waktu." Jawab David.
Tangannya memegang chopstik dan mengaduk mie milik Yuni. mengipasnya supaya cepat dingin dan bisa dimakan.
" kamu mau tambah sambal atau sous..?"
" Sambal ijo saja, saya bisa sendiri koh... " kata Yuni mengambil cendok sambel dan menuang dua cendok ke dalam mangkoknya.
" Kalau makan ga belepotan.." David mengambil tisue dan mengelap sudut bibir Yuni.
Muka Yuni berubah merah. orang lain yang melihat mereka pasti berfikir kalau mereka adalah sepasang kekasih.
Sikap David yang begitu perhatian membuat baper hati Yuni.
***
----Tak mungkin kalau David menyukai anak kampung ingusan itu--- pikir Lily.
Jelas dia lebih baik, secara mereka satu ras, yaitu cina keturunan. Kekayaan orang tua Lily sudah terpampang nyata, bahkan papinya termasuk pemegang saham terbesar di perusahaan yang dibawahi kakeknya David.
Secara harfiah, bentuk tubuh dan muka Lily jauh lebih cantik. Kedudukan dan karier sudah lebih mapan. meskipun dia masih kerja di perusahaan kakek David, tapi beberapa tahun lagi dia bakal menjabat jabatan penting di perusahaan papinya. karena lily adalah pewaris tunggal.
Apakah David sudah buta..? Apa yang lebih menarik dari diri bocah kuprut itu dari pada dirinya..?
Ataukah memang David begitu menyukai gadis polos..? gadis lugu dan ndeso maca m Yuni itu..?
Batin Lily terus berkecamuk. selama ini dia begitu sabar mengabdi di perusahaa n milik kakeknya David hanya untuk menantikan hati dan cinta David jatuh padanya.
Teman SMA yang begitu friendly dan ganteng. Bahkan ketika cowok dan teman lain membulinya, hanya David yang setia membela dan menemaninya. Apakah semua itu tidak berarti..?
Sepulang dari taman kota Lily langsung pulang. Moodnya langsung turun mendapatkan sikap David yang cuek padanya dan lebih memperhatikan adisten neneknya.
Lily langsung masuk ke kamarnya, menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, menumpahkan kegalauan hatinya di atas kasur empuknya. keberadaan papinya di ruang tamu tak diindahkannya.
__ADS_1
" hari minggu yang menyebalkan.." gumamnya.
***
" Kalian pulang telat. bukankah kamu bilang paling telat duhur..? ini sudah hampir magrib. Kamu bawa kemana itu anak orang?" kata Grace saat mereka menapakkan kaki di lantai ruang tamu.
" Mbak Wah.. tolong bawaan kita dirapikan. ada di bagasi semua. ada ikan yang masih mentah juga. terserah mau dimasak apa." kata David pada asisten rumah tangganya.
"Maaf cantikkkk.." David melancarkan rayuannya, Neneknya selalu luluh jika sudah dipeluk dan dicium dari belakang kaya begini.
" kalian kemana saja...? kalian pacaran ya? kencannn gitu..?" cecar sang nenek
" e eh... kencan?. tentu tidak ya Yuni..? kita cuma jalan-jalan. mumpung hari libur. kebutuhan Dav banyak yang habis Nena sayang.. jadi sekalian ajak Yuni lalan. kasihan kan, setial hari hanya bertemu dengan nena dan komunitasnya. " jawab David.
David mendekati neneknya dan melancarkan aksinya.
" Cucu nena tak mungkin meninggalkan nena demi wanita lain. percayaalah....hanya dirimu paling mengerti, perasaanku padamu..percayalah.." David malah nyanyi.
Lagunya bude Titi ya.. penyanyi kesukaan ibuk di kampung.--- pikir Yuni.
Yuni pamit untuk ke kamarnya. lalu dia mandi dan mengganti bajunya dengan kaos oblong putih dan celana di bawah lutut. wangi tubuhnya menguarkan aroma dari sabun yang dipakainya.
Dia keluar kamar bersamaan dengan David yang mau turun ke lantai bawah. kakek dan neneknya sudah menunggu untuk makan malam.
" Kalian kompak banget... baju saja samaan kayak gitu..?" Sang Opa berkomemtar.
Sementara Yuni tidak memahami maksud sang Bos besar, malah langsung menuju ke dapur bertemu rekan seprofesinya. "Asisten rumah tangga." Dia merasa lebih nyaman makan di dapur bersama mbak Wahmi dan teman-teman yang lain. Mereka mengingatkan dengan suasana desanya, orang-orang yang sederhana.
"Yun.. bisa tolong antar potongan buah-buahan ini ke meja makan. Sekalian dihidangkan ke piring-piring kecil ini ya.." kata Wahmi.
" Siiap mbak" Dengan bergegas Yuni membawa nampan berisi aneka potongan buah ke meja makan di mana para majikannya sedang menikmati hidangan.
" Duduk di sini Yuni.." perintah tuan besar Wang
"Baik.." Yuni pun mengambil kursi yang tersisa di dekat David dan duduk sambil menundukkan kepalanya.
" Bagaimana dengan kuliahmu?"
" Alhamdulillah lancar Opah... Nena selalu memberi kesempatan saya untuk belajar. Dukungan dari kalian juga menambah semangat saya untuk belajar lebih baik." kata Yuni.
" Bagus...! nanti jika waktunya tiba kamu bisa sambil magang di kantornya Koko."
" Terima kasih banyak Opah.."
"Iya. kami melihat potensi kamu. kami yakin kedepan kamu bisa menjadi seperti yang kamu cita-cita kan Yuni. Selagi ada kesempatan, gunakan dengan baik ya. Kami mempercayaimu." Tamba Grace menyemangati.
" Nanti kalau Opah dan Nena sudah pensiun, kamu ikut David kerja sa ja. toh di rumah juga ada banyak rewang yang bisa bantu-bantu aku." Yuni hanya mengangguk sambil tangannya menyajikan buah ke dalam piring-piring kecil untuk diberikan pada majikannya.
__ADS_1
"Aku sudah punya sekretaris pribadi Opah. tak perlu di tambah Yuni."
" Biar dia belajar Koh. kamu bisa taruh dia di bagian desain to..?" kata sang Opah.
" Baik, kalau di bagian desain saya kira tidak masalah." kata David akhirnya.
Opa menyudahi makan malamnya dan membawa piring buahnya ke kursi tengah. Mereka duduk sambil melihat tayangan berita TV lokal.
Yuni membantu membereskan meja makan. kemudian pamit untuk ke kamarnya guna menyelesaikan tugas kuliahnya.
Ketokan di pintu kamar Yuni membuyarkan konsentrasinya. David minta ijin masuk dengan membawa jus buah melon. Sebelum naik ke lantai atas tadi, David sempat minta tolong mbak Wahmi untuk membuatkannya jus. dan sekalian dia mintakan untuk Yuni.
"Makasih Koh.."
" kamu sedang belajar apa..?"
" Desain ini. bagaimana membuat rancangan untuk ruangan sesempit ini supaya terkesan luas. kamar ini untuk remaja putri. Koko ada ide..?" Yuni menjelaskan tugas kuliahnya. David membuatkan satu sketsa yang membuat Yuni terkagum-kagum.
" Ternyata mamang Koko sangat jago di bidang desain. tapi kok jurusan yang koko ambil management bisnis. kenapa tidak perdalam bidang desain..?" Tanya Yuni. David berdiri bersandar pada meja belajar di kamar Yuni.
"kamu tahu Yuni? aku adalah pewaris bisnis Opa yang mega besar. Proses desain bisa aku wakilkan orang lain, aku bisa pekerjakan orang lain. Tapi ilmu bisnis? aku harus memiliki dari basic sampai puncak. Supaya apa?
supaya aku bisa jalankan bisnis seandainya suatu ketika opah pensiun, atau dipanggil yang maha kuasa." David menanggapi pertanyaan Yuni dengan serius.
" iya. Kokoh betul. oh iya.. bagaimanapun terima kasih untuk hari ini ya koh.. sudah ajak Yuni piknik dan melihat danau yang indah."
"iya. kamu minum itu jusnya. jangan sampai lupa." kata David sambil berjalan keluar kamar Yuni.
"Besok Nena tidak ke kantor, katanya mau dirumah saja dan mere ka minta kamu ikut saya ke kantor. saya akan perkenalkan kamu sebagai anak magang." Kata David sambil membuka knob pintu.
" baik Koh. Besok saya tidak ada jadwal kuliah" kata Yuni.
Yuni menyeruput jus pemberian David.
eemmm segar... suasana malam yang cukup panas. Jakarta memang selalu panas. minum Juice kaya gini memang uhui. tahu saja bos itu dengan kebutuhanku... batin Sarah.
Siapa yang bisa menolak pesonamu koko David.. Wajah ganteng, dan hati yang baik menjadi perpaduan yang sangat sempurna.
...👀👀👀...
To Be Continue...
Baca terus #*A**nakBoskujadisuamiku*
#ningsriw25
__ADS_1
like, komen di setiap bab ya.